detikNews
Senin 20 Mei 2019, 17:23 WIB

Anggota TKN Sebut PD Gerah dengan 'Kelompok Ideologi Khilafah' di Koalisi 02

Tim Detikcom - detikNews
Anggota TKN Sebut PD Gerah dengan Kelompok Ideologi Khilafah di Koalisi 02 Foto: Benny Rhamdani. (Yulida/detikcom).
Jakarta - Partai Demokrat (PD) mempertimbangkan untuk keluar dari Koalisi Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, menyusul bully-an dari buzzer kepada Ani Yudhoyono. Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin tak kaget dengan manuver Demokrat itu.

"Itu bukti bahwa elite partai pendukung Prabowo mengalami titik balik kesadaran politik, yang awalnya dengan segenap militansi memberikan dukungan ke Prabowo, kemudian proses perjalanan dukungan kepada Prabowo ini kan mereka juga belajar dari fakta-fakta dan realitas di lapangan," ungkap Direktur Kampanye TKN Jokowi-Ma'ruf, Benny Rhamdani kepada wartawan, Senin (20/5/2019).

Benny kemudian menyinggung soal kelompok pendukung Prabowo-Sandiaga di luar koalisi partai politik. Kelompok tersebut yang juga sempat disinggung oleh pihak Demokrat beberapa waktu lalu.

"Kelompok yang memberikan dukungan ke Prabowo ini kan justru tidak datang dari parpol, tapi misalnya masuknya organisasi yang jelas-jelas mengusung ideologi khilafah, yang ingin menggantikan ideologi negara. Inilah yang disebut kelompok yang dinilai oleh elite Demokrat atau elite partai yang sebelumnya mendukung Prabowo, dianggap jadi tidak realistis, dan bahkan dianggap sebagai ancaman serius bagi perjuangan bangsa ini," sebut Benny.

Politikus Hanura itu kemudian menyinggung salah satu tokoh pendukung Prabowo-Sandiaga, Bachtiar Nasir. Eks Ketua GNPF-MUI itu, disebut Benny, mengambil alih kepemimpinan koalisi pasangan nomor urut 02 tersebut.

"Fakta Bachtiar Nasir, kemudian mengambil alih kepemimpinan Kertanegara, padahal orang tahu persis, Bachtiar Nasir memiliki faham ideologi khilafah, yang mengharamkan dan menganggap demokrasi itu adalah setan atau thogut, justru dia adalah orang yang paling ribut, paling rese yang mempersoalkan hasil dari pesta demokrasi di negara demokrasi," tuturnya.


"Jadi tidak hanya sekedar tidak relevan, tapi juga tidak rasional. Bagaimana bisa orang yang anti-demokrasi dan mengatakan demokrasi itu setan/thogut justru dia mengambil alih kepemimpinan Kertanegara atau markas Prabowo-Sandi, sebagai orang terdepan yang mempersoalkan hasil demokrasi," sambung Benny.

Dia juga menyinggung mengenai isu people power yang pertama kali digaungkan oleh Amien Rais. Menurut Benny, kubu Prabowo-Sandi melakukan framing adanya kecurangan di Pemilu 2019 untuk motif lain berkaitan dengan isu people power.

"Dicurigai ada motif lain dari gerakan politik people power ini yang lebih ditunggangi oleh kelompok yang memang anti-pemerintah dan ingin mengganti ideologi negara, yaitu kelompok HTI," sebutnya.

Faktor-faktor itulah yang menurut Benny menjadi titik balik Demokrat mulai meninggalkan Prabowo-Sandi. Ia tak heran kini para pendukung 'die hard' Prabowo mulai balik badan, seperti dua elite Demokrat, Ferdinand Hutahaean dan Jansen Sitindaon.

"Nah titik balik kesadaran politik ini lah yang kemudian ditemukan oleh para elit partai yang dulu mendukung Prabowo, mereka yang berasal dari partai, hingga hari ini memiliki komitmen yang kuat terhadap ideologi Pancasila. Sehingga wajar kalau kemudian mereka mengambil posisi balik badan dan meninggalkan Prabowo," ungkap Benny.

Anggota DPD RI itu menyayangkan Prabowo-Sandi belum menemukan titik balik itu. Benny lalu menyindir eks Danjen Kopassus tersebut yang menurutnya akan ditinggalkan oleh para pendukungnya kelak.

"Kesadaran atau titik balik kesadaran ini muncul dari pendukungnya, tapi sayangnya Prabowo-Sandi justru belum mengalami titik balik fase kesadaran politik ini. Yang pasti Prabowo akan ditinggalkan, dan Prabowo hanya akan menjadi sejarah bahwa ia pernah mencalonkan diri di Pilpres sebanyak 3 kali, dan kalah," kata dia.


Seperti diketahui, Demokrat mempertimbangkan untuk keluar dari Koalisi Indonesia Adil dan Makmur. PD kesal karena istri sang ketum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Bu Ani yang sedang sakit kanker dibully oleh pihak yang dituding sebagai buzzer Prabowo-Sandi.

"Situasi ini jelas menjadi bahan pertimbangan kami apakah kami masih pantas terus berada di koalisi Prabowo ini atau segera mundur saja dari koalisi ini," ucap Jansen Sitindaon.

Meski begitu, Jansen menyebut keputusan Demokrat bertahan atau keluar dari koalisi Prabowo-Sandi akan diambil oleh para petinggi partai. Hanya saja yang jelas, Jansen menegaskan mundur meski di Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, dirinya bertugas sebagai salah satu juru bicara.

"Tapi terkait ini biarlah nanti institusi Partai yang secara resmi memutuskan ya. Ada Ketua Umum di situ, Sekjen dan Majelis Tinggi Partai. Kalau ditanya sikap pribadi saya sebagai kader, maka saya sungguh sudah tidak nyaman dengan keadaan ini. Dan saya pribadi akan pamit baik baik mundur dari barisan pak Prabowo ini. Karena begini begini saya ini juga ini kan ikut berjuang habis-habisan untuk memenangkan Pak Prabowo," tambahnya.
(elz/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed