detikNews
Selasa 25 Juni 2019, 18:55 WIB

Profil BJ Habibie, Presiden Ketiga Indonesia yang Berulang Tahun Ke-83

Virgina Maulita Putri - detikNews
Profil BJ Habibie, Presiden Ketiga Indonesia yang Berulang Tahun Ke-83 Profil BJ Habibie, Presiden Ketiga Indonesia yang Berulang Tahun Ke-83/ Foto: Instagram
Jakarta - Siapa yang tidak mengenal sosok BJ Habibie. Ia merupakan sosok yang menginspirasi semua orang karena kecerdasannya.

Ia merupakan seorang insinyur yang berhasil membuat pesawat terbang yang diakui dunia. Selain itu, keahlian teknologinya itu membuatnya dekat dengan pemerintah dan akhirnya ia menjabat sebagai presiden ketiga Republik Indonesia pada 21 Mei 1998.

Kisah hidupnya yang menginsipirasi telah dituangkan dalam buku hingga film layar lebar. Berikut adalah profil singkat BJ Habibie.



Latar Belakang BJ Habibie

Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang lebih dikenal dengan BJ Habibie lahir di kota Pare-Pare, Sulawesi Selatan, pada tanggal 25 Juni 1936. Ia merupakan anak keempat dari delapan bersaudara dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A Tuti Marini Puspowardojo. Sang ayah berasal dari Gorontalo dan sang ibu berasal dari Yogyakarta.

Habibie kecil sangat gemar membaca dan memiliki hobi menunggang kuda. Dari hobi dan kebiasaan ini, ia mulai dikenal sebagai anak yang cerdas.

Setelah kehilangan sang ayah karena serangan jantung saat ia berusia 14 tahun, Habibie kecil beserta ibu dan saudaranya memutuskan untuk pindah ke kota Bandung. Di Kota Kembang tersebut, ia melanjutkan sekolahnya di Gouverments Middlebare School.

Pendidikan di ITB dan Jerman

Sejak usia dini, Habibie sudah menunjukkan ketertarikannya dengan ilmu sains, khususnya fisika. Ia dulunya bersekolah di SMAK Dago, Bandung yang kemudian dilanjutkan dengan kuliah di Institut Teknologi Bandung jurusan Teknik Mesin pada tahun 1954.

Habibie hanya menghabiskan waktu enam bulan untuk studinya di ITB. Hal ini karena setahun kemudian ia memilih untuk melanjutkan pendidikan di Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman.

Selama 10 tahun, mulai dari tahun 1955 hingga 1965, Habibie menempuh studi teknik penerbangan di RWTH. Ia meraih dua gelar sekaligus, yaitu Diplom Ingenieur pada tahun 1960 dan Doktor Ingenieur pada tahun 1965 dengan predikat summa cum laude.

Keluarga

Di sela-sela studinya, Habibie menyempatkan diri untuk pulang ke Indonesia. Selain mengunjungi makam ayahnya di Makassar, ia juga menyempatkan mengunjungi rumah tetangganya di Bandung yang tidak lain merupakan keluarga Hasri Ainun Besari, atau ibu Ainun Habibie.

Kedekatan keduanya pun berlanjut ke pelaminan, dan keduanya menikah pada tanggal 12 Mei 1962. Keduanya dikarunia dua oang anak yaitu Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie.

Setelah menikah Habibie dan sang istri pun tinggal di Jerman. Setelah menyelesaikan studi doktoralnya, ia bekerja di berbagai perusahaan penerbangan dan konstruksi pesawat.

Kembalinya BJ Habibie ke Indonesia

Sekembalinya Habibie ke Indonesia, ia langsung ditunjuk menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi selama dua dekade, mulai tahun 1978 hingga 1998. Pada tahun 1995 ia berhasil memimpin proyek pembuatan pesawat yang dinamai N250 Gatot Kaca yang merupakan pesawat pertama yang dibuat Indonesia.

Pesawat buatan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) ini selangkah lagi akan mendapatkan sertifikasi dari Federal Aviation Administration (FAA). Tapi ketika IPTN sedang berjaya, Presiden Soeharto memerintah penutupannya beserta industri lain karena krisis moneter pada tahun 1996 hingga 1998.



Diangkatnya Habibie Sebagai Presiden

Setelah IPTN ditutup, Habibie kemudian diangkat menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia pada tanggal 14 Maret 1998. Namun kerusuhan dan gejolak politik yang berpusat di Jakarta akhirnya menggulingkan Presiden Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun.

Setelah lengsernya Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998, Habibie pun otomatis diangkat menjadi presiden ketiga Republik Indonesia. Meski masa jabatannya terhitung singkat, Habibie berhasil menerapkan beberapa terobosan di Indonesia seperti Undang-undang Anti Monopoli, Undang-undang Partai Politik, dan Undang-undang Otonomi Daerah.

Dari sektor ekonomi, Habibie berhasil mendongkrak nilai tukar rupiah terhadap dolar, yang awalnya berkisar Rp 10.000 hingga Rp 15.000 untuk satu dolar menjadi Rp 6.500 di akhir pemerintahannya.

Dalam masa jabatannya juga terjadi referendum kemerdekaan Timor Timur pada tanggal 30 Agustus 1999 yang diikuti oleh semua masyarakat Timor-Timur. Dari hasil referendum tersebut, 78,5% penduduk Timor Timur menyatakan menolak otonomi khusus yang ditawarkan oleh pemerintah Indonesia.

Timor Timur pun akhirnya memisahkan diri dari Indonesia dan mengusung nama Timor Leste. Lepasnya Timor Timur dari Indonesia menjadi alasan bagi oposisi untuk melengserkan Habibie dari posisinya. Masa jabatannya sebagai presiden pun terhenti pada tanggal 20 Oktober 1999 dan ia digantikan oleh KH Abdurrahman Wahid.

Setelah Masa Kepemimpinan

Setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden, Habibie memilih untuk tinggal di Jerman. Tapi ia kembali aktif lagi di dunia politik pada era kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono dengan mendirikan organisasi Habibie Center.

Pada tanggal 22 Mei 2010, Indonesia dikejutkan dengan kabar meninggalnya istri Habibie, Hasri Ainun Habibie yang meninggal di Jerman karena kanker ovarium yang dideritanya. Untuk mengenang sang istri, Habibie menuliskan buku yang berjudul 'Habibie & Ainun' yang kemudian diangkat menjadi film dengan judul yang sama.
(vmp/nwy)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com