detikNews
Kamis 23 Mei 2019, 06:37 WIB

Kontras Desak Elite Politik Setop Keluarkan Pernyataan yang Picu Kerusuhan

zap - detikNews
Kontras Desak Elite Politik Setop Keluarkan Pernyataan yang Picu Kerusuhan Suasana Perusuh di Bawaslu (Foto: Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta - KontraS meminta semua elite politik dari kubu Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno bertanggung jawab atas kerusuhan yang terjadi akhir-akhir ini. KontraS menilai pernyataan tiap-tiap kubu bukannya mendinginkan suasana malah makin memperkeruh situasi.

"Kedua belah pihak terus melontarkan pernyataan publik yang semakin memperkeruh keadaan (terlampir). Alih-alih mendinginkan suasana, pernyataan kedua kubu justru semakin memperburuk situasi sejak sebelum dan setelah penetapan pemenang pilpres oleh KPU," demikian keterangan tertulis KontraS yang diterima, Rabu (22/5/2019) malam.


Dalam catatannya, KontraS menyatakan, pascapemilu ini, terjadi kerusuhan di beberapa titik, yakni Petamburan, Slipi, KS Tubun, Sabang, dan Wahid Hasyim. Karena kerusuhan ini, sejumlah orang terluka dan meninggal dunia.

"Hasil pantauan sementara dari sejumlah rumah sakit dan lapangan, kami mencatat setidaknya 300 orang mengalami luka-luka, 10 orang luka berat, dan 5 orang meninggal dunia yang telah terverifikasi, beberapa korban yang meninggal dunia diidentifikasi mengalami luka tembak di bagian dada dan leher. Kami juga mengidentifikasi bahwa massa demonstran berasal dari beragam daerah, seperti Tangerang, Bekasi, Bangka, Bogor, dan Depok, umumnya masih berusia kisaran remaja," ucapnya.

KontraS juga menilai langkah pemerintah yang membatasi akses informasi tidak membantu meredam situasi. Langkah itu dinilai tidak menunjukkan tanggung jawabnya suatu negara.

"Langkah pemerintah untuk membatasi akses informasi tidak membantu meredam situasi dan tidak menunjukkan tanggung jawabnya sebagai negara. Di sisi lain, pernyataan-pernyataan elite politik dari kedua kubu menunjukkan kegagalan mereka dalam melakukan self-cencorship atas ucapan-ucapannya, seperti Wiranto dan Amien Rais," katanya.


Akibat peristiwa ini, KontraS mendesak aparat kepolisian harus bisa menjamin keamanan bagi warganya dan meminimalkan bentuk kekerasan. Tak hanya itu, KontraS juga meminta kedua belah kubu berhenti memanas-manasi situasi dengan pernyataan mereka.

"Pertama, aparat kepolisian untuk memastikan kebebasan berkumpul dan menyampaikan pendapat mendapatkan perlindungan jaminan keamanan, termasuk meminimalisir segala bentuk represivitas yang dapat menambah eskalasi kekerasan dan jatuhnya korban jiwa. Kami menyerukan kepada pihak Kepolisian untuk tetap menjadikan prinsip-prinsip proporsionalitas, serta penghormatan, penghargaan, perlindungan, serta pemenuhan hak asasi manusia sebagai pembatasan dan rel dalam merespons dan menyikapi masa aksi di lapangan. Kedua, para elite politik dari kedua belah kubu (pemerintah dan Prabowo-Sandiaga Uno) menghentikan pernyataan dan kebijakan yang dapat memicu eskalasi kekerasan, serta melakukan upaya aktif untuk meredakan situasi dan kondisi yang terjadi," tutupnya.



Tonton juga video Penjelasan Kapolri Soal 6 Orang Tewas dalam Aksi 22 Mei:

[Gambas:Video 20detik]


(zap/knv)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com