Soal Pilpres, Kiai Sepuh NU Minta PBNU Keluarkan Tausiyah Politik
Minggu, 09 Mei 2004 21:49 WIB
Jakarta - Sejumlah kiai sepuh Nahdatul Ulama (NU) meminta persoalan KH. Hasyim Muzadi yang dilamar Megawati Soekarnoputri menjadi calon wakil presiden diendapkan dulu. Para kiai juga meminta Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) untuk mengeluarkan taushiyah politik kepada warga NU menjelang pemilihan presiden mendatang. Demikian antara lain hasil pertemuan para kiai sepuh Nahdatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Minggu (9/5/2004) sore tadi. Dalam pertemuan itu, hadir antara lain, KH Idris Marzuqi selaku tuan rumah, KH Noer Mohammad Iskandar (Jakarta), KH Anwar Iskandar (Ketua Dewan Syuro DPW PKB Jatim), KH Zainuddin Djazuli dan KH Nurul Huda Djazuli (keduanya pengasuh Ponpes Al Falah Ploso Mojo Kediri), KH Miftahul Akhyar (Rois Syriah PWNU Jatim). Selain itu, KH Warsun Munawir (Krapyak Yogjakarta), KH Ahmad Subadar (Ponpes Besuk Pasuruan), KH Wildan Abdul Hamid (Kendal Jateng), KH Abdur Rohman Cudlori (Tegalrejo Magelang), KH Munif Zuhri (Mranggen Demak), KH Muchit Muzadi (Jember), KH Khotib Umar (Jember) dan KH Muhaiminan Gunardo.Menurut Wakil Sekjen DPP PKB Yahya Staquf yang dihubungi detikcom, pertemuan itu merupakan pertemuan lanjutan dan bukan tandingan dengan pertemuan Kiai Langitan di Tuban."Yang di Tuban itu merupakan Tim Sembilan PKB, karena merupakan instrumen PKB. Pertemuan para kiai di Kediri ini bukan instrumen PKB. Jadi bukan tandingan," jelas Yahya Staquf.Yahya Staquf lebih lanjut mengatakan, para kiai bangga dengan dilamarnya beberapa tokoh NU oleh para calon presiden. Namun, persoalannya bagaimana menghindari terjadinya gejolak di warga NU, karena banyaknya cawapres yang berasal dari NU, seperti KH. Hasyim Muzadi (Ketua umum PBNU), KH. Sholahuddin Wahid (Wakil Ketua PBNU) dan Yusuf Kalla (Anggota Mustasyar PWNU Sulawesi Selatan). "Para kiai masih akan terus melakukan musyawarah dan pada saat yang tepat nanti akan mengeluarkan taushiyah agar warga nahdliyyin tidak bingung pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden nanti," ujarnya.Menurut dia, para kiai di Langitan hingga kini belum menyepakati secara final apakah Gus Dur dicapreskan atau tidak, karena masih menunggu keputusan KPU. Sementara para kiai mempunyai pandangan yang seimbang tentang peluang KH Hasyim Muzadi sebagai cawapres PDIP dan KH Sholahuddin Wahid sebagai cawapres Partai Golkar. Soal pro dan kontra Hasyim Muzadi yang menjadi pendamping Megawati sebagai cawapres, menurut Yahya Staquf, para kiai meminta persoalan ini diendapkan dulu agar persoalannya menjadi jernih. "Biarkan PBNU dan para kiai yang akan membahasnya lagi, setelah itu baru menyatakan posisinya," jelasnya. Mengenai diterimanya pinangan Megawati oleh Hasyim Muzadi ini, menurut sejumlah kiai sepuh NU dinilai merupakan hak pribadinya Hasyim Muzadi dan memang tidak ada urusan dengan NU sebagai organisasi. "Bahkan KH Sahal Mahfudz sebagai Rois Aam NU menyatakan tidak ada komando dari PBNU untuk soal itu," tambahnya.
(zal/)











































