DetikNews
Jumat 26 April 2019, 07:14 WIB

Komnas Perempuan Kecam Pelecehan Mahasiswi di KA: Petugas Harus Sensitif Gender

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Komnas Perempuan Kecam Pelecehan Mahasiswi di KA: Petugas Harus Sensitif Gender Foto: Ilustrasi pelecehan seksual. (Ilustrator oleh Edi Wahyono)
Jakarta - Komnas Perempuan menyesalkan peristiwa pelecehan seksual yang dialami penumpang perempuan saat dalam perjalanan kereta Jakarta-Surabaya. Komnas Perempuan menilai hal itu menunjukkan rentannya perempuan terhadap kekerasan seksual.

"Kedua, transportasi umum itu kan tempat yang terbuka di mana harusnya orang bisa menjaga ini ya, orang di tempat terbuka saja tidak bisa menjaga perilaku bagaimana lagi di tempat-tempat tertutup. Bagaimana kita bisa membayangkan rentannya perempuan terhadap kekerasan seksual," ujar Ketua Komnas Perempuan, Azriana kepada detikcom, Jumat (26/4/2019).



Azriana mengatakan, terjadinya pelecehan seksual di transportasi umum ataupun tempat terbuka memperlihatkan bahwa perempuan masih dilihat sebagai objek. Dia pun meminta pengawasan di transportasi umum, khususnya kereta api (KA) lebih ditingkatkan.

"Dan itu kenapa bisa terjadi di tempat terbuka seperti itu, karena itu tadi perempuan masih dilihat sebagai objek dari keisengan, objek dari pelampiasan hasrat seksual dan sebagainya. Dengan kejadian ini bukan saja soal pengawasan di transportasi umum yang harus ditingkatkan, tapi petugas juga sudah harus sensitif gender dengan situasi kemudian kalau ada orang yang mengalami pelecehan dan melaporkan itu ada reaksi cepat yang diambil. Bukan menyalahkan korbannya tapi harusnya terlebih dulu menangani pelakunya, dan jangan mentolerir sedikitpun. Karena tidak ada alasan apapun yang membenarkan pelecehan seksual," tuturnya.

Azriana juga menyayangkan respon petugas keamanan KA yang disebut tidak responsif dan malah menyalahkan korban. Menurut dia, hal itu menunjukkan gambaran bahwa petugas pelayanan publik dan transportasi di Indonesia masih memiliki budaya menyalahkan korban dan bias gender.

"Saya ingin mulai dengan sikap petugasnya ya. Ini kan juga gambaran dari petugas-petugas pelayanan publik kita, transportasi itu masih punya budaya menyalahkan korban, sikap menyalahkan korban itu masih sangat kuat. Memang budaya yang menghambat akses korban untuk pulih juga. Sikap petugas itu memperlihatkan budaya menyalahkan korban itu masih sangat kuat di kalangan petugas pelayanan publik kita," kata Azriana.

"Itu satu dan ini sikap ini lahir dari cara pandang yang bias gender. Yang masih melihat menjaga urusan, sikap, mengendalikan perilaku masih diletakkan di perempuan saja. Perempuan dilihat sebagai objek. Kewajiban meletakkan, untuk menjaga perilaku yang diletakkan kepada perempuan itu kan berdasarkan sikap melihat perempuan sebagai objek. Dua kebiasaan ini masih berjalan seiring. Itu yang kemudian yang menyebabkan ada pernyataan-pernyataan seperti tadi kepada perempuan korban pelecehan seksual," sambung dia.

Dia pun meminta PT KAI tak hanya sekadar memberikan pembinaan kepada petugas yang memberikan jawaban tak pantas kepada korban. Azriana juga meminta PT KAI untuk mengawasi dan memantau apakah dari pembinaan itu ada perubahan perilaku.

"Yang pertama pembinaan itu salah satu cara mencegah keberulangan, tapi yang harus dipastikan ada pemantauan juga dari proses yang dilakukan ada perubahan pelaku nggak. Itu juga jadi nggak cukup pembinaan tanpa pengawasan. Dan pembinaan harus dibarengi juga dengan infrastruktur yang mendukung untuk gimana pencegahan pelecehan seksual itu bisa terjadi. Perubahan paradigma, perspektif itu juga didukung oleh infrastruktur dan sarana yang bisa meminimalkan kejadian pelecehan itu," kata Azriana.



Sebelumnya diberitakan, pengakuan seorang penumpang perempuan yang mendapat pelecehan seksual dari penumpang pria saat dalam perjalanan kereta Jakarta-Surabaya viral di media sosial. Peristiwa itu diceritakan seorang penumpang dalam akun Twitter-nya pada Rabu (23/4). Dia mengatakan pria yang melecehkannya itu berinisial AR, tinggal di Pesona Kalisari, Pasar Rebo, dan kerap naik kereta api Indonesia (KAI), khususnya rute Jakarta-Surabaya atau sebaliknya. Mereka sempat berbincang hingga terjadi pelecehan seksual.

Perempuan itu kemudian melaporkan kejadian pelecehan seksual itu kepada petugas keamanan kereta. Namun, sayangnya petugas malah memberikan jawaban yang tak pantas kepada korban.

"Ironisnya, security kereta malah mengatakan 'ah biasalah mbak, namanya juga cowo. Mending kita omongin baik-baik, dia pelanggan, saya harus jaga privasinya. Lagi pula, mbaknya terlihat seperti anak karokean, bukan anak baik-baik, jelas aja dia berani'," kata perempuan itu dalam akun Twitter-nya, Selasa (23/4). Dia menirukan pernyataan petugas kereta api yang menerima aduannya.

PT KAI pun memberi penjelasan soal kejadian itu dan menegaskan kasus itu sudah diselesaikan. VP Public Relations PT KAI Edy Kuswoyo juga meminta maaf kepada mahasiswi tersebut atas perilaku petugasnya.

"Perihal itu nanti kita lakukan pembinaan petugas terkait ya, kemudian kita evaluasi juga kejadian tersebut agar tidak terjadi lagi di kemudian hari, semoga ini kejadian terakhir lah ya," kata Edy saat dihubungi detikcom, Kamis (25/4/2019).

"PT KAI turut prihatin atas kejadian tersebut, kemudian PT KAI mohon maaf apabila ada petugas yang mungkin tidak berkenan, PT KAI menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya, yang mungkin jawaban dari petugas PT KAI yang tidak berkenan," imbuh dia.
(mae/zap)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed