Gerwani dan Tragedi 1965

Kisah Wartawati Kesayangan Bung Karno

- detikNews
Senin, 30 Sep 2013 17:12 WIB
Sri Sulistyawati (tengah berkacamata) bersama mantan tahanan politik bernostalgia dan berbagi cerita saat masa-masa mereka menjadi tahanan politik dimasa Orde Baru. (Foto: ramses/detikcom)
Jakarta - Sri Sulistyawati (72 tahun), hanya bisa tertegun di depan kantornya di jalan Asemka nomor 29-30, Jakarta Barat pada awal Oktober 1965. Kantor koran Warta Bhakti tempat dia bekerja sebagai penulis itu dijaga ketat oleh tentara.


Sejumlah aparat keamanan menjaga kantor Koran Warta Bhakti karena dianggap ikut menyiarkan isu Dewan Jenderal.

Awalnya Sri adalah wartawan Warta Bhakti yang bertugas meliput isu-isu ekonomi. Dia sering menjelajah pasar-pasar untuk menulis soal harga kebutuhan pokok masyarakat. Namun di awal tahun 1965 Presiden Sukarno meminta Sri meliput isu-isu politik.

“Kamu tulis masalah politik, temani itu Soebandrio,” kata Presiden Sukarno kepada Sri. Soebandrio saat itu menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri I. Sri, yang oleh Presiden Sukarno biasa dipanggil Cenil pun meliput mulai menulis soal isu-isu politik.

Presiden Sukarno awalnya mengenal Sri sebagai penari di Istana Negara. Pada tahun 1951 dia sering membawakan tari topeng di hadapan presiden. Tak hanya tari, siswi salah satu sekolah menengah pertama di Cirebon, Jawa Barat itu juga mahir bermain angklung.

Dua kemahiran itu lah yang menyebabkan nama Sri begitu dikenal oleh Sukarno. Dia pun menjadi salah satu wartawati kesayangan Bung Karno. Bahkan Bung Karno yang biasanya ceplas-ceplos kalau bicara soal wanita, begitu ada Sri langsung mengalihkan pembicaraan.


“Awas-awas ada Cenil, kita ngomong yang lain aja,” kata Sukarno seperti ditirukan Sri kepada detikcom, di Kramat VII, Jakarta Pusat Sabtu (14/9) lalu.

Tak hanya di bidang kesenian, Sri juga aktif di Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia. Kegiatannya di bidang organisasi ini lah yang kemudian mempertemukan dia dengan Sukatno, Ketua Pemuda Rakjat. Mereka berdua akhirnya menikah.

Sukatno aktif di Pemuda Rakjat, sementara Sri disebut turut membidani lahirnya Gerwani cabang Jakarta. Setelah tragedi 1965 meletus, pemerintah Orde Baru menjebloskan pasangan suami istri itu ke dalam penjara. Sri yang dianggap pendukung setia Sukarno dimasukkan ke penjara Bukit Duri.

Sebelum ke Rumah Tahanan Bukit Duri, Sri ditahan di Gang Buntu, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di Gang Buntu ini lah Sri mengalami berbagai penyiksaan. “Ini gigi saya habis karena disiksa, pernah disetrum,” kata Sri.

Dari Gang Buntu, Sri dipindahkan ke Rumah Tahanan Bukit Duri, di Jakarta Selatan. Tak ada lagi penyiksaan tapi para tahanan diperlakukan secara tidak manusiawi. "Di Bukit Duri tak ada penyiksaan, tapi kami makan dengan pinset karena nasinya dicampur dengan beling dan pasir,” kata Sri.

Menurut dia, pemerintah Orde Baru memang ingin tahanan politik ini mati secara pelan-pelan. Tahun 1979 Sri dan semua tahanan politik dibebaskan.


(erd/erd)