detikNews
2019/11/14 12:20:45 WIB

Calon Hakim Agung Artha Nilai Vonis 13 Tahun Penjara Udar Pristono Salah

Yulida Medistiara - detikNews
Halaman 1 dari 2
Calon Hakim Agung Artha Nilai Vonis 13 Tahun Penjara Udar Pristono Salah Artha Theresia menangis saat mambacakan pakta integritas dalam wawancara terbuka calon hakim agung (ari/detikcom)
Jakarta - Calon hakim agung Artha Theresia Silalahi dicecar terkait rekam jejaknya yang pernah memvonis ringan mantan Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono. Udar dituntut 19 tahun penjara. Oleh Artha Theresia di tingkat pertama, Udar dihukum 5 tahun penjara. Hukuman Udar diperberat Artidjo Alkostar menjadi 13 tahun penjara.

Artha dicecar terkait vonis tersebut dalam seleksi wawancara calon hakim agung di Komisi Yudisial (KY). Awalnya Artha diminta menjelaskan apakah hakim boleh memutuskan perkara kurang dari 1/3 dari tuntutan jaksa.


Menjawab hal itu Artha menilai hakim boleh memutuskan kurang dari 1/3 dari tuntutan jaksa asalkan sesuai dengan dakwaan dan fakta persidangan. Selain itu menurutnya putusan hakim itu diambil berdasarkan musyawarah anggota majelis hakim, bukan diputuskan perseorangan.

"Boleh. Hakim tidak terikat pada tuntutan jaksa. Hakim itu memutus berdasarkan dakwaan. Kemudian fakta di persidangan dan hasil pembuktian tidak keluar dari situ. Apa yang diputuskan adalah merupakan hasil musyawarah majelis, berapa pun hasilnya kalau itu sudah disepakati dalam pemusyawarahan itu akan kami putus," ujar Artha, di Gedung KY, Jl Kramat, Jakarta Selatan, Kamis (14/11/2019).

Komisioner KY, Maradaman Harahap kembali mencecar Artha terkait kasus Udar. Apakah vonis ringan yang dia keluarkan dianggap bertentangan dengan vonis kasasi di tingkat kasasi. Menjawab hal itu, Artha menilai tidak bertentangan. Tetapi ada pertimbangan hakim agung yang memperbaiki putusan di tingkat pengadilan negeri.

"Saya sendiri tidak menganggap itu bertentangan, tetapi diperbaiki, disempurnaka. Tidak mungkin ada pertimbangan kami yang dianggap Mahkamah Agung perlu diperbaiki. Jadi artinya mengapa kami tidak menganggap.. Ini sedikit saja Pak Harahap, karena semua hartanya bisa dibuktikan. Kalau MA berpendapat lain itu sah-sah saja dan kami hormati putusan MA itu. Terimakasih," tutur Artha.



Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com