detikNews
Selasa 21 Mei 2019, 17:35 WIB

Cerita Berkesan Ramadhan

Tradisi Bulan Suci di Bumi Para Nabi

Wafi Maqosid - detikNews
Tradisi Bulan Suci di Bumi Para Nabi Masjid Sayidina Hussein di Kairo (Wafi Maqosid/Istimewa)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadhan
Kairo - Mesir adalah Bumi Para Nabi. Peradaban Islam mengakar kuat di sana dan menghadirkan pengalaman Ramadhan yang berkesan.

Mesir adalah negara yang terletak di belahan utara benua Afrika meskipun sebagian wilayahnya yaitu Semenanjung Sinai, yang merupakan bagian dari benua Asia. Islam masuk ke Mesir dibawa oleh seorang panglima sekaligus sahabat Rasulullah, Amru bin Ash pada tahun 641 M.

Negara yang dijuluki Ardlu Al Anbiya atau Bumi Para Nabi ini memiliki 90% penduduk penganut muslim dari total jumlah penduduknya. Maka tidak heran kita akan menjumpai budaya menarik khas Mesir selama bulan Ramadhan.

Bulan suci Ramadhan tahun ini bertepatan dengan awal bulan Mei dalam kalender masehi. Secara iklim, musim semi sedang terjadi di Mesir sejak awal bulan maret yang mempengaruhi cuaca berada pada kisaran 35°- 40°C. Hal ini mengakibatkan waktu di siang hari lebih lama daripada malam hari sehingga waktu berpuasa selama satu hari rata-rata adalah 15 jam. Bisa dibayangkan bagaimana panas matahari menyengat bahkan angin berhembus pun tidak terasa sepoinya.

Tradisi Bulan Suci di Bumi Para NabiMasjid Al Azhar di Kairo (Wafi Maqosid/Istimewa)
Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan kali kedua saya selama tinggal di Mesir. Secara pribadi saya belajar dari pengalaman puasa tahun lalu dengan kondisi serupa. Karena bagi saya, puasa di Mesir bukan sekedar melawan hawa nafsu, melainkan juga melawan hawa panas yang sangat mencekam.

Satu tips yang tidak pernah luput saya terapkan dan cukup efisien membantu hari-hari saya yang terbakar adalah mengkonsumsi air putih di malam hari sebanyak mungkin terutama saat sahur, kemudian minum satu gelas air hangat sebelum waktu imsak. Guna air hangat disini adalah menghilangkan sisa-sisa lemak makanan yang menyangkut di tenggorokan. Tidak jarang kan kita tetap merasa haus saat puasa padahal di malam hari sudah cukup banyak minum air putih, satu gelas air hangat menjelang imsak adalah solusinya.

Selalu ada jawaban di setiap ujian, selalu ada kepastian di balik penantian. Dua nasehat tersebut cukup tepat menggambarkan jerih-payah puasa di negara yang terletak di benua Afrika ini. Sebabnya setiap sore hari menjelang berbuka, hampir di setiap tempat digelar penyajian Maidatu Ar Rahman atau Hidangan Tuhan. Inilah suguhan yang mampu menjawab ujian puasa saya sebagai kepastian dari penantian waktu berbuka.

Hidangan Tuhan ini disediakan oleh para Muhsinin atau donatur secara cuma-cuma, bahkan tidak jarang beberapa petugas penyelenggara memaksa pejalan kaki yang berlalu-lalang di sekitar area untuk ikut serta berbuka puasa bersama tak terkecuali Wafidin atau mahasiswa asing. Sebagaimana kita tahu dalam hadits Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa keutamaan memberi makan orang yang berpuasa adalah mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikit pun (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Tradisi Bulan Suci di Bumi Para NabiBerbuka puasa bersama di Kairo (Wafi Maqosid/Istimewa)
Tidak perlu cemas akan berbuka dengan apa. Cukup bermodalkan jalan kaki, hampir setiap 300-500 meter dapat kita temui bangunan tenda atau meja-kursi berderet rapi tempat Hidangan Tuhan disediakan.

Selain tantangan hawa panas di siang hari, Ramadhan di Mesir mempersingkat waktu malam dari hari-hari biasa di luar bulan Ramadhan dengan rata-rata 9 jam setiap harinya. Adzan shubuh di musim dingin biasanya berkumandang pukul 04.45 CLT. Berbanding tajam saat musim semi yang bertepatan dengan bulan Ramadhan, dimana adzan subuh bermula pukul 03.30 CLT.

Karena di sini tidak ada peringatan masuknya waktu imsak sebagaimana di Indonesia, setiap selesai sahur, saya dan kawan-kawan selalu melihat kalender imsakiyah yang berlaku. Fakta yang kami dapatkan setiap harinya adalah waktu subuh semakin maju dan maghrib semakin mundur sehingga waktu berpuasa kami semakin panjang.

Waktu malam yang cukup pendek selama Ramadhan adalah ujian tersendiri bagi saya untuk memanfaatkannya sebaik mungkin. Secara kalender akademik, Universitas Al-Azhar menempatkan ujian akhir semester di bulan Ramadhan hingga 3 pekan awal bulan Syawal. Ketentuan demikian secara otomatis memacu diri saya lebih banyak menggunakan waktu untuk belajar terutama di pagi hari. Sehingga nikmat tidur orang berpuasa yang konon adalah ibadah, harus rela saya ganti dengan menidurkan diktat kuliah dan membacanya daripada sekedar membiarkannya berdiri di rak buku.

Tradisi Bulan Suci di Bumi Para NabiMenu buka puasa (Wafi Maqosid/Istimewa)
Bagi saya, Ramadhan selalu spesial sampai kapan pun. Selagi kita masih diberikan kesempatan berjumpa hingga menuntaskan selama sebulan penuh, adalah nikmat yang luar biasa. Sejenak kita membayangkan perjuangan para sahabat Nabi menghadapi pasukan Quraisy di medan perang Badar Al Kubro yang terjadi di bulan Ramadhan, adalah cambukan bagi kita bahwa tempat dan waktu bukan lagi alasan untuk tidak memaksimalkan ibadah. Selamat menunaikan ibadah puasa, semoga amal perbuatan kita diterima oleh Allah SWT. Ramadhan kareem...

*) Wafi Maqosid adalah mahasiswa Fakultas Syariah Islamiyyah Universitas Al Azhar Kairo, anggota Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir.
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama detikcom dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia).

***

Para pembaca detikcom, bila Anda juga mahasiswa Indonesia di luar negeri dan mempunyai cerita berkesan saat Ramadhan, silakan berbagi cerita Anda 300-1.000 kata ke email: ramadan@detik.com cc artika@ppidunia.org dengan subjek: Cerita PPI Dunia. Sertakan minimal 5 foto berukuran besar karya sendiri yang mendukung cerita dan data diri singkat, kuliah dan posisi di PPI.
(fay/fay)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadhan
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com