Adu Pendapat Seputar Pilpres Soal Perjanjian Batu Tulis, Eva: Masa Tiba-tiba Poin Nomor Tujuh - detikPemilu

Soal Perjanjian Batu Tulis, Eva: Masa Tiba-tiba Poin Nomor Tujuh

- detikNews
Senin, 17 Mar 2014 19:05 WIB
Naskah perjanjian Batu Tulis
Naskah perjanjian Batu Tulis
Jakarta - Politikus PDI Perjuangan Eva Sundari menolak partainya disebut melanggar perjanjian Batu Tulis. Poin-poin lain yang tak terpenuhi dalam perjanjian itu otomatis menyebabkan perjanjian batal.

"Perjanjian itu berlaku pada Pileg 2009 dengan dikuatkan dengan poin nomor tiga yang menyebutkan kedua partai membentuk kabinet. Tapi masa tiba-tiba sekarang poin nomor tujuh ditagih," kata Eva saat berbincang, Senin (17/3/2014).

"Kita semua tahu, perjanjian hanya berlaku ketika keduanya berhasil memenangi Pilpres 2009. Jadi, ketika fakta itu tidak terjadi, dengan sendirinya perjanjian gugur dan tidak berlaku," imbuh anggota Komisi III DPR ini.

Eva menegaskan penilaian terhadap isi perjanjian itu harus kontekstual. Apalagi terkait perjanjian politik yang tiap detiknya bisa berganti konteks karena situasi yang dinamis. Menurut Eva, tidak ada koalisi parpol yang bersifat permanen.

"Di dunia mana pun, tidak ada koalisi antar-parpol yang bersifat permanen karena faktor pemilu yang uncontrollable, karena sering memberi kejutan. PDIP dan Gerindra juga tidak berkoalisi meski sama-sama oposisi selama ‎2009-2014," ujarnya.

Dia mengatakan akan jadi hal yang lucu jika PDIP di Pemilu 2014 ini mendukung pencapresan Prabowo. Sebab, selama ini PDIP telah berjuang untuk meningkatkan nilai di mata rakyat sendirian, tanpa ada bantuan dari parpol lain.

"Ibaratnya bercocok tanam selama 10 tahun, masa tinggal panen raya lalu diserahkan pada pesaing yang lebih kecil. Sebaiknya sekarang siapkan diri untuk bertarung di Pileg dan Pilpres saja,” tandasnya.

Pengamat Komunikasi Politik Universitas Paramadina Hendri Satrio, berpendapat, PDIP dan Gerindra akan menemukan solusi dari isu kisruh yang terjadi.

"Sebagai parpol besar, saya rasa baik PDIP atau Gerindra akan menemukan solusinya, selain itu masih perlu memperjelas perihal cerita pemberian mandat kepada Jokowi sebagai capres. Karena bila komunikasi politik ini tidak diperjelas maka PDIP kembali meninggalkan kisah drama seputar capres," terang Hendri dalam kesempatan terpisah.

Berikut isi lengkap kesepakatan Mega-Prabowo jelang Pilpres 2014 itu:

Kesepakatan bersama PDI Perjuangan dan Partai Gerindra dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia 2009-2014. Megawati Soekarnoputri sebagai calon Presiden dan Prabowo Subianto sebagai calon Wakil Presiden.

 1. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Partai Gerindra) sepakat mencalonkan MEgawati Soekarnoputri sebagai calon presiden dan Prabowo Subianto sebagai calon wakil presiden dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2009.

2. Prabowo Subianto sebagai Wakil Presiden, jika terpilih mendapatk penugasan untuk mengendalikan program dan kebijakan kebangkitan ekonomi Indonesia yang berdiri di atas kaki sendiri, berdaulat di bidang politik danberkepribadian nasional di bidang kebudayaan dalam kerangka sistem presidensial. Pengumuman pencalonan calon presiden dan calon wakil presiden serta akan dituangkan dalam produk hukum yang sesuai perundang-undangan yang berlaku.

3. Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto bersama-sama membentuk kabinet berdasarkan pada penugasan butir 2 di atas. Prabowo Subianto menenutkan nama-nama menteri yang terkait, menteri-menteri tersebut adalah: Menteri Kehutanan, Menteri Pertanian, Menteri Keuangan, Menteri BUMN, Menteri ESDM, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Perindustrian, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Hukum dan HAM, dan Menteri Pertahanan.

4. Pemerintah yang terbentuk akan mendukung program kerakyatan PDI Perjuangan dan 8 program aksi Partai Gerindra untuk kemakmuran rakyat.

5. Pendanaan pemenangan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009 ditanggung secara bersama-sama dengan prosentase 50% dari pihak Megawati Soekarnoputri dan 50% dari pihak Prabowo Subianto.

6. Tim sukses pemenangan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dibentuk bersama-sama melibatkan kader PDI Perjuangan dan Partai Gerindra serta unsur-unsur masyarakat.

7. Megawati Soekarnoputri mendukung pencalonan Prabowo Subianto sebagai Calon Presiden pada Pemilu Presiden tahun 2014.

Jakarta 16 Mei 2009

Megawati Soekarnoputri (Tandatangan di atas materai)
Prabowo Subianto




(trq/van)