Gagalnya Rekayasa Cuaca

Proyek Rekayasa Hujan Tergantung Jokowi

- detikNews
Rabu, 05 Feb 2014 16:18 WIB
Proses teknologi modifikasi cuaca. (Foto : BPPT
Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengakui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) memang tidak mungkin mampu menuntaskan persoalan banjir di Jakarta. Tapi, setidaknya dapat mengurangi tingkat airnya. Dalam kurun 7 hari pertama, sejak 14 Januari lalu, teknologi ini mampu mengurangi sebesar 22 persen.

Namun Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengaku belum mengetahui untuk kondisi yang saat ini. "Sekarang belum tahu. Itu mengurangi dampaknya, dari 100 milimeter, dikurangin saja," kata Sutopo saat dihubungi detikcom, Rabu (05/02/2014).

Sutopo menekankan Jakarta dan juga sekitarnya pasti tetap bakal dilanda banjir meskipun dilakukan modifikasi cuaca. "Pasti banjir, selama kondisi penataan sungainya belum sesuai dengan plan. Kita mengurangi dengan TMC,” ujarnya.



Lebih lanjut dia menuturkan BNPB akan tetap mengambil langkah-langkah untuk mengantisipasi hujan yang diprediksi akan tetap turun hingga bulan depan. Yaitu dengan tetap melakukan TMC hingga pertengahan Maret ke depan.

“TMC masih terus sampai pertengahan Maret. Tergantung Pak (Gubernur DKI) Jokowi, kalau statusnya sampai pertengahan Februari, kita sampai Februari,” ujar Sutopo menjelaskan.

Serupa dengan BNPB, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Andi Eka Sakya, mengatakan bagaimanapun juga upaya teknologi rekayasa cuaca telah membantu mengurangi intensitas hujan yang potensial memperparah banjir di ibu kota.

“Apa yang disampaikan Pak Heru (Kepala UPT Hujan Buatan BPPT) cukup membantu karena dia menyatakan akhirnya kita bisa mengurangi 22 persen banjir,” kata Andi
ketika dihubungi detikcom, Selasa (04/02/2014). "Dengan bantuan radar dari BMKG kita bisa melokasi awan," ujarnya menambahkan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melakukan beberapa usaha untuk mengatasi bencana banjir, salah satunya meminta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi untuk merekayasa cuaca.

Namun rekayasa dengan anggaran Rp 20 miliar itu dinilai belum optimal. Terbukti, hujan lebat tetap mengguyur dan membuat banjir sebagian wilayah Jakarta, khususnya pada medio Januari lalu.




(brn/brn)