6 Kasus Mutilasi di Tahun 2008, 4 Kasus Pelaku Masih Gelap

- detikNews
Kamis, 09 Okt 2008 16:58 WIB
Jakarta - Sejak Januari hingga September 2008 tercatat ada 6 kasus mutilasi yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya. Namun baru 2 dari 6 kasus yang pelakunya diciduk. Salah satu yang terungkap, kasus mutilasi Heri Santoso dengan tersangka Very Idham Henyansyah alias Ryan.

Sekedar menyegarkan ingatan, pada 17 Januari 2008 ditemukan jasad janda beranak satu bernama Atikah tanpa kepala di bawah ranjang di Hotel Bulan Mas di Rawa Badak, Jakarta Utara.

Hanya selang 4 hari kemudian, kekasih Atikah, Zaky Afrizal, dibekuk pada 22 Januari 2008. Zaky ditangkap lantaran kepala Atikah ditemukan di sebuah sungai, tidak jauh dari hotel itu dan wajah korban mudah dikenali.

Selanjutnya, ditemukannya 7 potongan tubuh di kawasan Ragunan pada 12 Juli 2008 silam. Setelah diidentifikasi, korban bernama Heri Santoso, warga Bekasi.

Tiga hari setelah ditemukannya potongan tubuh korban Heri, Very Idam Henyansyah alias Ryan ditangkap. Ryan gelap mata memutilasi Heri karena cemburu kekasihnya, Novel Andreas, 'ditawar' oleh korban. Ryan pun menghabisi Heri di Apartemen Margonda Residence, Depok.

"Mudah terungkapnya kasus Ryan dan Atikah ini karena dilakukan oleh orang
yang dekat dengan korban," kata Kriminolog Erlangga Mardiana ketika
dihubungi wartawan, Kamis (9/10/2008).

Sedangkan 4 kasus mutilasi lainnya yang masih menjadi pekerjaan rumah alias PR bagi kepolisian untuk mengungkap pelaku di balik pembunuhan sadis itu yakni,

Penemuan mayat tanpa kepala dan identitas di bendungan kali Margahayu, Bekasi, Jawa Barat, pada 14 Januari 2008.

Kawasan Bekasi lagi-lagi digegerkan dengan penemuan potongan tubuh dalam 10 bagian yang diketahui bernama Eka Putri pada 17 April 2008.

Begitu juga dengan penemuan mayat bocah laki-laki tanpa kepala yang tidak
diketahui identitasnya. Mayat ditemukan di Terminal Pulo Gadung pada 15 Mei
2008 silam.

Terakhir, masyarakat digegerkan dengan penemuan 13 potongan tubuh
yang berada dalam 2 tas kresek warna merah di bus Mayasari Bakti jurusan
Kalideres-Pulo Gadung pada 29 September 2008. Pelakunya hingga kini masih diselidiki.

Dikatakan Erlangga, pelaku cenderung memutilas menghindar dari kejaran
polisi. "Pelaku bingung, mau diapakan korban sehingga muncul ide untuk memutilasi. Selain itu, digunakan sebagai cara yang efektif untuk menghilangkan jejak," kata Erlangga.

Menurut dia, kasus mutilasi mulai marak sejak 1980-an. Semakin maraknya mutilasi ini juga, menurut Erlangga tidak terlepas dari peran media massa.

"Media sebagai sumber pembelajaran atau socio learning, sehingga timbul
imitatif effect (efek peniruan)," katanya.

Lebih lanjut Erlangga mengungkapkan bahwa untuk mengungkap kasus mutilasi
ini sebenarnya tidaklah sulit. Dengan adanya sistem konektifitas pendataan
kependudukan yang canggih dari Badan Pusat Statistik (BPS), Kependudukan dan
pihak kepolisian akan memudahkan dalam pengungkapan kasus.

"Pendataan penduduk dengan sistem komputerisasi yang canggih akan mudah
diketahui identitas korban. Ini jangan hanya dilakukan di rumah sakit dan
pusat data kependudukan, tetapi juga di kepolisian," papar dia. (mei/aan)