detikNews
Selasa 13 Agustus 2019, 19:50 WIB

Cerita AKBP Kaswandi 3 Malam di Titik Hotspot demi Padamkan Karhutla

Audrey Santoso - detikNews
Cerita AKBP Kaswandi 3 Malam di Titik Hotspot demi Padamkan Karhutla Kebakaran di Desa Kesuma Pangkalan Kuras, Taman Nasional Tesso Nilo, Riau. (Audrey Santoso/detikcom)
Pelalawan - Sesak dan selalu was-was. Itulah yang dirasakan Kapolres Pelalawan AKBP Kaswandi Irwan selama memimpin operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Kesuma Pangkalan Kuras, Taman Nasional Tesso Nilo, Riau.

Meski demikian, perwira menengah Polri ini memilih bermalam selama tiga hari di titik hotspot untuk memastikan proses pemadaman kebakaran di lahan gambut berjalan sesuai harapan. Bermodalkan tenda barak, AKBP Kaswandi tidur dengan jarak 200 meter dari lahan gambut yang masih dalam kondisi terbakar.

"Jarak tenda dengan hotspot itu terdekat jaraknya 200 meter. Itu kan bukit-bukit, kami mencari tempat paling tinggi untuk bermalam, sekalian mencari sinyal. Titik apinya terjal di bawah," kata Kaswandi ketika ditemui di salah satu titik hotspot karhutla, Technopark, Langgam, Pelalawan, Riau, Selasa (13/8/2019).



Kaswandi menerangkan sulitnya memantau penanganan karhutlah jika tak terjun langsung ke lapangan dan jarak tempuh antara polres dan lokasi 4 jam perjalanan. Karena itu, dia mengambil inisiatif membuka tenda di lokasi hotspot agar pengawasan lebih efektif.

"Karena waktu perjalanan juga jauh, kalau kita dari Polres itu 4 jam, kalau ke permukiman warga itu satu jam perjalanan. Sehingga untuk efektifnya waktu dan tenaga lebih baik kita nginap dengan seluruh tim, sehingga kita bisa memonitor penanganannya seperti apa, situasi api seperti apa," lanjut Kaswandi.



Kaswandi mengatakan karhutla yang terjadi di taman nasional menjadi prioritas dirinya. Saat memutuskan bermalam, terdapat 9 lokasi di taman nasional yang terdapat titik api.

Cerita AKBP Kaswandi 3 Malam di Titik Hotspot Demi Padamkan KarhutlaKapolres Pelalawan AKBP Kaswandi Irwan (Audrey Santoso/detikcom)

"Kita prioritaskan mana lokasi yang titik apinya besar, waktu itu Taman Nasional Tesso Nilo. Waktu itu ada 9 lokasi yang ada titik apinya. Dan waktu itu kita prioritaskan untuk kita tangani itu adalah di titik api yang berada di desa Kesuma Pangkalan Kuras," jelas Kaswandi.

Kaswandi menjelaskan personel TNI, BPBD, dan petugas dari kecamatan turut diminta bermalam di lokasi hotspot. "Karena saya yang paling bertanggung jawab, saya yang menentukan," imbuh Kaswandi.



Dia menceritakan cuaca di titik hotspot saat dirinya bermalam tak bersahabat. Ditambah, tak ada sumber air untuk mempermudah operasi pemadaman.

"Kemarin saat kami menginap, ini kan musim kemarau, panas terik dan anginnya kencang di lokasi. Di lokasi anginnya lebih kencang karena areanya hamparan. Kemudian yang paling susah titik airnya tidak ada, sumber air tidak ada," tutur Kaswandi.

"Selain masalah sumber air, yang menjadi dukanya saat menginap di titik api ya kami tidur dikelilingi asap. Itu hari pertama dan kedua, hari selanjutnya asap berkurang. Makanya untuk yang kemarin spot yang banyak anggotanya kami sudah siapkan tim medis," sambung dia.



Akhirnya, lanjut Kaswandi, tim gabungan hanya mengandalkan parang dan kayu untuk melakukan pemadaman manual. "Pakai parang dan kayu, kita datangi titik api, kita lokalisir dengan parang supaya tidak menyebar. Kita pukul area yang terdapat api di dalamnya dengan kayu maupun golok," terang Kaswandi.

Karena khawatir asap akan berdampak pada kesehatan anggotanya, Kaswandi berencana mengevaluasi kondisi personel setelah operasi pemadaman karhutla selesai. "Saat ini (personel) yang pulang-pergi juga kami beri vitamin," ujar dia.

Saat ini Kaswandi tak lagi bermalam di desa tersebut. Dia mengaku harus berkeliling Pelalawan untuk memastikan kegiatan pemadaman karhutla di lokasi lainnya terus berjalan.

Cerita AKBP Kaswandi 3 Malam di Titik Hotspot Demi Padamkan KarhutlaKapolres Pelalawan AKBP Kaswandi Irwan (Audrey Santoso/detikcom)

"Tapi sampai sekarang anggota saya masih menginap di sana. Kalau saya tiga hari karena perlu turun ke daerah lain juga untuk memonitor daerah lain. Kalau di sini faktor terbesarnya pembukaan lahan perkebunan dengan cara membakar," ucap dia.

Untuk mencegah meluasnya karhutla, Kaswandi mengungkapkan pihaknya melakukan patroli dan menyebarkan maklumat larangan membuka lahan dengan cara dibakar.

"Yang jelas, kami sudah berupaya untuk melakukan pencegahan. Kami sudah patroli dengan Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan masyarakat desa. Kita sudah menyebarkan maklumat Kapolda dan Bupati soal larangan membuka lahan dengan cara membakar," pungkas Kaswandi.

Di sisi penegakan hukum, sambung Kaswandi, Polres Pelalawan telah menangani empat kasus yang saat ini berada di tahap penyidikan dan salah satunya kasus PT Sumber Sawit Sejahtera. "Penyidikan korporasi itu diserahkan ke polda penanganannya," tutup Kaswandi.




Tonton Video Puntung Rokok Diduga Jadi Penyebab Karhutla di Konawe:

[Gambas:Video 20detik]


(aud/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com