detikNews
Senin 09 September 2019, 21:08 WIB

Round-Up

Ramai #BubarkanKPAI, KPAI Tak Kendur Pelototi Audisi

Tim detikcom - detikNews
Ramai #BubarkanKPAI, KPAI Tak Kendur Pelototi Audisi Ketua dan komisioner KPAI (Jefrie/detikcom)
Jakarta - #BubarkanKPAI jadi trending topic di Twitter hari ini. Tanda pagar (tagar atau hashtag) tersebut ramai disuarakan netizen terkait polemik KPAI dengan PB Djarum terkait audisi bulutangkis.

KPAI tegas bahwa mereka menjaga anak-anak dari keterpaparan rokok. KPAI menjelaskan tindakan ini berdasarkan survei yang telah dibuat.

"Saya tidak mengerti logikanya ke mana. Mereka bisa jadi tidak mendapatkan pengetahuan yang sama dengan kita, atau informasi yang ditangkapnya itu terpotong-potong," kata komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menanggapi trending #bubarkanKPAI setelah melakukan audiensi dengan Pemkab Banyumas, Jawa Tengah, Senin (9/9/2019).

"Logikanya sangat sederhana. Yang kita minta hanya turunkan brand image, brand color, logo-logo seperti itu. Ketika itu diturunkan, berati dia mematuhi peraturan yang ada. Kalau peraturannya dipatuhi, sebenarnya KPAI tidak salah," ucapnya.

Sitti menjelaskan jika brand rokok tetap ada, seolah membuat produk rokok bukan merupakan barang berbahaya. Dia mengatakan hal itu bisa berdampak pada masyarakat yang mengidolakan atlet--sementara brand rokok menempel padanya.

"Memang tidak akan berdampak hari ini dan bukan terjadi pada atlet. Kalau pada atlet diharapkan tidak merokok dengan sangat ketat. Tetapi pada mereka yang mengidolakan atlet dan melihat ini bersahabat dengan produk rokok," ujarnya.
Sitti mengatakan, dari hasil penelitian kesehatan dasar, tingkat keterpaparan rokok pada anak pemula untuk merokok tahun 2013 sebesar 7,2 persen. Salah satunya akibat promosi produk rokok.

"Pada 2018, tingkat keterpaparan menjadi 9,1 persen. Salah satunya karena promosi ini. Kenapa baru sekarang? Karena kami menunggu hasil riset kesehatan. Setiap promosi yang melibatkan anak akan berdampak," ujarnya.

Selain itu, pihaknya telah melakukan survei kepada anak-anak, yang dilakukan di 28 provinsi dengan pertanyaan yang ada di benak anak-anak terkait Djarum. Dia mengatakan mayoritas anak ingat Djarum sebagai merek rokok.

Banyak yang menyayangkan PB Djarum memutuskan setop audisi bulutangkis tahun depanBanyak yang menyayangkan PB Djarum memutuskan setop audisi bulutangkis tahun depan. (Istimewa/Humas Superliga Badminton)
"Kita juga menanyakan kepada anak-anak untuk meyakinkan survei yang dilakukan di 28 provinsi, dengan pertanyaan, kalau ada statement Djarum, apa yang ada dalam benak kalian? Sekitar 1 persen anak mengatakan Djarum itu jarum jahit, 31 persen mengatakan Djarum dalam konteks itu adalah audisi beasiswa bulutangkis dan 68 persen ini mengatakan rokok. Kami juga kemarin mengatakan kepada anak-anak tersebut dalam pikiran dan hanya terbatas di tiga itu secara random," ungkapnya.

KPAI menyatakan mendukung audisi bulutangkis. Namun KPAI mengingatkan harus ada peraturan yang ditaati. Polemik ini bermula saat KPAI memandang PB Djarum mengeksploitasi anak lewat audisi bulutangkis demi promosi merek dagangnya bahwa PB Djarum adalah salah satu produsen rokok ternama di Indonesia.

"Prinsipnya audisi dan pengembangan bakat minat anak di bidang bulutangkis mesti kita support, tetapi nggak boleh melanggar regulasi yang ada," kata Ketua KPAI Susanto saat dikonfirmasi, Minggu (8/9).

Kritik KPAI ini membuat PB Djarum memutuskan menghentikan audisi umum pencarian bakat bulutangkis pada 2020. PB Djarum menyebut ingin mereduksi polemik yang mencuat terkait tuduhan eksploitasi anak-anak dari KPAI. Banyak pihak yang menyayangkan keputusan PB Djarum.

"Sesuai dengan permintaan pihak terkait, pada audisi kali ini, kami menurunkan semua brand PB Djarum. Karena dari pihak PB Djarum sadar untuk mereduksi polemik (eksploitasi anak) itu kami menurunkannya," ucap Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppi Rasimin dalam situs resmi PB Djarum.
(jbr/zak)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com