detikNews
Jumat 27 September 2019, 12:47 WIB

Kisah Guru SD Negeri Miangas Rela Tunggu 2 Minggu untuk Ambil Gaji

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Kisah Guru SD Negeri Miangas Rela Tunggu 2 Minggu untuk Ambil Gaji Foto: Faidah Umu Safuroh/detikcom
Miangas - Bagi Wensareawen S A R, berprofesi sebagai seorang guru adalah panggilan hati. Ia sudah menjadi tenaga pengajar selama 12 tahun, dimulai dengan menjadi guru honorer hingga akhirnya diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Wen, begitu ia biasa disapa, mengaku tetap ingin mengabdi sebagai seorang pendidik hingga sekarang.

Kepada detikcom, wanita asal Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, ini berkisah soal suka-dukanya mengajar di SD Negeri Miangas-pulau terdepan di utara Indonesia.

Saat menjadi guru honorer pada 2007-2013, ia pernah dibayar dengan upah Rp 3.000 per jam dengan lama waktu mengajarnya berkisar antara 150-164 jam per bulan.

Butuh waktu 6 tahun lebih hingga akhirnya ia diangkat menjadi PNS. "2014 saya sudah mengikuti tes CPNS, sudah terangkat sekarang. 2015 saya sudah jadi pegawai negeri," ungkapnya saat ditemui di SD Negeri Miangas beberapa waktu lalu.



Jauhnya jarak yang terbentang antara Miangas dengan ibu kota Kabupaten Talaud membuat segalanya menjadi tak mudah. Salah satunya, dalam hal penerimaan upah atau bulanan.

Wen bercerita, hasil jerih payahnya itu baru bisa ia terima setelah bendahara sekolah berangkat ke Melonguane untuk mengambil gaji para guru, dan kembali ke Miangas berhari-hari setelahnya.

"(Perjalanan) bendahara (dalam mengambil gaji) paling lama 2 minggu, tapi saya menunggu, saya juga tetap setia, tetap mengajar karena itu tanggung jawab sebagai orang pendidik," tuturnya.

Gaji guru PNS di Miangas memang ditransfer melalui bank lokal yang hanya dapat ditemui di Melonguane. Lantaran itu, tiap bulannya, sekolah perlu mengutus seorang bendahara untuk pergi ke sana.

Dari Miangas, bendahara sekolah harus menempuh perjalanan laut sejauh 110 mil yang bisanya menghabiskan waktu 36 jam. Namun, itu pun masih tak pasti. Jika gelombang besar datang, perjalanan dipastikan akan memakan waktu lebih lama karena kapal Perintis yang membawa penumpang tidak berani berlayar.

Para guru PNS, termasuk Wen, hanya pasrah menitipkan buku rekening mereka untuk mencairkan gaji si Melonguane. Selanjutnya bendahara akan mengambil gaji di bank lokal kemudian membawanya lagi ke Miangas lewat kapal.

Namun, sejak bank BRI hadir di Miangas tahun 2018, kondisi berubah drastis. Semua menjadi lebih mudah dan cepat. Jika sebelumnya, gaji baru diterima setelah bendahara sekolah kembali ke Miangas, kini gaji bisa dicairkan setelah sang bendahara mentrasfernya dari Melonguane.

Beberapa guru pun membuka rekening BRI dan memilih untuk menerima gaji yang ditransfer bendahara dari Melonguane ke BRI di Miangas.

"Jadi buku (rekening bank lokal)saya hanya titip pengurusan per bulan (ke) bendahara di Kabupaten Kepulauan Talaud. Saya hanya terima di bank BRI Miangas karena untuk nafkah saya," ujarnya.


Meski sekolah masih tetap harus mengirim bendahara ke luar pulau, Wen bersyukur ada bank BRI di Pulau Miangas. Sebab, kini ia bisa bertransaksi dengan mudah lewat BRI. Anaknya yang berada di luar pulau pun bisa mengirimkan uang dengan mudah kepadanya.

"Harapan saya gaji bisa (langsung) transfer ke BRI supaya (lebih) mudah, karena di sini (hanya) ada BRI saja," pungkasnya.

detikcom bersama Bank BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan. Untuk mengetahui informasi dari program ini, ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!
(ega/ega)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com