detikNews
Selasa 21 Mei 2019, 13:16 WIB

Terkait Pansel KPK, ICW: Aktivis yang di Istana Mengecewakan!

Andi Saputra - detikNews
Terkait Pansel KPK, ICW: Aktivis yang di Istana Mengecewakan! Donal Fariz (Foto: Ari/detikcom)
Jakarta - Presiden Jokowi bergeming dan tetap pada pilihan 9 nama untuk duduk sebagai Pansel Pimpinan KPK. ICW dkk yang selama ini mengkritisi rekrutmen Pansel, sangat kecewa. Termasuk ke para aktivis yang sudah direkrut duduk di Istana.

"Tidak hanya Jokowi, kinerja para aktivis yang berada dalam lingkaran Istana saat ini pun mengecewakan," kata pegiat dari ICW, Donal Fariz, kepada detikcom, Selasa (21/5/2019).


Pansel itu diketuai Yenti Ganarsih dengan wakilnya Indriyanto Senoadji. Adapun anggotanya adalah Harkristuti Harkrisnowo, Marcus Priyo Gunarto, Hamdi Moeloek, Diani Sadia Wati, Mualimin Abdi, Hendardi, dan Al Araf.

"Padahal Jokowi dikelilingi para aktivis antikorupsi dan HAM dengan nama besar dan record mentereng. Dari komposisi Pansel saat ini ada kesan para aktivis gagal untuk meyakinkan Jokowi memilih komposisi Pansel terbaik yang pada akhirnya juga diharapkan bisa menghasilkan pimpinan KPK yang terbaik," cetus Donal.


Penolakan nama-nama Pansel dilakukan oleh Pusako, Fitra Riau, Saka, Gerak Aceh, Perkumpulan Integritas, Bhakti UBH, dan Jikalahari. Ikut pula Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi. Koalisi ini terdiri atas Indonesia Corruption Watch (ICW), Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) UGM, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum Universitas Andalas, MCW, KRPK, SAHDAR Medan, GAK Lintas Perguruan Tinggi, Banten Bersih, dan MaTA Aceh.

"Disayangkan komposisi Pansel Capim KPK mengandung masalah serius. Ada nuansa bahwa Presiden lebih mempertimbangkan harmoni dan kompromi kepentingan elite dalam lingkaran terdekatnya daripada upaya yang sungguh-sungguh untuk memberantas korupsi," pungkas Donal.
(asp/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed