detikNews
Kamis 20 Juni 2019, 09:53 WIB

Menteri Siti Resmikan Pemasangan Penjernih Air di Tukad Badung Bali

Aditya Mardiastuti - detikNews
Menteri Siti Resmikan Pemasangan Penjernih Air di Tukad Badung Bali Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar meresmikan pemasangan penjernih air plasma generator dan nano bubble generator di Tukad (sungai) Badung, Denpasar, Bali.Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom
Denpasar - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar meresmikan pemasangan penjernih air plasma generator dan nano bubble generator di Tukad (sungai) Badung, Denpasar, Bali. Dengan teknologi ini diharapkan kualitas air di Tukad Badung bisa meningkat.

"Sistemnya namanya itu kan nano bubble, waktu Asian Games juga pernah kan ya, waktu Asian Games ada sungai di DKI kotor hitam dan bau itu kita beresin pakai nano bubble, sama juga di Depok, di Danau Pladen, pola ini sederhana juga, teknologi diciptakan oleh LIPI," kata Siti saat meninjau Tukad Badung, Jl Gajah Mada, Denpasar, Bali, Kamis (20/6/2019).

Siti mengatakan teknologi nano bubble itu menggunakan bola-bola udara berisi oksigen untuk mengurai material bau dan kotoran di dalam sungai. Ada tiga unit nano bubble yang dipasang di Tukad Badung.

"Dikasih bola-bola udara, ya bubble yang isinya adalah oksigen dia akan menangkap material yag bau dan kotor dengan reaksi oksigen, biasanya air kalau dia busuk itu karena oksigennya kurang, dengan segala material dan tidak bisa diurai secara alam, sekitar 1-2 minggu dapat diatasi," jelasnya.

Dia mengajak partisipasi masyarakat untuk mengubah perilaku membuang sampah ke sungai. Apalagi Bali merupakan salah satu destinasi pariwisata dunia.

"Betul kata Pak Wali Kota di dalam sambutan beliau yang paling penting sebetulnya adalah mengajak masyarakat. Jangan buang lagi dong sampahnya, jangan jelek dong sungainya, gitu kira-kira. Tempat kayak gini masa kita nggak bisa sayang, tempat gini di sampah-sampahin, kan sayang gitu ya. jadi saya kira langkah-langkah mengajak masyarakat apalagi Bali ya dinamis," terangnya.

 Dia mengajak partisipasi masyarakat untuk mengubah perilaku membuang sampah ke sungai. Dia mengajak partisipasi masyarakat untuk mengubah perilaku membuang sampah ke sungai. Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom

Siti lalu bercerita soal pertemuannya dengan delegasi dari negara Belanda dan Inggris beberapa waktu lalu. Mereka sangat tertarik mengenai pengelolaan sampah laut di Pulau Dewata dan peran serta semua pihak menanganinya.

"Saya waktu dialog bilateral dengan Belanda dan dengan Inggris, waktu soal bicara soal marine litter itu yang ditanyain Bali. Bagaimana penanganan sampah di Bali, bagaimana peran swasta, saya bilang Bali dinamis, berani dengan institusi apa namanya aturan-aturan regulasi, swastanya juga mendukung," jelasnya.

"Apa bentuknya kata mereka, saya tahu kayak Coca-cola dia kirim truk untuk angkut angkut sampah-sampah yang di pantai di Kuta, terus beberapa misalnya Nestle, Unilever, dia nyiapin dropbox, dropbox jadi masyarakat dikasih tempat untuk membuangnya sebelah mana lalu diangkut dan lain-lain. Jadi pada dasarnya sinergi ini yang penting akhirnya, swasta penting, masyarakat apalagi pemerintah daerahnya memfasilitasi," sambung Siti.

Untuk diketahui penjernihan ini menggunakan konsep ekoriparian yang bertujuan mengembalikan sungai sebagai sumber kehidupan, dan menjadikan sungai sebagai halaman depan tempat publik berinteraksi. Sebelum di Denpasar, hal ini sudah diterapkan di Sungai Ciliwung di ruas Srengseng Sawah, DKI Jakarta, di Sungai Cidadap (Anak Sungai Citarum) Provinsi Jawa Barat, di Danau Maninjau Provinsi Sumatera Barat, di Danau Toba Provinsi Sumatera Utara serta di Situ Pladen Kota Depok.
(ams/aan)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com