DetikNews
Senin 18 Maret 2019, 20:39 WIB

Walkot Hendi Dorong Peran PKK Atasi Persoalan Pembangunan di Semarang

Akfa Nasrulhaq - detikNews
Walkot Hendi Dorong Peran PKK Atasi Persoalan Pembangunan di Semarang Foto: Pemkot Semarang
Semarang - Dalam mengatasi berbagai persolan pembangunan, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi juga selalu menggandeng kaum perempuan dari Tim Penggerak PKK. Ia menilai dengan tingginya peran serta kaum perempuan, banyak persoalan krusial di kota lumpia ini yang berhasil ditangani oleh Tim Penggerak PKK.

Hendi juga mengapresiasi besarnya peran wanita dalam pembangunan khususnya di Kota Semarang. Menurutnya, secara kelembagaan Pemerintah Kota Semarang tidak lagi memunculkan bias gender.

Buktinya selain dengan mengangkat sosok wanita sebagai wakil wali kota dalam kepemimpinannya, dirinya juga menjadikan wanita untuk memimpin sejumlah Organisasi Perangkat Daerah seperti Dinas Pertanian, Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, RSUD dan dua Asisten di lingkungan Sekretariat Daerah.

Oleh karenanya, Hendi pun meminta para kader PKK untuk terus berpartisipasi dalam mengentaskan sejumlah persoalan.

"Semarang merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah. Untuk itu kita harus selangkah lebih maju dibanding dengan kota atau kabupaten lain. Namun saat ini kondisinya kita masih dihadapkan dengan sejumlah problematika seperti kasus Demam Berdarah, HIV, dan kondisi mental generasi muda," ujar Hendi, dalam keterangan tertulis, Senin (18/3/2019).


Saat memberikan pengarahan di depan Kader PKK Kota Semarang itu, Hendi mengingatkan data sejak tahun 2009 hingga tahun 2010, Semarang selalu menduduki peringkat pertama bahkan pernah mencapai 3 ribu kasus per tahun.

Kondisi tersebut memunculkan komitmen Kepala Dinas Kesehatan untuk memberantas Demam Berdarah bersama dengan ibu-ibu PKK sebagai Kader penggerak melalui Petugas Surveilans Kesehatan (Gasurkes) seluruh wilayah kelurahan di Kota Semarang dalam upaya menekan angka Kejadian DBD dan angka kematian ibu.

Hendi melanjutkan, upaya tersebut berangsur berhasil. Sejak tahun 2013 jumlah kasus DBD sebanyak 2.364 kasus yang kemudian terus menurun hingga angka 50 kasus saja di tahun 2018.

Selain itu, Hendi juga mempersoalkan tingginya penderita HIV di Kota Semarang. Dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, dalam periode Januari-November 2018 terdapat 546 temuan kasus penderita HIV/AIDS. Bahkan per bulan DKK mencatat adanya 125 penderita baru di Kota Semarang.


Menurut Hendi, tingginya kasus HIV yang ditemukan ini akan berpotensi dengan persoalan seksual lainnya. Selain itu adanya sejumlah kasus yang berkaitan dengan tindak kriminal yang dilakukan oleh generasi muda juga tidak luput dari perhatian wali kota.

"Tolong dipahami lingkungan luar itu tidak bisa kita kontrol. Bahkan terkadang penyebab dari seorang anak melakukan tindak kriminal adalah lantaran tertantang agar tidak diremehkan," tegas Hendi.

"Pernah saya mendatangi pelaku perampasan motor, pelakunya bocah usia 15 tahun. Setelah saya tanya penyebabnya karena ia ditantang untuk merampas motor. Juga kasus pembacokan, dirinya melakukan hal itu agar dianggap gagah oleh rekan-rekannya," tambahnya.

Oleh karenanya, Hendi berpesan kepada para kader PKK untuk bergerak bersama mengantisipasi kejadian-kejadian tersebut dengan cara menjaga putra dan putrinya. Dengan memberikan perhatian, monitor, bahkan sekadar mengajak ngobrol mereka terkait kegiatan sehari-hari.
(idr/idr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed
BERITA TERBARU +