DetikNews
Kamis 23 Januari 2014, 19:27 WIB

Proyek Sodetan Ciliwung

Firdaus Ali: Jangan Berharap Banyak Pada Ciliwung-Cisadane

- detikNews
Firdaus Ali: Jangan Berharap Banyak Pada Ciliwung-Cisadane Luapan Kali Ciliwung
Jakarta - Kali Ciliwung, kali yang pantas disanjung. <\/em>
Terletak di tengah-tengah kota<\/em>
Ibu Negeri Indonesia<\/em>
Air mengalir<\/em>
Deras menuju ke hilir<\/em>
Membawa semua kenang-kenangan<\/em>
Kebahagiaan nan silam <\/em>

Penggalan bait lagu keroncong berjudul \\\'Kali Ciliwung\\\' itu dinyanyikan oleh mantan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim saat datang ke Jakarta 2007 lalu. Sang ibu kerap mendendangkan lagu tersebut saat dia masih kecil.

Anwar Ibrahim pun merasa dibesarkan oleh \\\'Kali Ciliwung\\\'. Saat pertama kali ke Jakarta, satu tempat yang ingin sekali dia kunjungi adalah sungai sepanjang 120 kilometer itu. Sayang bayangannya tentang kali tersebut tak seindah lagu keroncong yang sering didendangkan sang Ibu.

Kini Kali Ciliwung dikenal karena airnya yang kotor, dan menjadi penyebab banjir di musim hujan. Pemerintah DKI Jakarta pun seolah kewalahan menghadapi banjir yang seolah jadi langganan setiap tahun. Demi “menjinakkan” kali Ciliwung, sejumlah gagasan yang sudah lama pun kembali dikaji, salah satunya sodetan Ciliwung-Cisadane.

Tetapi, Anggota Dewan Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta, Firdaus Ali mengatakan ia pesimistis sodetan di hulu Ciliwung ini bisa direaliasikan. “Saya bukan menolak, tapi jangan berharap terlalu jauh nanti kecewa. Banyak hal yang harus dipertimbangkan,” kata dia saat dihubungi detikcom, Selasa (21\/1) kemarin.

Menurut Firdaus, jika air Ciliwung disodet ke Cisadane, maka banjir di wilayah Tangerang akan makin parah. Pasalnya beban air di kali tersebut, saat ini mencapai 1600 meter kubik per detik. Angka tersebut hampir mencapai kapasitas maksimum kali Cisadane yang 1900 meter kubik per detik.

Rencana penambahan 200 meter kubik per detik melalui sodetan Ciliwung, akan menganggu neraca air di Cisadane. Sehingga yang akan terdampak adalah Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan. “Bahasa gamblangnya akan membuat banjir di kawasan Tangerang,” kata Firdaus.

Peneliti dan pengajar Program Studi Teknik Lingkungan di Fakultas Teknik Universitas Indonesia itu menawarkan solusi untuk menjinakkan Ciliwung, yakni dengan penataan di hulu sungai. “Paling tepat adalah mengendalikan pemanfaatan ruang di atas. Selama ini ruang terbuka hijau yang jadi resapan air sudah hilang, harusnya itu yang dikejar dulu,” kata dia.

Bentuk konkret solusi ini yakni menghutankan kembali kawasan yang selama ini dikonversi jadi daerah terbangun. Selain itu, membangun waduk, embung, dan situ untuk meningkatkan daya tampung guna menahan air sebelum melimpas ke hilir.

Namun, lagi-lagi solusi ini pun tak mudah. Selain butuh waktu yang tidak cepat, perlu komitmen kuat dari pemerintah setempat. “Itu tak mudah, bayangkan saja kalau kawasan itu sudah terbangun lalu dirontokkan semua, itu kan hal yang paling sulit dilakukan,” kata Firdaus.

Memang butuh waktu lama untuk kembali menjadikan Kali Ciliwung pantas untuk disanjung, dan dikenang.





(erd/erd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed