DetikNews
Jumat 26 April 2019, 20:38 WIB

Round-Up

Hanura Terancam Tak Masuk Senayan, Wiranto Menolak Disalahkan

Tim Detikcom - detikNews
Hanura Terancam Tak Masuk Senayan, Wiranto Menolak Disalahkan Wiranto (tengah). (Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta - Hanura menjadi partai lama yang terancam tak lolos kembali masuk parlemen karena perolehan suaranya, versi quick count, tak sampai 4% sesuai syarat ambang batas atau parliamentary threshold. Pendiri Hanura, Wiranto, menolak disalahkan.

Berdasarkan hitung cepat lembaga survei, Hanura menjadi salah satu partai yang terpental dari DPR. Dari hasil quick count, suara Hanura tak mencapai 2%.

Wiranto, yang merupakan Ketua Dewan Pembina Hanura, menolak disalahkan atas kegagalan partai tersebut bertahan di Senayan. Ia mengingatkan saat ini tengah fokus pada tugasnya sebagai Menko Polhukam.


"Tidak perlu salah-menyalahkan. Dua kali Partai Hanura lolos pemilu, ya syukuri. Kalau sekarang tidak lolos, kita introspeksi, tidak perlu salah-menyalahkan, apalagi menyalahkan saya. Saya concern ke Menko Polhukam, tidak mengurus partai. Kalau saya disalahkan, apanya?" ucap Wiranto di kantor Adhi Karya, Jalan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (26/4/2019).

Sejak menjadi Menko Polhukam di kabinet Presiden Jokowi, Wiranto memang tak lagi aktif di partai. Ia melepaskan kursi ketum dan Hanura kemudian dipimpin oleh Oesman Sapta Odang (OSO).

Dengan merosotnya suara Hanura, Wiranto menilai perlu ada yang dievaluasi. Namun eks Pangab itu tak menyebut apakah akan terjun langsung dalam upaya peningkatan suara Hanura ke depan.

"Itu perlu satu introspeksi dengan cara evaluasi tentang bagaimana langkah-langkah untuk memenangkan pemilu," tegas Wiranto.


Quick count Charta Politika untuk Pileg 2019 mencatat tak ada partai baru yang menembus ambang batas parlemen 4%. Hanura menjadi satu-satunya partai lama yang mendapat perolehan di bawah ambang batas parlemen.

Berdasarkan hasil hitung cepat Charta Politika dengan data masuk sebesar 85,2%, Hanura hanya memperoleh 1,68% suara. Hanura berada di kisaran posisi ke-12 atau ke-13 dari 16 partai-partai nasional peserta Pemilu 2019.

Sementara itu, quick count CSIS-Cyrus per Rabu (17/4) menyebutkan Hanura hanya mendapat 1,5% suara. Analisis politik soal terpentalnya Hanura ini menyebutkan konflik internal menjadi salah satu penyebab partai ini tak bisa meningkat dalam perolehan suara di pileg.

Selain itu, Hanura dinilai tidak stabil memperkuat basis. Hanura disebut tak memiliki basis yang loyal.


"Hanura belum punya pemilih loyal yang kuat, Hanura kuat di 2014 karena sosok Wiranto waktu itu, jadi bukan infrastruktur," ungkap Direktur Riset Charta Politika, Muslimin.

Meski diposisikan berada di papan bawah perolehan, Hanura masih optimistis lolos dalam perhitungan KPU atau real count. Hanura masih yakin lolos karena melihat margin of error dari sejumlah hasil quick count tersebut.

"Kalau tembus 4 persen lebih, ya, saya masih yakin," kata Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) Hanura Jafar Bajeber kepada wartawan, Rabu (17/4).

"Saya lihat dari hasil kita yang dikoleksikan, dari komitmen dari DPD dan caleg-caleg kita yang tangguh saya yakin. Dan itu kan quick count dan ini penghitungnya masih berlangsung belum ada satu TPS yang dilaporkan sudah ready," sambungnya.
(elz/idn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed