Kontroversi Lurah Susan

Lurah Cantik Didemo, Pelayanan E-KTP Terganggu

- detikNews
Kamis, 03 Okt 2013 12:59 WIB
Aksi unjuk rasa menolak Lurah Susan Jasmine. (Foto: detikcom)
Jakarta - Sejak mulai menjabat sebagai Lurah Lenteng Agung, sudah tiga kali Susan Jasmine Zulkifli didemo oleh sejumlah warga. Mereka yang tergabung dalam Forum Warga Lenteng Agung menggelar demo pertama kali pada 26 Agustus 2013 di Balai Kota, Jakarta.

Dua aksi berikutnya, yakni tanggal 28 Agustus dan terakhir 25 September digelar di depan Kantor Kelurahan Lenteng Agung. Namun sebagian besar warga Lenteng Agung mengaku justru terganggu dengan aksi demo menolak lurah berparas cantik tersebut.

Mantan Ketua RT 04 RW 05 Kelurahan Lenteng Agung yang juga sesepuh warga H. Abdul Rahman (64 tahun), mengatakan aksi demo menolak Lurah Susan itu sempat mengganggu pelayanan administrasi warga.

“Ya iya lah (mengganggu). Anak saya mau bikin E-KTP sudah datang di depan kelurahan sampai enggak jadi. Ini bagaimana kok sampai segitunya,” kata pria yang bisa dipanggil Maman ini kepada detikcom, di rumahnya Lenteng Agung, Jakarta Selatan Selasa (1/10) lalu.

Maman mengaku tak mempermasalahkan agama yang dianut Lurah Susan. Apalagi karakteristik warga Lenteng Agung sudah multi etnis. Tidak hanya Betawi, namun suku lain seperti Jawa, Sunda, hingga Medan sudah menetap di Lenteng Agung sejak pertengahan 1990-an.

Yang terpenting menurut dia seorang lurah harus bisa membawa perubahan bagi pelayanan terhadap warga.

Secara pribadi Maman melihat sosok Susan adalah pamong yang bisa membaur dengan warga.


Tidak ada sikap kaku meski kadang sejumlah warga antipati karena diajak kerja bakti pada hari Minggu untuk persiapan Piala Adipura.

Bahkan secara gamblang, ia membandingkan dengan lurah Lenteng Agung sebelumnya yang kaku dan tidak low profile. “Kalau lurah yang lama boro-boro datang lihat langsung warga. Saya saja kalau ke kantor Kelurahan jarang lihat dia,” kata Maman.

Ketua RT 13 RW 05 Lenteng Agung, Muhayar (73 tahun), juga tak mempermasalahkan agama yang dianut Lurah Susan. Apalagi sejak dipimpin Lurah Susan, pelayanan administrasi di Lenteng Agung makin membaik.

Menurut dia sistem pelayanan di kantor kelurahan yang dipimpin Susan lebih cepat dibandingkan zaman lurah sebelumnya. “(kinerja Susan) Bagus-bagus saja. Sering lihat dia pakai mobil dinas itu kalau mau ke luar kantor siang hari,” kata Muhayar kepada detikcom.

Muhayar dan Maman berharap Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) bisa segera menyelesaikan persoalan ini. Mereka menyambut baik rencana Jokowi yang akan mengundang warga penolak Lurah Susan untuk makan siang bersama. “Ya cepatan saja supaya kelar dan enggak ada gesekan-gesekan lagi,” kata Muhayar.

Sementara menurut Koordinator Forum Warga Lenteng Agung Nasri Nasrullah penolakan terhadap Lurah Susan sudah terjadi sejak awal pelantikan oleh Jokowi. Dia menyesalkan sistem lelang jabatan yang tidak memperhatikan aspirasi warga Lenteng Agung.

Menurut Nasri, persoalan ini penting karena mayoritas warga Lenteng Agung muslim. Apalagi dalam sejarah Lenteng Agung selalu dipimpin oleh seorang lurah yang beragama Islam.
(erd/erd)