detikNews
Jumat 16 Agustus 2019, 17:46 WIB

Terima Info Polisi Intimidasi Wartawan di Depan DPR, Provos Turun Tangan

Zunita Putri - detikNews
Terima Info Polisi Intimidasi Wartawan di Depan DPR, Provos Turun Tangan Ilustrasi polisi (Foto: Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta - Sejumlah wartawan mengalami intimidasi dari oknum kepolisian saat hendak meliput demo buruh di depan gedung DPR RI. Atas peristiwa ini, Provos Polri akan langsung turun tangan menindak aparat polisi yang melakukan intimidasi.

Kejadian itu terjadi di depan Gedung TVRI, Jalan Gerbang Pemuda, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (16/8/2019). Wartawan online nasional Syaefullah mengaku saat itu sedang mendokumentasikan petugas polisi yang sedang meminta massa buruh untuk bubar. Namun, polisi melarangnya untuk mendokumentasikan kegiatan itu.

"Saat itu, massa aksi buruh berkumpul di depan kantor televisi TVRI, dan aparat polisi pun meminta para buruh untuk masuk mobil bus yang ditumpangi dan meminta mereka untuk kembali ke daerah. Saya pun langsung mengabadikan momen itu dengan memvideo mereka tersebut," kata Syaeful saat dikonfirmasi.


Syaeful mengaku tidak mengalami kekerasan fisik. Namun, ia merasa petugas kepolisian telah menghalangi kewajibannya untuk meliput suasana demo di sekitar gedung DPR karena memerintahkan Syaeful untuk menghapus video dan foto yang telah didokumentasikan Syaeful.

"Intimidasi itu tidak mesti fisik dipukuli, tapi tindakan represif, dan tindakan menghalangi tugas wartawan juga intimidasi," katanya.

Dilansir dari Antara, intimidasi juga dialami jurnalis televisi dan cetak. Seorang jurnalis SCTV ponselnya terjatuh karena dipukul oknum polisi saat merekam peristiwa di depan Stasiun TVRI. Jurnalis Inews TV juga diminta menghapus video saat meliput. Wartawan foto dari Bisnis Indonesia dan Jawa Pos pun diminta oknum polisi untuk menghapus foto saat sejumlah buruh diamankan ke mobil tahanan.

Atas peristiwa ini, Kadiv Humas Polri, Irjen M Iqbal angkat bicara. Iqbal mengaku Provos Polri saat ini akan langsung menindak petugas yang mengintimidasi wartawan.


"Nanti Propam akan proses, kebetulan tadi saya di sini (DPR) bertemu Karo Provos, yang bersangkutan langsung adakan pendidikan," kata Iqbal di kompleks parlemen.

Dia mengaku kepolisian tidak pilih kasih dalam menindak sesuatu. Dia juga mengatakan hukuman pendidikan ini akan membuat efek jera bagi polisi yang diduga melakukan intimidasi.

"Siapapun yang langgar aturan, kita akan tindak. Sudah banyak penindak yang kita lakukan dari kurungan pendidikan, karena 480 ribu anggota Polri nggak mungkin kita awasi dalam kurun waktu sama, satu persatu," ucapnya

"Saya kira proses itu sangat tepat. Cukup buat mereka ada efek jera, karena semua polisi tidak ingin dihukum, karena dia ingin prestasi, ingin karir yang baik. Saya kira itu akan buat dia jera," lanjutnya.
(jbr/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com