detikNews
Jumat 31 Mei 2019, 19:13 WIB

Cak Imin Kisahkan Tirakat Pendiri NU soal Pancasila dan Syariat Islam

Elza Astari Retaduari - detikNews
Cak Imin Kisahkan Tirakat Pendiri NU soal Pancasila dan Syariat Islam Cak Imin (tengah) dan Daniel Johan (kanan). (Foto: Istimewa)
Jakarta - Sabtu 1 Juni esok hari merupakan peringatan Hari Lahir Pancasila. Ketum PKB Muhaimin Iskandar mengisahkan soal tirakat pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy'ari soal Pancasila yang berkesinambungan dengan syariat islam.

"Pada suatu pagi di bulan Juni tahun 1945, Kiai Hasyim Asy'ari memanggil putranya, Wahid Hasyim. Menyampaikan bahwa, setelah melewati tirakat berhari-hari, Pancasila adalah sejalan dengan syariat Islam," ujar Muhaimin Iskandar dalam keterangannya, Jumat (31/5/2019).

Pria yang akrab disapa Cak Imin itu mengungkap hasil tirakat KH Hasyim Asy'ari soal pasal-pasal dalam Pancasila yang senada dengan syariat Islam.

"Ketuhanan Yang Maha Esa adalah prinsip ketauhidan dalam Islam (hablumminallah), sementara empat sila lainnya adalah wujud kasih kepada sesama ciptaan-Nya (hablumminannas)," jelas Cak Imin.


"Kata-kata Mbah Hasyim adalah keputusan final yang membungkus rapat segala keraguan di kalangan jemaah NU. Kalangan nonmuslim dan minoritas lalu menyambutnya, dan bersiap menjadikan prinsip baru ini sebagai rumah besar tempat berteduh," sambungnya.

Menurut Cak Imin, Pancasila adalah sebuah mahakarya atau masterpiece yang hadir saat Indonesia tercabik dan terluka parah akibat kolonialisme. Pancasila disebutnya menjadi perekat bagi semua yang terbelah.

"Menjadi jawaban bagi setumpuk pertanyaan tentang bagaimana mengubah 'aku' dan 'kamu' menjadi 'kita'. Sebuah tempat yang kehadirannya menegaskan bahwa 'kita' ini, siapa pun dan apa pun dengan berbagai ragam suku agama dan latarbelakang adalah Indonesia. Bagian sah dari Republik ini, yang setara hak dan tanggung jawabnya di mata hukum dan UU," ucap Cak Imin.

Dari hasil tirakat KH Hasyim Asy'ari, Wakil Ketua MPR itu menegaskan Pancasila dan syariat Islam berjalan seiringan di tubuh PKB. Cak Imin menegaskan, PKB akan setia mengawal kebinekaan.

"Pancasila adalah jalan tengah dan PKB adalah bagian utuhnya. Partai yang berjalan di garis nasionalis agamis. Kami berjalan lurus sambil memegang Garuda kuat-kuat," tegasnya.


"Kami dedikasikan partai ini untuk perjuangan mengawal kebangsaan dan kebinekaan, persamaan, kemanusiaan, dan keadilan, bagi semua warga Indonesia, yang berhak mendapat kepastian hidup, baik sosial, ekonomi, politik, dan budaya, sampai kapan pun, seperti doa Mbah Hasyim dan cita-cita Bung Karno," sambung Cak Imin.

Cak Imin mengatakan PKB berperan sebagai garda perekat menjaga cita-cita luhur pendiri bangsa ini. PKB disebutnya akan setia kepada negara.

"Karena itulah PKB disebut dari NU untuk bangsa. Kebangkitan untuk segenap warga Indonesia, kebangkitan untuk bangsa. Selamat Hari Lahir Pancasila," ucap Cak Imin.

Sementara itu, Wasekjen PKB Daniel Johan menjelaskan makna dari pesan Cak Imin. Menurutnya, kisah sang ketum bentuk dari keprihatinan atas terbelahnya masyarakat selama Pilpres 2019.

"Bagaimanapun, semuanya adalah rakyat kita, beda pilihan dalam pilpres adalah hal yang sangat wajar, tapi tidak perlu sampai membelah masyarakat," kata Daniel Johan.

Menurut anggota DPR ini, semua masyarakat harus bersatu kembali, terutama di bulan suci Ramadhan. Daniel mengatakan semua pihak harus saling bermaaf-maafan apalagi dalam momen Idul Fitri.

"Kita harus perkuat silaturahmi, saling memberi maaf atas segala kekurangan, dan Cak Imin akan keliling ke tokoh-tokoh agama dan masyarakat untuk memperkuat dialog kebangsaan, meminta masukan agar Pancasila terwujud dalam kehidupan sehari-hari rakyat khususnya keadilan sosial dan memajukan peradaban," tuturnya.
(elz/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com