detikNews
Selasa 09 April 2019, 17:16 WIB

Cerita TKW Korban TPPO di Suriah: Mengadu ke KBRI, tapi Dimaki

Audrey Santoso - detikNews
Cerita TKW Korban TPPO di Suriah: Mengadu ke KBRI, tapi Dimaki EH (memakai penutup wajah), korban TPPO. (Audrey/detikcom)
Jakarta - Seorang perempuan asal Tangerang berinisial EH menjadi korban perdagangan orang oleh jaringan TKI ilegal ke Suriah. EH sempat meminta bantuan kepada pihak Kedutaan Besar RI di Suriah, tapi malah dimaki oleh staf KBRI.

EH dihadirkan Bareskrim dalam rilis kasus pengungkapan 4 sindikat TPPO ke Timur Tengah yang digelar di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (9/4/2019). EH awalnya bercerita dia kabur dari rumah majikan karena tak digaji.

"Saya kabur langsung ke Kedutaan. Di sana saya mendapat perlakuan tidak enak dari orang Kedutaan. Di sana saya baik-baik minta pertolongan. Tapi apa jawabannya di sana? Malah mencaci maki saya. Menghina saya dan memulangkan saya ke agen," cerita EH dengan suara bergetar kepada wartawan.


EH kemudian menirukan percakapannya dengan oknum staf KBRI di Suriah itu. Percakapan itu dimulai ketika EH dan temannya asal Lombok, NTB, yang juga tak dibayar gajinya tiba di KBRI di Suriah.

"Tidak digaji tapi tubuh kamu kan sehat, tidak kena pukul, tidak kena apa. Enak saja kamu ingin pulang. Kalau ingin pulang, tidak usah akting gitu deh. Kalau ingin pulang, bisa tidak kamu ganti uang US$ 8.000? Tahu tidak US$ 8.000 itu berapa? Rp 100 juta lebih. Kalau kamu bisa ngadain uang segitu saat ini juga, detik ini juga, kamu bisa pulang ke Indonesia," ucap EH menirukan makian oknum staf KBRI itu.

EH tetap berusaha meminta bantuan tapi tidak berhasil. Kata EH, oknum staf KBRI di Suriah tersebut bahkan mencatut nama Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Tidak bisa, itu bukan wewenang saya. Jokowi saja sudah capek mengurusi orang-orang seperti kamu. Sudah dipulangkan, sudah tahu negara konflik, tetap saja datang lagi. Jokowi itu sudah lelah, sudah capek, ngurusin TKW-TKW yang tidak tahu diri. Sudah dipulangin masih saja datang," ujar EH masih menirukan cacian yang diterimanya dari si oknum.

"Saya bisa apa? Kamu kan dari negara kamu dijual. Sedikit pun kamu nerima uang, ya harus terima risiko. Mau dipukul, mau hidup, mau mati. Intinya, kamu itu dijual. Saya tidak bisa apa-apa," imbuh EH yang teringat kata-kata si oknum.

Singkat cerita, akhirnya EH dikembalikan oleh oknum tersebut ke agen yang menampung dia di Suriah. Agen tersebut kemudian mengirim EH ke Irak. Di Irak, EH menjadi korban pemerkosaan majikan dan anak majikan hingga hamil.

"Saya dari orang kedutaan, dikembalikan ke agen, akhirnya saya dijual di Irak. Di Irak saya mendapat musibah. Kalau bukan karena orang kedutaan (staf KBRI itu), kalau bukan karena dia tidak mau menampung saya, saya tidak akan terjadi seperti ini. Saya hampir kena hukuman mati, saya disiksa, saya diperkosa, saya hamil juga di dalam sel," jelas EH.


EH menuturkan majikannya di Irak menuduhnya mencuri hingga kemudian ditangkap polisi tanpa bukti. Selama dipenjara, dia mengandung anak hasil pemerkosaan itu. Karena terjerat kasus hukum, dia mendapat bantuan dari SEED Foundation dan dari Organisasi Internasional Migrasi (IOM).

"Kalau bukan karena mereka, saya tidak akan ada di sini. Dari IOM menghubungi KBRI di Baghdad. Saya dipulangkan oleh KBRI Baghdad," tutur EH.

Kepahitan hidup itu dia alami pada 2018. EH mengaku awalnya ditawari bekerja di Arab Saudi dengan gaji Rp 5 juta per bulan ditambah uang tips oleh seseorang yang dia sebut sebagai sponsor di kampungnya.

"Dari berangkat ke Jakarta, terus ke Surabaya. Di sana ditampung selama dua minggu, lalu saya diberangkatkan ke Malaysia. Di sana saya bekerja tapi saya tidak digaji. Lalu saya diberangkatkan lagi ke Dubai. Di sana saya ditampung dan dipekerjakan, tapi tidak dapat gaji juga," terang EH.

Dari Dubai, EH dibawa ke Turki. EH bekerja overtime selama dua minggu tanpa digaji.

"(Lalu) dilempar lagi ke Sudan. Dari Sudan saya dilempar lagi ke Suriah. Selama di Suriah, saya kerja tiga bulan dan tidak dapat hasil sama sekali," lanjut dia.

Terakhir, EH berpesan kepada perempuan-perempuan yang berniat menjadi TKI ilegal seperti dirinya. Dia menyarankan agar menolak jika dikirim ke negara-negara di Timur Tengah.

"Intinya, cukup di saya saja. Jangan sampai ada yang lain lagi yang berangkat ke Timur Tengah. Terutama saya ingin ngomong, saya tidak sakit hati, tidak dendam, tapi masih berbekas. Kalau bukan orang kedutaan (KBRI di Suriah), saya nggak bakal terjadi begini," lirih EH.


Simak Juga "Kisah TKW di Suriah soal Penggalan Kepala di Jalanan":

[Gambas:Video 20detik]


(aud/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed