DetikNews
Rabu 30 Januari 2008, 12:32 WIB

Braga: dari Drama Belanda hingga Tempat Mejeng

- detikNews
Braga: dari Drama Belanda hingga Tempat Mejeng
Bandung - Kawasan Braga memang sudah menjadi landmark Kota Bandung. Asal mula nama jalan Braga yang sudah ada sejak tahun 1800 ini memunculkan beberapa versi.

Pada awal 1800, Kawasan Alun-alun, Balubur, Coblong, Dago, dan Maribaya terhubungkan dengan jalan-jalan setapak ke Jalan Braga. Banyak angkutan umum yang membawa hasil bumi melewati jalan Braga. Karena angkutan umum saat itu menggunakan pedati, maka jalan yang sekarang dikenal dengan Jalan Braga dulunya disebut Pedati Weg (Jalan Pedati).

Pada tahun 1874 baru ada enam atau tujuh rumah permanen diselingi beberapa warung beratap rumbia. Bila malam tiba, digunakan obor sebagai alat penerangan. Rumah-rumah batu tersebut menempati kapling-kapling yang luas sehingga antara bangunan yang satu dengan yang lain tidak berimpitan. Halaman depan pun luas dan bisa didapati adanya gudang-gudang atau paviliun di samping bangunan rumah-rumah tersebut.

Muncul beberapa kontroversi perubahan nama Pedati Weg atau Jalan Pedati menjadi Jalan Braga seperti sekarang ini. Menurut David Bambang Soediono, Pengurus Bandung Society for Heritage Conservation, ada beberapa versi mengenai asal mula nama Braga.

Versi pertama mengatakan Braga berasal dari sebuah perkumpulan drama Bangsa Belanda yang didirikan pada tanggal 18 Juni 1882 oleh Peter Sijthot, seorang Asisten Residen, yang bermarkas di salah satu bangunan di Jalan Braga. Diduga sejak saat itulah nama Jalan Braga digunakan.

Pemilihan nama "Braga" oleh perkumpulan drama ini diperkirakan berasal dari beberapa sumber yang erat kaitannya dengan kegiatan drama, antara lain nama Theotilo Braga (1834 -1924), seorang penulis naskah drama, dan Bragi, nama dewa puisi dalam mitologi Bangsa Jerman.

Sementara itu versi lainnya muncul dari ahli Sastra Sunda. Baraga adalah nama jalan di tepi sungai, sehingga berjalan menyusuri sungai disebut ngabaraga. Kawasan Braga sendiri berada di tepi sungai Cikapundung.

Masih menurut asli sastra sunda, pada zaman Hindia Belanda, kawasan Braga sangat tersohor. Jalan Braga dijadikan ajang pertemuan dari orang-orang. Ngabaraga berubah menjadi ngabar raga yang kurang lebih artinya adalah pamer tubuh atau pasang aksi.

Memang di masa-masa sebelum PD II, di saat Jalan Braga sedang jaya-jayanya, jalan ini dijadikan ajang memasang aksi menjual tampang sehingga dikenal juga istilah khas Bragaderen. Perkataan deren dalam kamus Bahasa Belanda kurang menjelaskan arti kata penggabungan Braga dan deren sehingga disimpulkan, Bragaderen berasal dari kata paraderen yang artinya berparade, jadi Bragaderen lebih kurang berarti berparade di Jalan Braga.


(ern/asy)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed