Ini Jawaban Menlu Marty Terkait Nasib Dubes RI Untuk Australia

- detikNews
Selasa, 18 Feb 2014 17:31 WIB
Jakarta - Komisi III DPR RI menggelar rapat kerja bersama Menlu Marty Natalegawa sebagai mitra. Dalam rapat tersebut, dibahas pula tentang hubungan Indonesia dan Australia pasca kasus penyadapan terbaru dan penyelundupan manusia.

Anggota Komisi III DPR RI Helmy Faisal bertanya kepada Menlu Marty terkait status Dubes Indonesia untuk Australia Nadjib Riphat. Nadjib ditarik dari Canberra saat kasus penyadapan Australia pada Presiden SBY terkuak di November 2013.

"Dubes RI untuk Australia bagaimana kelanjutannya? Sudah banyak tindakan tapi kesannya Australia tidak bergeming. Ini butuh respons yang tegas," kata Helmy di Ruang Rapat Komisi I DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (18/2/2014).

Marty menjawab bahwa langkah-langkah Indonesia pada Australia sudah terukur dan terus ditingkatkan sesuai perkembangan. Ia menolak bila dikatakan pemerintah Indonesia terkesan ragu-ragu.

"Kita tidak bisa mengobral semua langkah kita. Langkah-langkah kita terukur. Itu bukan menunjukkan keragu-raguan tapi sistematis dan terencana," jawab Marty.

Marty menegaskan bahwa pemerintah Australia harus menuntaskan 6 syarat yang diberikan Presiden SBY untuk memulihkan hubungan diplomatik kedua negara. Saat ini, Australia belum menjalankan semua syarat-syarat tersebut sehingga tak bisa dilanjutkan ke tahap penyusunan code of conduct.

"Perlu ada pemulihan kembali hubungan Indonesia dan Australia sebelum penyusunan code of conduct. Itu mudah tapi kita harus pastikan berbagai hal-hal yang mungkin masih akan terungkap harus kita ketahui. Kita tidak tergesa-gesa maju ke penyusunan code of conduct. Kita tidak mau maju lalu muncul berita penyadapan lagi dan proses ini terganggu," paparnya.

Terkait nasib Dubes RI untuk Australia, Marty menegaskan bahwa ia masih di Jakarta hingga saat ini dan tidak akan kembali ke Australia dalam waktu dekat.

"Pada saat ini belum merasa pas untuk balik. Kalau kembali, sifatnya masih sementara. Belum kembali in full tapi sesuai keperluan. Bisa kembali ke Australia untuk tugas-tugas konsolidasi," ujar Marty.



(rvk/rvk)