detikNews
Jumat 02 Agustus 2019, 20:58 WIB

Mengaku Panitera di Mahkamah Agung, Komplotan Penipu Ditangkap

Samsudhuha Wildansyah - detikNews
Mengaku Panitera di Mahkamah Agung, Komplotan Penipu Ditangkap Foto: Samsuduha Wildansyah/detikcom
Jakarta - Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya menangkap komplotan penipu yang mengaku-ngaku sebagai panitera di Mahkamah Agung dan menipu korbannya hingga ratusan juta. Komplotan ini sudah beraksi selama 3 tahun.

"Ini berawal dari laporan korban yang dia merasa tertipu dan rata-rata korban ada masalah (dan sedang disidangkan) di MA," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (2/8/2019).

Komplotan ini terdiri dari tersangka AA (38), RL (23), A (38), EK (45), S (39) dan S (40) dan sudah beraksi selama 3 tahun lamanya. Otak dari kelompok ini yakni tersangka AA.

"Selama 3 tahun beraksi keuntungannya dia nggak bisa ungkapkan tapi bisa cukupi kehidupannya," ungkap Argo.

Kasus itu dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada (8/4/2019) lalu. Saat itu korban dihubungi tersangka AA yang mengaku sebagai Doni dan bekerja di MA. Tersangka menawarkan bantuan ke korban agar masalah yang dihadapi korban dapat selesai asalkan korban memberikan uang sebesar Rp 1 Miliar.

"Dia minta suatu imbalan misalnya dia minta sebesar Rp 1 M dia minta di DP dulu 35 persen dan karena itu korbannya yakin dan percaya dan mengirimkan uang secara bertahap hingga Rp 230 juta," ungkap Argo.

Namun kemudian korban merasakan kejanggalan. Merasa tertipu, korban melaporkan hal itu ke polisi. Polisi di bawah pimpinan Kasubdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya Kompol Handik Zusen bergerak cepat menangkap seluruh tersangka di rumah tersangka AA di daerah Bekasi.
Argo menyebut para tersangka mempunyai peran yang berbeda-beda. Ada tersangka yang berperan mencari data-data calon korbannya dengan cara melihat di website MA dan adapula tersangka yang berperan menghubung korban melalui telepon.

"Andi (AA) sebagai kaptennya dan punya anak buah. Dalam kegiatan ini ada struktur yang tidak tertulis. Jadi ada istilahnya pimpinan namanya Andi dan ada yang berperan cari data korban di website MA dan ada yang hubungi korban dan ngaku sebagai staf panitra," jelas Argo.

Selain beraksi mengaku staf di MA, komplotan ini juga kerap berpura-pura sebagai staf Pengadilan Negeri maupun kantor dinas. Mereka menyasar korban-korban yang memiliki masalah dan sedang menjalani proses sidang.

Dari tangan tersangka, polisi menyita uang tunai sebesar Rp 49 juta. Seluruh tersangka dikenakan Pasal 378 KUHP dan Pasal 4, Pasal 5 junto Pasal 2 ayat (1) huruf R dan atau Z UU RI nomor 8 tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian dengan ancaman 7 tahun penjara.

Dalam kesempatan itu, polisi menghadirkan pihak dari Mahkamah Agung yakni Kepala Biro Hukum dan Humas MA, Abdullah. Abdullah mengimbau agar masyarakat tidak mudah percaya dengan orang-orang yang mengatasnamakan staf MA dan mengaku bisa membantu menuntaskan masalah-masalah yang sedang disidangkan.

"Dengan adanya penangkapan tersangka ini kami imbau masyarakat agar nggak percaya lagi apabila ada telepon atas nama MA apapun jabatan di MA apabila terkait perkara. Dengan demikian kita harus tingkatkan prinsip kehati-hatian agar masyarakat nggak jadi korban penipuan," jelasnya.


(sam/mei)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com