detikNews
Selasa 21 Mei 2019, 15:05 WIB

Rapat di DPR, Kakorlantas Beberkan Kesiapan Mudik di Pantura-Sumatera

Zakia Liland Fajriani - detikNews
Rapat di DPR, Kakorlantas Beberkan Kesiapan Mudik di Pantura-Sumatera Foto: Rapat persiapan mudik 2019 di DPR (Zakia Liland Fajriani/detikcom)
Jakarta - Kakorlantas Polri Irjen Refdi Andri melaporkan kekuatan yang akan diturunkan saat pelaksanaan Operasi Ketupat 2019. Refdi juga berbicara soal kesiapan mudik di Pantura hingga Tol Trans Sumatera.

"Jumlah personel kami yang melakukan Operasi Ketupat 2019 yang jumlahnya 93.000 orang. Yang kalau kami kalikan bisa kali dua dengan semua kekuatan yang ada. Jumlahnya hampir sama dengan penyebaran-penyebaran penduduk yang ada di Pulau Jawa dengan kekuatan 60% dari jumlah kekuatan operasi kepolisian," papar Andri saat rapat kerja bersama Komisi V DPR, Selasa (21/5/2019).


Operasi ketupat tahun ini akan diselenggarakan selama 13 hari mulai dari 29 Mei-10 Juni. Dalam memastikan keamanan dan kenyamanan masyarakat saat mudik, Polri juga didukung oleh TNI, Kementerian Perhubungan hingga Kementerian Kesehatan.

"90.000 lebih polisi siaga ditambah dengan perkuatan-perkuatan dari mitra terkait, dari TNI, dari Kemenhub dan lain sebagainya. Sehingga semua pihak-pihak lalu lintas itu melibatkan kekuatan-kekuatannya termasuk dari Kementerian Kesehatan," lanjutnya.

Menyongsong mudik Lebaran 2019, Kakorlantas memberikan perhatian terhadap hal-hal yang dapat mengganggu kelancaran mudik di antaranya empat pekerjaan di Tol Cikampek. Selain itu, Jalur Pantura yang sering ditemui masalah-masalah klasik seperti pasar tumpah, kegiatan meminta sumbangan di jalan maupun potensi bencana alam, turut jadi atensi.

"Utamanya seperti pasar tumpah, persoalan-persoalan jalanan. Kemudian ada sumbangan-sumbangan yang meminta dari waktu ke waktu. Ada pula potensi-potensi bencana alam dan lain-lain sebagainya. Ini semua jadi perhatian kami," tuturnya.


Tidak hanya fokus pada jalur mudik di Jawa, Refdi turut menyoroti kendala-kendala yang ada di Tol Trans-Sumatera. Salah satu di antaranya, kata Refdi, terkait masalah rest area yang tidak sebanding dengan di Jawa. Akibatnya, masyarakat terpaksa harus turun ke rumah-rumah warga untuk makan.

"Kemudian yang jadi persoalan adalah rest areanya. Memang sebagaimana konsep-konsep yang ada di Jawa, itu memang sangat-sangat belum memadai sehingga masyarakat kita yang melintas di sana, utamanya ketika mereka ingin memenuhi kebutuhan untuk makan dan lain-lain, harus turus ke kampung sebelah tol, turun ke kampung itu," ujar Andri.

Belum tersedianya rambu-rambu pada KM 238 Terbanggi Besar-Pematang Panggang disebutkan menyebabkan jalan tol ini hanya dapat digunakan maksimal pada siang hari. Masalah tersebut disebutkan terjadi karena pengerjaan yang baru memasuki masa awal.

"Khususnya KM 238. Itu hanya dimanfaatkan pada siang hari saja. Mengingat memang rambu-rambu, marka, penerangan, border dan lain-lain memang belum disempurnakan atau baru pada tahap-tahap awal," paparnya.


Meskipun operasional tol direncanakan pada siang hari, Refdi beserta pihak-pihak terkait belum menetapkan jam kerja tol tersebut. Ia berharap jalur ini dapat digunakan mulai 5.00 WIB-17.00 WIB.

"Tapi jamnya pun belum kami ditetapkan. Dan mudah-mudahan semenjak pukul 5.00 WIB pagi hari dan bisa hingga pukul 17.00 WIB di sore hari," sambungnya.
(gbr/gbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed