Gagalnya Rekayasa Cuaca

Ini Penyebab Gagalnya Rekayasa Cuaca

- detikNews
Rabu, 05 Feb 2014 17:24 WIB
Banjir di salah satu kawasan di Jakarta. (foto - detikcom)
Jakarta - Andi Eka Sakya bisa merasakan sulitnya rekayasa cuaca di daerah Jakarta. Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ini pun bisa memaklumi kendala yang dihadapi Badan Pengkajian dan Penerepan Teknologi.

Menurut Andi, proses pertumbuhan awan hujan di Jakarta dan sekitarnya meningkat dalam waktu cepat. Dalam kondisi ini dibutuhkan upaya yang lebih besar untuk menyemai awan, termasuk memperhitungkan armada pesawat yang akan digunakan.

Tantangan lainnya adalah keadaan alam yang tidak memungkinkan untuk menjatuhkan hujan tersebut. Misalnya awan hujan di daerah Selat Sunda yang kemudian masuk ke Jakarta, juga kebanyakan terjadi pada malam hari.

Faktor tersebut mempersulit tim untuk mendeteksi lokasi awannya meski sudah ada bantuan radar dari BMKG. “Dengan bantuan radar dari BMKG kita bisa melokasi awan. Persoalannya adalah terbang menuju awan itu, kalau malam akan jadi masalah besar. Kalau siang hari barangkali bisa, tapi kalau malam sulit mencari lokasinya dengan tepat, apalagi kalau di atas kita menghadapi kecepatan angin yang tidak lamban,” kata Andi kepada detikcom, Selasa (4/2) kemarin.

Dia mencontohkan pada tanggal 17 Januari lalu awan di atas langit Jakarta sangat massif sekali. Sehingga dibutuhkan upaya menambah jumlah NaCL yang harus ditebar untuk menyemai awan. Tujuannya agar awan hujan bisa dijatuhkan di tempat yang dikehendaki.

“Tentu mereka (BPPT) juga memperhitungkan parameter cuaca misalnya kecepatan angin, pergerakan awan, dan besarnya awan, serta bolak-baliknya pesawat,” kata Andi.

Menurut Andi rekayasa cuaca oleh BPPT berhasil mengurangi intensitas hujan yang potensial memperparah banjir di Jakarta. “Kita bisa mengurangi 22 persen banjir. Tapi karena masifnya awan, saya melihatnya bukan gagal tapi karena memang tantangannya begitu besar,” papar Andi.

Rabu pagi tadi hujan lebat kembali melanda sebagian wilayah Jakarta. Sejumlah pemukiman warga terendam banjir. Beberapa saluran dan sungai tak mampu menampung air. Wal hasil air meluber hingga ke jalanan dan menimbulkan kemacetan di beberapa titik.

Tri Handoko Seto, peneliti Meteorologi BPPT mengatakan hujan deras yang mengguyur Ibu Kota pagi tadi karena adanya tumpukan awan utara Jakarta.

"Dari citra radar nampak bahwa keberadaan awan hanya ada di wilayah Jakarta, tidak nampak awan yang berada di hulu Jakarta," kata Tri Handoko Seto melalui keterangan tertulisnya hari ini.



(ros/erd)