detikNews
Senin 17 Juni 2019, 19:15 WIB

Saksi Ngaku 'Jual Nama' Gamawan Fauzi agar Dapat Fee Proyek IPDN

Faiq Hidayat - detikNews
Saksi Ngaku Jual Nama Gamawan Fauzi agar Dapat Fee Proyek IPDN Sidang lanjutan perkara dugaan korupsi proyek pembangunan gedung IPDN di Pengadilan Tipikor, Senin (17/6/2019). (Foto: Faiq Hidayat/detikcom)
Jakarta - Saksi Hendra mengaku 'menjual nama' Gamawan Fauzi untuk memperoleh fee proyek pembangunan kampus IPDN di Kabupaten Agam Bukittinggi. Perbuatan Hendra--pihak swasta--tersebut dilakukan bersama Afdal Noverman alias Dadang.

Awalnya, Hendra mengetahui General Manager Divisi Gedung PT Hutama Karya (HK) Budi Rachmat Kurniawan mengerjakan proyek pembangunan kampus IPDN tersebut. Kemudian Hendra mengajak Dadang bertemu dengan Budi Rachmat dengan jual nama Gamawan Fauzi saat menjabat Menteri Dalam Negeri.

"Saya bilang temannya Pak Dadang, saya bilang ini kebetulan adiknya Bapak (Gamawan Fauzi) tapi Bapak (Budi) enggak tahu sama sekali adiknya Pak Gamawan," ujar Hendra saat bersaksi dalam sidang Budi Rachmat di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta, Senin (17/6/2019).


Dalam pertemuan dengan Budi, Hendra menyebut adanya kesepakatan dengan Dadang meminta fee proyek tersebut. Jumlah fee yang dimintanya sebesar 2,5 persen dari nilai proyek yang dikerjakan. Diketahui dalam dakwaan perkara ini, nilai proyek tersebut sebesar Rp 127 miliar.

"(Fee) 2,5 persen, saya sempat ke kamar mandi ke toilet setelah itu bicara 2,5 persen denger-nya dari nilai proyek," jelas dia.

Atas fee tersebut, Hendra menyebut Dadang menerima sekitar Rp 2,8 miliar secara bertahap dari Budi terkait proyek tersebut. Sebab, Hendra mengaku pernah mengambil uang itu atas permintaan Dadang.

Tapi jaksa bertanya alasan Hendra menerima uang tersebut karena Dadang tidak mempunyai kaitan untuk mengerjakan proyek itu.

"Kami jual Pak Gamawan," jawab Hendra.

Jaksa pun merasa heran kenapa Hendra jual nama Gamawan kepada Budi. Menurut Hendra, Gamawan saat itu menjabat Menteri Dalam Negeri.

"Karena waktu itu Pak Gamawan itu dulu menteri jadi saya dengan Pak Dadang, kalau saya sendiri sebagai apa kan ibarat saya sebagai siapa gitu, jadi berdua dengan Pak Dadang untuk dapat uang itu," ucap dia.

Dalam perkara ini, terdakwa Budi Rachmat Kurniawan didakwa melakukan korupsi yang mengakibatkan kerugian negara sejumlah Rp 56,913 miliar. Perbuatan Budi disebut memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi terkait proyek pembangunan kampus IPDN di Kabupaten Agam Bukittinggi.
(fai/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com