detikNews
2019/10/23 20:08:05 WIB

PDIP Kritik Pelebaran Trotoar di DKI 'Makan' Lebar Jalan: Tambah Macet

Arief Ikhsanudin - detikNews
Halaman 1 dari 1
PDIP Kritik Pelebaran Trotoar di DKI Makan Lebar Jalan: Tambah Macet Pelebaran trotoar di Jl Kramat Raya membuat kemacetan panjang di jam-jam sibuk (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta - Proyek pelebaran trotoar Jakarta yang memakan lebar jalan raya dikritik anggota DPRD DKI Jakarta. Sebab, berkurangnya lebar jalanan membuat kemacetan tak terhindarkan.

"Kemarin terlalu banyak orang telepon saya, kok pembangunan trotoar makan jalan. Sementara, untuk kemacetan, sehingga pemilik mobil telepon ramai tidak bayar pajak karena mereka harapkan dengan bayar pajak itu jalan jangan macet," ucap anggota Badan Anggaran dari Fraksi PDIP Pandapotan Sinaga, saat rapat perencanaan KUA-PPAS 2020, di Gedung DPRD DKI Jakarta, Rabu (23/10/2019).

Pandapotan mengatakan, seharusnya pelebaran trotoar tidak sampai mengurangi lebar jalan. Dia mengatakan semestinya pelebaran trotoar dilakukan dengan membebaskan lahan sehingga tak mengurangi lebar jalan.


"Sementara kita bangun trotoar, saya tidak mengerti bagaimana untuk yang trotoar tapi makan jalan. Kita berpikir bahwa kalaupun tambah trotoar harapan kita bebaskan lahan di pinggiran sehingga tidak berpengaruh pada pengguna jalan," kata Pandapotan.

Pandapotan menyoroti proyek pelebaran trotoar di Cikini dan Kramat Raya. Di kedua lokasi itu, kemacetan tak terhindarkan karena badan jalan yang menyempit.

"Saya pikir boleh dilihat bagaimana sekarang sempitnya sekarang jalan di Cikini, Kramat. Sementara kita lagi fokus bangun trotoar banyak di Jakarta. Alangkah baiknya yang mau bayar pajak kita kejar tapi kota persempit jalannya. Sangat-sangat merisaukan masyarakat Jakarta," kata Pandapotan.


Menurut Asisten Pembangunan DKI Jakarta Yusmada Faizal proyek pelebaran trotoar di Jakarta tidak mengutamakan kendaraan bermotor. Mereka lebih mengedepankan pejalan kaki.

"Jalan-jalan kita tidak akan mampu terus-terusan menampung jalan-jalan kendaraan. Ini sudah isu dunia bahwa kota dunia yang modern, berkelas salah satunya transportasi yang sustainable. Cirinya aksesibilitas dan mobilitas warga mudah dan cepat," kata Yusmada.

"Sudah disepakati akan mendongkrak angkutan massal. Mobilitas penduduk bergerak dilayani massal. MRT terus kembangkan, LRT didorong termasuk busway dan yang tergabung dalam JakLingko dengan tidak gunakan kendaraan pribadi," sambungnya.
(aik/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com