Prayitno & Teddy, 2 Pesilat yang Siap Pimpin Jakarta

- detikNews
Minggu, 15 Jan 2012 12:22 WIB
Jakarta - Anak Kemayoran ini berniat ambil bagian dalam pemilukada DKI Jakarta melalui jalur independen. Dialah Marsda (Purn) Prayitno Ramelan yang menggandeng Teddy Suratmadji untuk berkompetisi di pemilukada DKI.

Selain memiliki visi dan misi yang sama, Prayitno dan Teddy memiliki kesamaan lain yaitu sama-sama bisa silat. Tak heran dalam deklarasinya pada hari ini di Padepokan Pencak Silat Asad, kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, keduanya akan memamerkan beberapa jurus silat.

"Kami kebetulan bisa silat. Jadi dua pesilat siap pimpin Jakarta," ucap Pray dalam perbincangan dengan detikcom, Minggu (15/1/2012).

Keduanya mengusung tagline 'Berangkat dengan bismillah, tegas dan independen'. Jika dipercaya memimpin Jakarta keduanya akan meneladani kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang jujur, dapat dipercaya, mendengarkan keluhar masyarakat dan bertanggung jawab.

"Yang tidak kalah penting adalah komunikasi antara pemimpin dengan rakyatnya. Saya yang rakyat biasa ini hanya ingin mengajak rakyat lainnya di Jakarta untuk lebih membangun Jakarta bersama-sama. Karena untuk membangun sesuatu itu tidak bisa dilakukan sendiri," tutur Pray.

Saat ini Pray dan Teddy tengah sibuk mengumpulkan 400 ribu KTP warga DKI. Dengan modal pertemanan, mereka mengumpulkan dukungan.

"Saya ini cuma rakyat biasa, punyanya hanya teman. Bukan persoalan mudah mengumpulkan 400 ribu KTP. Kita masih bergerak, mudah-mudahan minggu depan gambarannya sudah ada. Saya mengandalkan pertemanan saja," tutur Pray.

Pengamat intelijen ini yakin tim suksesnya mampu mengumpulkan 400 ribu KTP. Dalam waktu dekat pihaknya kan menyebarkan formulir sebanyak 700 ribu. Jika 80 persennya saja didapat, Pray sudah sangat bersyukur.

"Dengan bismillah kita jalan. Saya tidak ambisius yang mati-matian harus jadi gubernur. Buat saya jabatan sudah cukuplah. Sebelumnya kan saya sempat mengabdi di TNI. Old soldier never die," sambungnya sambil terkekeh.

Pray juga tidak mengandalkan dana pribada yang demikian besar untuk memuluskan langkahnya menuju DKI 1. Dia juga mengaku tidak bisa menyiapkan dana yang bermiliar-miliar rupiah untuk maju sebagai calon gubernur independen.

Staf Ahli di Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) ini berbekal berbagai hasil survei untuk memantapkan tekad meramaikan bursa pemilukada DKI. Misalnya saja survei Charta Politika yang pada Agustus 2011 lalu yang menyebut 38 persen responden menginginkan calon independen, sedangkan 26 persen menginginkan calon dari parpol, dan sisanya tidak menjawab.

"Dari beberapa survei, mereka (warga DKI) menginginkan sosok yang tegas. Lebih bagus lagi kalau orang itu adalah orang Jakarta asli karena lebih tahu kondisi Jakarta dan masyarakat Jakarta. Selain itu sense of belonging terhadap kota ini pasti lebih tinggi. Itu dasar saya maju," papar Pray.
(vit/nrl)