Jelang Laporan KNKT

Terbang Gembira Sukhoi Superjet 100 Itu Menjadi Duka Cita

- detikNews
Selasa, 18 Des 2012 10:03 WIB
Jakarta - Hari itu Rabu 9 Mei 2012, menjelang sore. Sukhoi Superjet 100 sedang mengadakan terbang gembira alias joy flight yang kedua. Namun pesawat dengan 45 penumpang yang ditunggu-tunggu itu ternyata tak pernah muncul lagi di Bandara Halim Perdanakusuma.

Pada pukul 14.28 WIB, kontak terakhir diterima ATC dari pilot pesawat Sukhoi untuk turun ke 6 ribu kaki dan diizinkan. Pesawat itu hilang dari radar pada pukul 14.50 WIB. Kecemasan pun menguar di antara tamu undangan yang tengah menanti di Halim.

Pesawat dikabarkan hilang kontak hingga pada pukul 16.00 WIB, Basarnas memulai operasi SAR. Belum diketahui lokasi jatuhnya pesawat hingga keesokan harinya tanggal 10 Mei 2012, pukul 08.35 WIB, titik tumbukan Sukhoi diketahui. Menurut laporan Basarnas, koordinat jatuhnya Sukhoi adalah 06° 42’ 36” Lintang Selatan dan 106° 44’ 41” Bujur Timur. Tepatnya, di punggung Gunung Salak berketinggian 6 ribu kaki dengan kemiringan 85 derajat. Tak ada badan pesawat utuh, yang ada hanya puing-puing.

Pencarian besar-besaran pun dikerahkan setelah itu. Ratusan orang dari Basarnas, TNI hingga komunitas pecinta alam dari masyarakat dan perguruan tinggi membantu pencarian mengingat korban yang berjumlah 45 orang dari multinegara, 35 orang Indonesia, 8 warga Rusia, seorang WN AS dan seorang WN Prancis.

Posko Terpadu pun langsung dibuka di Bandara Halim Perdanakusumah untuk pengaduan para keluarga penumpang Sukhoi. Keluarga diminta menyerahkan ciri-ciri fisik antemortem dan foto, juga diminta data DNA-nya.

Di media massa, tersebar foto-foto terakhir kru pesawat yang dikomandoi Aleksandr Yablontsev. Mengenakan kacamata hitam, Aleksandr Yablontsev tertawa lebar. Bersama Aleksandr Kochetkov, ia diapit dua pramugari cantik berpose di depan pesawat Sukhoi Superjet 100. Pose itu diambil sebelum Yablontsev menerbangkan pesawat komersial buatan Rusia itu. Foto pramugari-pramugari cantik dari Kartika Airlines dan SkyAviation pun turut serta menyunggingkan senyum terakhir mereka.

Presiden SBY pun pada hari Jumat itu langsung menginstruksikan pencarian Sukhoi sampai tuntas. "Karena bagi saya harus sampai tuntas pencarian ini," ujar SBY di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Jumat (11/5/2012).

SBY menegaskan jangan ada informasi yang simpang siur di media massa. "Jangan ada informasi yang simpang siur dan berita menyesatkan karena itu tidak baik. Tuhan tidak suka," tegasnya.

Komandan pencarian korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100, Kolonel Inf AM Putranto mengatakan, untuk menunjang proses evakuasi korban, tim SAR gabungan sudah menyiapkan 25 ambulans dan 8 helikopter yang direncanakan dilakukan, Jumat, 11 Mei 2012 siang. Penambahan helikopter untuk membantu evakuasi korban karena posisi jatuhnya pesawat berada di lembah Cibadak, Desa Pasirjaya, Kecamatan Cijeruk.

Hari itu pula, 12 korban pertama Sukhoi ditemukan. Tidak ada satu jasad pun yang ditemukan utuh. Pencarian terus dilakukan hingga 29 Mei 2012. Semua jasad ditemukan tidak utuh, dan harus melalui uji DNA yang dilakukan di RS Polri Said Sukanto, Kramatjati, Jakarta Pusat.

Tenaga forensik yang dilibatkan tak tanggung-tanggung, selain dari Polri juga ada tenaga forensik dari berbagai fakultas kedokteran di Indonesia seperti Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, Universitas Padjajaran, Universitas Brawijaya, Eijkman Institute dan beberapa dokter dari Banten.

Pada 12 Mei 2012, identifikasi korban Sukhoi dimulai. Tim Disaster Victim Identification (DVI) RS Polri Kramatjati menyatakan proses identifikasi jenazah korban Sukhoi Superjet 100 bisa selesai dalam waktu 2 minggu.

Pencarian korban pun berlangsung selama hampir 3 pekan. Kisah-kisah sedih, inspiratif, ketabahan dan keikhlasan dari keluarga korban mengoyak hati seluruh warga Indonesia di seluruh bulan Mei itu. Pun juga kegusaran mengenai masalah keselamatan transportasi di negeri ini.

Cockpit Voice Recorder (CVR) Sukhoi ditemukan dalam keadaan hangus dan peyot pada 15 Mei 2012. Namun kondisi alat perekam di dalamnya cukup baik. Sedangkan FDR, menyusul ditemukan setengah bulan kemudian, pada 31 Mei 2012. Tak seperti CVR, FDR itu ditemukan dalam kondisi bagus.

Pencarian korban akhirnya dihentikan resmi pada 18 Mei 2012. Korban selesai diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga pada 23 Mei 2012.

Hari ini, 18 Desember 2012, 7 bulan setelah kecelakaan itu, KNKT akan merilis laporan final kecelakaan itu. Semoga bisa mengungkap penyebab kecelakaan sebagai penghormatan atas nyawa ke-45 korban terbang gembira Sukhoi yang berubah menjadi duka cita.


(nwk/nrl)