detikNews
Kamis 02 Mei 2019, 14:25 WIB

Kasus Kekerasan Anak Masih Tinggi, KPAI Minta Sekolah Ramah Anak Diperkuat

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Kasus Kekerasan Anak Masih Tinggi, KPAI Minta Sekolah Ramah Anak Diperkuat KPAI (Foto: Lisye/detikcom)
Jakarta - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat sepanjang sebanyak 37 kasus kekerasan terhadap anak terjadi sepanjang Januari hingga April 2019. KPAI meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag) memperkuat program Sekolah Ramah Anak (SRA).

"Berkaitan dengan tingginya kasus-kasus kekerasan di satuan pendidikan baik yang dilakukan oleh guru terhadap siswa, siswa terhadap guru, siswa terhadap siswa lainnya. Sehingga KPAI mendorong Kemdikbud RI dan Kemenag RI untuk memperkuat segala upaya dalam percepatan terwujudnya program Sekolah Ramah Anak (SRA) di seluruh Indonesia," ujar Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti di Kantor KPAI Jalan Teuku Umar, Meneteng, Jakarta Pusat, Kamis (2/5/2019).



Retno mengatakan kasus kekerasan terhadap anak masih terjadi meskipun Sekolah Ramah Anak sudah berdiri di beberapa daerah. Jumlah Sekolah Ramah Anak mencapai belasan ribu.

"Saat ini jumlahnya SRA di Indonesia sekitar 13 ribuan dari 400 ribu sekolah dan madrasah yang ada di Indonesia," lanjutnya.



Retno juga meminta pemerintah untuk kembali menerapkan falsafah pendidikan sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Pendidikan dimaknai sebagai suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru bangsa.

"Artinya, pendidikan sejatinya menguatkan kebudayaan dan nilai-nilai luhur bangsa kepada generasi muda atau peserta didik. Ki Hajar Dewantara membedakan antara sistem pengajaran dan pendidikan," kata Retno.

"Pendidikan dan pengajaran idealnya memerdekakan manusia secara lahiriah dan batiniah selalu relevan untuk segala jaman," sambung dia.



Sebelumnya, KPAI memaparkan hasil pengawasan kasus pelanggaran anak di bidang pendidikan selama Januari hingga April 2019. KPAI mengatakan pelanggaran hak anak mayoritas terjadi pada kasus perundungan.

"Diperoleh data bahwa pelanggaran hak anak di bidang pendidikan masih didominasi oleh perundungan, yaitu berupa kekerasan fisik, kekerasan psikis dan kekerasan seksual," ujar Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti di Kantor KPAI, Jalan Teuku Umur, Menteng Jakarta Pusat, Kamis (2/5/2019).

Retno memaparkan data KPAI atas anak korban kekerasan fisik dan bullying meliputi anak dituduh mencuri, anak di-bully oleh teman-temannya, anak di-bully oleh pendidik dan saling ejek di dunia maya. Selain itu adalah permasalahan anak dipersekusi di dunia nyata, anak korban pemukulan, anak korban pengeroyokan dan sejumlah siswa SD dilaporkan ke Polisi oleh kepada sekolah.

Retno melanjutkan kasus berikutnya adalah kasus anak sebagai bullying terhadap guru kemudian divideokan dan viral di dunia maya. Berdasarkan data yang diperoleh KPAI, kasus ini meningkat pada 2019.

"Selain itu, anak sebagai pelaku bullying terhadap guru kemudian divideokan dan viral juga meningkat pada tahun 2019. Dengan cakupan wilayah yaitu Gresik, Yogyakarta, dan Jakarta Utara. Sementara pada tahun 2018 hanya satu, yaitu di Gresik," kata dia.
(knv/knv)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed