detikNews
Sabtu 14 September 2019, 23:06 WIB

Xanana Gusmao Kenang BJ Habibie: Rakyat Timor-Leste Tak akan Lupakan Beliau

Rahel - detikNews
Xanana Gusmao Kenang BJ Habibie: Rakyat Timor-Leste Tak akan Lupakan Beliau Xanana Gusmao mendatangi rumah almarhum BJ Habibie. (Foto: Rahel/detikcom)
Jakarta - Presiden pertama Timor-Leste Xanana Gusmao mengenang sosok mendiang Presiden ke-3 BJ Habibie. Xanana mengenang keputusan Habibie memberikan Timor-Leste hak menentukan nasib sendiri (self-determination).

"Kita harus juga memegang nilai-nilai universal values dan juga kita apresiasi peranannya karena setelah 24 tahun menderita dengan banyak negara western yang bicara tentang hak asasi manusia dan hak untuk ini, untuk itu. Tidak membantu sama sekali," ujar Xanana seusai menyambangi kediaman Habibie di bilangan Patra Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (14/9/2019).


"Dan Pak Habibie dalam waktu yang singkat tapi waktu yang sulit (untuk) ambil suatu keputusan yang memberi rakyat Timor-Leste hak untuk self-determination. Oleh karena itu kami tidak akan melupakan beliau. Oleh karena itu saya ke sini sebagai wakil dari pemerintah dan rakyat Timor-Leste (menyampaikan) terima kasih banyak," imbuhnya.

Di kediaman Habibie, Xanana bertemu kedua putra mendiang yakni Ilham Habibie dan Thareq Habibie untuk menyampaikan ucapan belasungkawa. Xanana menganggap Habibie sebagai inspirator.


"Dan juga lebih untuk memberitakan bahwa Timor Leste dan rakyat Timor-Leste, (bahwa) Pak Habibie sebagai seorang inspirator. Karena kita semua tahu keahlian beliau dalam sains dan teknologi. Tetapi juga menjadi suatu contoh. Walaupun kita bisa pintar sampai dengan teknologi dan juga sains," ucap Xanana.

Xanana mengenang kembali saat Timor-Leste diberi hak menentukan nasibnya di masa kepemimpinan Habibie. Saat itu dirinya masih mendekam di rutan Cipinang.

"Waktu itu memori tentang Pak Habibie. Waktu beliau bilang kasih kepada rakyat Timor-Leste hak untuk memilih, mau pecah itu (perasaannya). Saya teriak itu (ke) sekuriti-sekuriti 'ada apa, ada apa?'. Sakit di sini (dia sentuh dada), mau pecah. Karena tahun 83 saya bertemu Kolonel Purwanto. Kita sudah dikasih peace plan dan 16 tahun kemudian di 1999 baru bisa terjadi. Dan Pak Habibie adalah suatu aktor di situ, aktor bukan actor. Ini suatu memori," ujarnya.
(dkp/dkp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com