DetikNews
Selasa 20 Agustus 2013, 11:59 WIB

Membongkar Penipuan Berkedok SMS

Ditelepon dan Dihipnotis, Kena Tipu Rp 50 Juta

- detikNews
Ditelepon dan Dihipnotis, Kena Tipu Rp 50 Juta Fotografer - E Mei Amelia R
Jakarta - Raisya, 22 tahun, tak pernah membayangkan ia bakal tertipu saat telepon di rumah kakeknya berdering di siang bolong, setahun silam. Panggilan itu diangkat oleh eyangnya. Suara di seberang, yang mengaku dari lembaga penjamin uang pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) guru, membawa kabar yang menggiurkan.

\\\"Bapak ini lagi ada bagi-bagi bonus buat para pensiunan guru dan diakumulasi jumlahnya. Kalau bapak nanti akan dapat uang pensiunan sekitar Rp 46 juta ditambah uang lainnya jadi sekitar Rp 50 juta,\\\" kata Raisya menirukan suara penelepon.

\\\"Namanya kakek sudah tua gitu dan enggak ngerti jadi (teleponnya) dikasih ke gue. Enggak tau kenapa gue ikutin aja dipandu sama dia,\\\" ujar Raisya lagi menceritakan pengalamannya seperti kena hipnotis kepada detikcom, kemarin.

Musibah itu pun dimulai. Wanita asal Depok, Jawa Barat, itu digiring ke ATM lalu dipandu untuk memasukkan kode-kode tertentu. \\\"Sampai di ATM, setelah masukin PIN, disuruh pilih transaksi, terus pilih transaksi ke bank lain. Pas di bagian \\\'masukkan nomor rekening dan nominal uang\\\', di sana baru masukin \\\'kode\\\'nya secara acak,\\\" kata dia.

Awalnya Raisya sempat bertanya namun buru-buru diyakinkan bahwa itu adalah kode untuk mengeset agar uang pensiun dimaksud langsung masuk ke rekening sang kakek.

Transaksi itu dilakukan sebanyak dua kali. Total uang yang ditransfer hampir Rp 50 juta. \\\"Yang pertama lebih dari Rp 35 juta, kedua sekitar Rp 10 juta. Sesudah itu dia bilang tunggu konfirmasi, pukul setengah tiga uangnya akan cair. Pas nunggu-nunggu itu baru nyadar bahwa keduanya transkaksi itu adalah transfer,\\\" kata dia.

Sayangnya, kenyataan itu hanya bisa membuatnya gigit jari. Bahkan usaha untuk mengadu ke polisi pun tak membuahkan hasil. Yang ada, dia malah makin miris. \\\"Polisi malah ngelempar-lempar kita. Dari Polres bilang alat pelacaknya ada di Polda, pas dah di Polda eh bilang enggak punya alat pelacak, adanya di Densus 88. Terus sambil cengegesan mereka bilang \\\'Itu sih sudah biasa banget, sudah motif umum, susah melacaknya, gitu,\\\" kata dia dengan nada suara meninggi.

*****

Gurat kekesalan di wajah Ade Martha, 35 tahun, masih tampak terpancar. Hampir saban hari dia mengaku menerima SMS penipuan dengan aneka rupa isi pesan itu. \\\"Paling banyak dari nomor kartu XL. Kalau dulu-dulu aku balas \\\'Buat kamu saja ya, Aku uangnya udah banyak banget. Kalau masih kurang nanti aku kasih lagi\\\'. Kalau sekarang langsung aku hapus saja,\\\" kata Ade dengan nada ketus mengisahkan pengalamannya kepada detikcom, kemarin.

Dia menceritakan, salah satu kakaknya pernah hampir tertipu dengan modus serupa. Setahun lalu, Rusmanto Rahadi, 42 tahun, kakak Ade yang tinggal di Tangerang, tiba-tiba dibilang dapat hadiah Rp 45 juta. \\\"Si penipu itu minta duit sebagai imbalannya, tapi aku lupa jumlahnya berapa. Dia nelepon lama banget,\\\" ujar Ade. Untungnya Rusmanto tidak tergiur.

Efron Paulus, 25 tahun, pun pernah hampir jatuh ke dalam lubang yang sama. Enam tahun lalu, ia girang bukan main saat tiba-tiba sebuah pesan pendek masuk ke nomor selulernya. \\\"Selamat Anda dapat hadiah mobil,\\\" begitu kurang lebih isi pesannya. Didorong penasaran dan rasa ingin tahu, pria yang bekerja di perusahaan pembiayaan di Jakarta ini menghubungi si pemberi pesan.

\\\"Yang angkat telepon cowok, dia nyuruh transfer uang, ternyata itu penipuan, langsung aku matikan teleponnya. Enggak betul itu kalau minta setor duit dulu,\\\" kata dia kepada detikcom, kemarin. Hingga kini ia masih sering dapat SMS penipuan dengan pesan yang mirip. Efron memang tak lagi pernah terperdaya pada isi pesan tipu-tipu itu, namun SMS yang silih berganti masuk mengganggu kenyamanan. \\\"Asal ada SMS gitu langsung ku delete SMS-nya.\\\"

*****

SMS penipuan juga sering singgah di nomor pribadi Riza Firmansyah, 22 tahun, seorang pegawai negeri sipil salah satu kementerian di Jakarta. Tapi ia mengaku tak pernah dibuat pusing karena sudah mengenali tipe-tipe SMS penipuan. \\\"Aku cuekin saja, langsung dihapus tanpa baca sampai habis. Enggak usah direspons karena enggak ada untungnya juga kalau dibalas,\\\" kata dia kepada detikcom, kemarin.

Meski tak pernah ada pengalaman penipuan secara langsung, Riza mengaku tak pernah percaya pada isi SMS tersebut. \\\"Logikanya, nomor provider itu gak pernah dipakai untuk pengumuman undian. Misalnya, Telkomsel tidak akan pernah SMS pakai nomor Telkomsel 0852xxx atau 0853xxx. Biasanya otomatis ada tulisan \\\'Telkomsel\\\' di nama pengirim atau nomornya hanya beberapa digit seperti 888.\\\"

\\\"\\\"





(brn/brn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed
>