detikNews
2019/11/18 20:06:08 WIB

Andika Surachman Bos First Travel Dieksekusi ke Lapas Gunung Sindur

Yulida Medistiara - detikNews
Halaman 1 dari 2
Andika Surachman Bos First Travel Dieksekusi ke Lapas Gunung Sindur Bos First Travel, Andika Surachman (Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta - Vonis 20 tahun penjara bos First Travel, Andika Surachman sudah dinyatakan inkrah. Jaksa sudah melakukan eksekusi terhadap Andika ke Lapas Gunung Sindur dari sebelumnya ditahan di Rutan Kelas II B Cilodong Depok.

"Kalau untuk terpidana otomatis sudah dieksekusi, surat perintahnya saya rasa sudah ada juga instruksi," kata Kajari Depok, Yudi Triadi, di Kejagung, Jl Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Senin (18/11/2019).

Sementara Kapuspenkum Kejagung, Mukri, mengatakan istri Andika, Anniesa Hasibuan dieksekusi ke Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung. Hal yang sama dilakukan kepada adik Anniesa, Siti Nuraidah Hasibuan alias Kiki Hasibuan.


"Untuk eksekusi terpidananya sudah dilakukan. Khusus untuk dua terpidana sudah dilakukan di Lapas Wanita di Bandung. Laki-lakinya di Lapas Gunung Sindur," kata Mukri dihubungi terpisah.

Mukri mengatakan para terpidana dieksekusi di lapas yang berada di Jawa Barat (Jabar) atas pertimbangan lokasi dan peristiwa pidana yang terjadi di daerah Jabar.

"Kalau ini kan berdasarkan locus delicti mengingat penanganan perkara ini di Depok, Jabar. Kemudian melakukan upaya hukum bandingnya di Jabar, kasasinya di DKI Jakarta. Namun melihat locus dan delicti-nya di Jabar maka eksekusinya di Jabar," jelas Mukri.


Sementara itu, pengacara Andika dan Anniesa Hasibuan, Boris Tampubolon, membenarkan kliennya sudah dieksekusi jaksa. Boris mengaku tak tahu kapan kliennya dieksekusi. Namun dia mengaku mendapat informasi kliennya dipindah pada Kamis (14/11).

"Iya sudah, Andika sudah dipindah ke Lapas Gunung Sindur. Anniesa dipisah, di Lapas Wanita IIA Bandung Sukamiskin," kata Boris dikonfirmasi terpisah.

Boris menambahkan pihaknya dalam waktu dekat akan mengajukan upaya hukum peninjauan kembali (PK). Dia mengaku menemukan novum atau bukti baru, ia berharap nantinya hakim akan sependapat dengan permohonannya bahwa kasus tersebut masuk ke ranah perdata sehingga kliennya hanya membayar ganti rugi dan lepas dari hukuman pidana.

"Nah kalau yang kita minta yang kita dalilkan ini itu masalah perdata bukan pidana. Kalau perdata akibat hukumnya Andika itu cuma ganti rugi saja ke jemaah. Jadi ini soal wanprestasi ada janji mau diberangkatin nggak. Jadi secara hukum kalau ini perdata nggak bisa dibawa ke pidana." kata Boris.



Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com