Gagalnya Rekayasa Cuaca

Kegagalan Merekayasa Hujan Disorot Badan Penanggulangan Bencana

- detikNews
Rabu, 05 Feb 2014 12:49 WIB
Proses teknologi modifikasi cuaca. (Foto : BPPT)
Jakarta - Kegagalan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Hujan Buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam merekayasa hujan disoroti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Seharusnya UPT Hujan Buatan BPPT tetap fokus pada Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, menekankan banjir Jakarta merupakan masalah yang kompleks sehingga UPT Hujan Buatan BPPT harus konsentrasi pada modifikasi cuaca.

Sutopo mengkritik pernyataan Kepala UPT Hujan Buatan BPPT, F. Heru Widodo, yang beralasan tidak maksimalnya rekayasa cuaca karena kurangnya jumlah pesawat yang digunakan untuk menabur garam di awan dan juga terkait hujan yang sering turun pada malam hari.

"Pak Heru gak usah menyampaikan seperti itu. BNPB memerintah untuk melakukan teknologi modifikasi cuaca dan membiayainya," kata Sutopo saat dihubungi detikcom, Rabu (05/02/2014).




Sutopo menegaskan seharusnya UPT Hujan Buatan BPPT bekerja seserius mungkin.
Soal banjir Jakarta pasti terjadi selama kondisi penataan sungainya belum sesuai dengan rencana.

"Jadi, jangan dicampuradukkan semuanya, (masalah) banjir itu sangat kompleks. Tata ruang, amblesen mana, dan lain-lain. Pak Heru fokus saja ke teknologi modifikasi cuaca,” ujar Sutopo mengingatkan.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Andi Eka Sakya memaklumi kendala yang dihadapi BPPT. Menurut Andi, proses pertumbuhan awan hujan memang meningkat di kawasan Jakarta dan sekitarnya.

"Dalam kondisi ini dibutuhkan upaya yang lebih besar untuk, termasuk perlu memperhitungkan armada pesawat penyemai bahan garam," ujar Andi ketika dihubungi detikcom, Selasa (04/02/2014).

Sebelumnya, kepala UPT Hujan Buatan BPPT Heru Widodo mengatakan idealnya diperlukan enam kali penerbangan untuk menyemai bahan garam. Persoalannya, pesawat yang digunakan untuk menyemai hanya satu, dan baru sejak Kamis kemarin mendapat tambahan satu pesawat Cassa. Akibatnya, intensitas penyemaian garam pun menjadi terbatas.



(brn/brn)