Melihat Masyarakat di Perbatasan Indonesia yang Amat Bergantung pada Malaysia

- detikNews
Sabtu, 17 Mei 2014 09:48 WIB
Sei Pancang - Kehidupan masyarakat Indonesia di perbatasan amat bergantung pada negara tetangga Malaysia. Tengok saja kehidupan keseharian masyarakat di Sei Pancang, Kalimantan Utara.

Mereka selalu membeli bahan makanan dari negeri jiran itu. Sebab jarak yang harus ditempuh untuk mencapai kota, yaitu Nunukan, jauh lebih lama dari pada jarak ke Malaysia.

Akses menuju Nunukan juga lebih sulit karena tak ada jalan darat menuju ke sana. Rata-rata warga menggunakan kapal untuk menuju Nunukan. Kampung ini dikelilingi hutan lebat dengan jalan yang masih kurang memadai.

"Karen itu kita banyak belanja di Malaysia, seperti minyak sayur, tabung gas dan gula. Gas kalaupun beli di Nunukan, asalnya juga dari Malaysia," kata Kepala Desa Sekaduyan Taka, Putra Sinar Jaya di Simanggaris, Nunukan, Kalimantan Utara, Jumat (16/5/2014).

Selain lebih dekat, harga barang di Malaysia juga lebih murah. Sebab biaya angkutnya lebih hemat. Kampung Serudong Laut, tempat mereka belanja di Malaysia juga masih berada dalam 1 pulau dengan Simanggaris.

Desa dengan jumlah penduduk 1.603 jiwa ini mayoritas berprofesi sebagai petani. Mereka banyak menanam sayuran untuk dikonsumsi dan sebagian dijual ke Malaysia.

"Waktu belanja tergantung kebutuhan. Tidak setiap hari, kadang seminggu sekali, kadang 2 minggu," kata pria yang telah 3 tahun menjadi kepala desa ini.

Meski demikian, pria asal Sulawesi Selatan ini mengaku sudah betah hidup di perbatasan. Ia bertekad membangun tanah tempat dibesarkannya itu.

"Saya sudah 25 tahun di sini, tidak ada rencana kembali ke Sulawesi. Saya mau perbatasan kita juga maju seperti perbatasan di Malaysia," ujarnya penuh semangat.



(kff/ndr)