detikNews
Rabu 11 September 2019, 12:17 WIB

Musim Hujan di Bali Diprediksi Turun Awal November

Aditya Mardiastuti - detikNews
Musim Hujan di Bali Diprediksi Turun Awal November Foto: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar memprediksi musim penghujan di Bali bakal turun awal November 2019.Dok. Istimewa
Denpasar - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar memprediksi musim penghujan di Bali bakal turun awal November 2019. Analisis ini mengacu pada kondisi fisis dan dinamika atmosfer.

"Prakiraan awal musim hujan (AMH) di wilayah Bali diprakiraan masuk bulan November (sebanyak 73%) dan bulan Desember (sebanyak 27%)," kata Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar, M Taufik Gunawan kepada wartawan, Rabu (11/9/2019).


Daerah yang diprediksi akan turun hujan pada November di anatranya Jembrana bagian barat, Buleleng dan Jembrana bagian Utara, Jembrana dan Tabanan bagian Selatan, Badung, Gianyar. Kemudian Tabanan dan Bangli bagian barat laut, Buleleng bagian Utara, Bangli Utara, Karangasem bagian Tengah, Gianyar bagian Selatan, Klungkung bagian Selatan, Karangasem bagian Selatan, Tabanan bagian Selatan, Badung bagian Selatan dan Kota Denpasar.

Sementara wilayah yang turun pada Desember di antaranya Buleleng bagian Barat, Buleleng bagian Timur, Karangasem bagian utara dan timur, dan Nusa Penida. Taufik mengatakan jika dibandingkan rata-rata awal musim hujan di Plau Bali diprakirakan mundur (lebih lambat) dari rata-ratanya.

"Kemunduran awal musim hujan bervariasi dan kita menghitungnya per 10 hari atau satu dasarian. Ada yang mundur satu sampai dua hingga tiga dasarian," tuturnya.


Di lokasi yang sama, Kepala Stasiun Klimatologi Jembrana Rahmat Prasetia menambahkan seharusnya Oktober sudah mulai musim penghujan di Bali karena ada gangguan karena kuatnya angin timur sehingga bisa mundur 10-30 hari. Dia menyebut mundurnya musim penghujan ini tak terlalu berpengaruh pada kemarau di Jembrana.

"September puncaknya, sebenarnya puncaknya di Juli-Agustus, karena sudah dua bulan nggak ada hujan maka September masih kena dampak, tapi kita lihat sudah mulai ada awan-awan tipis di wilayah sebagai di Bali. Tidak terlalu ekstrem, mirip hanya beda 10 -20 hari saja. Bagi kami nggak terlalu ekstrem," jelasnya.
(ams/aan)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com