Belajar dari Keluarga Nabi Ibrahim Melawan Setan

Laporan dari Mekah

Belajar dari Keluarga Nabi Ibrahim Melawan Setan

Ardhi Suryadhi - detikNews
Selasa, 13 Agu 2019 11:37 WIB
Suasana saat Jemaah Haji Lempar Jamrah (Foto: Ardhi/detikcom)
Suasana saat Jemaah Haji Lempar Jamrah (Foto: Ardhi/detikcom)
Mekah - Prosesi mabit (bermalam) di Mina dan berlanjut melontar jamrah yang kini tengah dijalankan para jemaah haji memiliki makna yang dalam. Khususnya bagi sebuah keluarga.

Makna tersebut merupakan hasil pembelajaran dari kisah keluarga Nabi Ibrahim beserta istri - Siti Hajar -- dan sang anak, Nabi Ismail.

Di Mina inilah terdapat lokasi yang menjadi tempat penyembelihan Nabi Ismail oleh sang ayah, Nabi Ibrahim. Di mana ketika perintah Allah itu mau dilakukan, seketika itu pula Allah SWT menggantikannya dengan seekor qibas (kambing), yang menjadi asal usul perintah untuk berkurban di hari raya Idul Adha.



Namun dalam prosesnya, sebelumnya ada 1001 upaya bujuk rayu setan kepada keluarga Nabi Ibrahim agar perintah Allah SWT tersebut coba digagalkan.

Hanya saja Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan Nabi Ismail berhasil melawan godaan setan tersebut, dan perlawanan itu pun disimbolkan dengan melontar jamrah ula, wustho dan aqabah yang menjadi wajib haji.



Menurut ustaz Muhammad Hafidz, pembimbing jemaah haji khusus Maktour, sikap keluarga Nabi Ibrahim di Mina ini sejatinya dapat menjadi pembelajaran tersendiri, khususnya bagi keluarga kita. Terlebih, salah satu prestasi terbesar setan adalah kalau dia bisa menghancurkan keluarga manusia.

"Makanya setan itu kalau gak masuk lewat bapak maka dia lewat ibunya dan anaknya. Apapun caranya, bisa dengan menghancurkan anaknya, pisahkan bapak ibunya," ujar ustaz Hafidz.



Untuk itu dari Mina ini kita bisa belajar bahwa bagi seorang bapak, kehadiran istri dan anak itu bisa menjadi cobaan atau perhiasan. Tergantung, seorang berhasil atau tidak mendidik anak dan istrinya.

"Sehebat apapun seorang bapak punya karir di dunia, tetapi kalau gagal mendidik anak dan istrinya maka waalaikum salam, selesai gak ada urusannya," lanjutnya.

Terlebih di dalam Al Quran disebutkan bahwa 'jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka'. Jadi seorang suami, jangan soleh sendirian, ajak istri dan anak-anaknya juga. Sebab istri dan anak nanti akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Tempat melontar jamrah sendiri menjadi simbol sebuah keluarga, yakni aqabah menjadi simbol bapak, wustho simbol ibu dan ula menjadi simbol anak.

"Bagaimana dulu iblis menggoda ibrahim untuk menjalankan perintah Allah, namun gagal, ini adalah pelajaran dari Mina. Mereka (setan-red.) itu musuh kalian yang paling nyata. Jadi jangan kalian mengikuti langkah-langkah setan, karena dia menggoda manusia tidak pakai satu cara. Kita pastikan pada saat lontaran ini tekatkan dalam hati kita berperang melawan iblis," ustaz Hafidz menambahkan.

Jemaah haji sendiri telah melontar jamrah aqabah pada 10 Zulhijah. Sedangkan pada 11 Zulhijah giliran jamrah ula, wustho dan aqabah dengan masing-masing 7 lontaran kerikil di tiap sumur.

Kemudian dilanjutkan pada 12 Zulhijah bagi jemaah yang mengambil nafar awwal serta 13 Zulhijah bagi yang mengambil nafar tsani.

Tak seperti Arafah yang termasuk rukun haji, melontar jamrah ini merupakan wajib haji. Sehingga bagi jemaah yang udzur karena tua rena atau sakit boleh diwakilkan kewajiban melontar jamrahnya oleh orang lain.

Namun jemaah yang mewakili harus melontar untuk dirinya sendiri terlebih dahulu, baru kemudian melontar atas nama orang yang diwakili.



Video saat Hujan Deras Guyur Mina:

[Gambas:Video 20detik]

(ash/knv)