DetikNews
Senin 18 Maret 2019, 20:11 WIB

Pemred Tirto.id: Kami Khilaf dengan Meme Twitter, Kami Minta Maaf

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Pemred Tirto.id: Kami Khilaf dengan Meme Twitter, Kami Minta Maaf Ilustrasi (Foto: dok. Getty Images)
Jakarta - Pemimpin Redaksi Tirto.id Sapto Anggoro mengaku pihaknya bertanggung jawab dan memahami kekecewaan warga Nahdlatul Ulama (NU) atas meme yang diunggah akun Twitter Tirto.id yang dinilai telah melecehkan NU. Sapto mengakui pihaknya khilaf atas unggahan tersebut.

"Saya selaku penanggung jawab Tirto memahami kekecewaan warga nahdliyin, tak terkecuali teman-teman Banser di Jatim dan seluruh Nusantara," ujar Sapto melalui pesan tertulisnya kepada detikcom, Senin (18/3/2019).

"Sejujurnya, Tirto khilaf dengan meme yang ada di akun Twitter, dan itu tidak ada di web Tirto.id. Meski demikian, sebagai bentuk tanggung jawab, semua adalah salah Tirto sebagai perusahaan pers yang anggota dari Dewan Pers. Secara otomatis produknya adalah produk jurnalistik," lanjutnya.

Menurut Sapto, karena Tirto.id merupakan produk jurnalistik, seyogianya masalah ini dibawa ke Dewan Pers. Tirto.id pun sudah menyampaikan permintaan maaf.

"Tirto sendiri sudah minta maaf secara terbuka dan disampaikan di Tirto, Twitter Tirto, juga dibantu media-media massa lain yang memuat rilis kami," imbuhnya.

Sapto selaku Pemimpin Redaksi Tirto.id juga sudah berkomunikasi dengan PBNU. "Dan juga secara langsung berkomunikasi sama Sekjen NU Bapak Helmi Faishal, yang berjanji memfasilitasi pertemuan dengan KH Said Aqil Siroj. Saya juga sudah koordinasi dengan Ketua Banser Jatim Gus Adib, yang mengaku belum koordinasi dengan Rasyid. Karena Tirto kooperatif dan sudah minta maaf, akan upayakan mencabut laporan," tuturnya.


Permintaan maaf Tirto diunggah di website Tirto.id berjudul: 'Kami Melakukan Kesalahan, dan Kami Meminta Maaf'. Berikut isi permintaan maaf Tirto.id:

Kami melakukan kesalahan fatal: secara gegabah memotong sebuah kalimat.

Penggalan kalimat "zina [bisa] dilegalisir" diucapkan Ma'ruf Amin sebagai salah satu contoh hoaks yang diarahkan kepada pasangan Jokowi-Ma'ruf (selain azan dilarang dan Kementerian Agama dibubarkan). Penggalan kalimat itu sebenarnya didahului oleh pernyataan (1) pentingnya memerangi hoaks karena membahayakan tatanan bangsa dan dilanjutkan dengan pernyataan (2) bahwa Ma'ruf Amin bersumpah akan melawan semua usaha untuk merealisasikan hoaks-hoaks itu.

Begini kalimat utuhnya: "Kami juga mengajak kita semua untuk melawan dan memerangi hoaks. Karena hoaks merusak tatanan bangsa Indonesia. Melawan dan memerangi fitnah, seperti kalau Jokowi terpilih kementerian agama dibubarkan, kementerian agama dilarang, azan dilarang, zina dilegalisir. Saya bersumpah demi Allah, selama hidup saya akan saya lawan upaya-upaya untuk melakukan itu semua.

Namun karena pernyataan sebelum dan setelahnya dipotong, dan yang dikutip hanya soal zina bisa dilegalisir, maka konteks klarifikasi yang sedang dilakukan Ma'ruf menjadi raib. Bukan hanya itu, penggalan kalimat "zina [bisa] dilegalisir" yang dihadirkan secara visual dalam bentuk meme bahkan seolah-olah menjadi pernyataan Ma'ruf Amin.

Begitu redaksi menyadari konten tersebut sudah naik di akun twitter @tirtoid, redaksi memutuskan untuk menghapusnya. Masih pada malam yang sama, tim multimedia segera membuat revisi meme dengan mencantumkan konteks pernyataan Ma'ruf Amin menjadi "Kami juga mengajak kita semua melawan dan memerangi hoaks, fitnah [...] seperti zina dilegalisir".

Revisi meme itu dibagikan di akun @tirtoid disertai permohonan maaf yang tepatnya berbunyi: "Visual ini memperbaiki kekeliruan sebelumnya yang memotong konteks ucapan Maruf Amin yang hendak mengklarifikasi hoaks. Tirto meminta maaf atas kekeliruan tersebut."

Untuk keteledoran fatal memenggal pernyataan itu, kami meminta maaf terutama kepada pasangan Capres-Cawapres 01 Jokowi-Ma'ruf Amin, terutama kepada Ma'ruf Amin sebagai yang paling dirugikan, termasuk juga kepada Tim Kampanye Nasional (TKN) dan para pendukung pasangan 01, dan juga kepada publik.

Hal serupa juga terjadi dalam meme lain yang mengomentari pernyataan Sandiaga Uno. Janji Sandiaga Uno, "Kami akan hapuskan UN", divisualkan dalam bentuk meme sembari dikomentari dengan kalimat: "Eh...? Kirain apus NU".

Komentar itu bukan hanya tidak perlu, melainkan juga insensitif dengan peran NU dalam konteks sosial di Indonesia. Kami meminta maaf terutama kepada nahdliyin dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Kami masih meyakini, mengutip artikel Nahdlatul Ulama Didirikan untuk Membendung Puritanisme Agama yang kami tayangkan pada 31 Januari 2018, "Sampai hari ini NU tetap konsisten menyerukan persaudaraan nasional antara rakyat Indonesia dari agama yang berbeda-beda (ukhuwah wathaniyah) dan membawa kaum ulama memperjuangkan kedamaian. Itulah salah satu peran terbesar NU."

Seluruh konten visual, baik itu infografik di dalam artikel maupun yang dibagikan di kanal media sosial, menjadi tanggungjawab redaksi. Yang telah terjadi menjadi pelajaran berharga untuk semakin memperketat lagi mekanisme gate-keeping bukan hanya di dalam artikel-artikel yang tayang, melainkan juga di kanal media sosial. Selama ini, konten media sosial, misalnya di Instagram, selalu melewati persetujuan redaksi, namun kali ini mekanisme gate-keeping ini gagal bekerja secara optimal.

Sekali lagi: kami meminta maaf kepada semua pihak yang merasa dirugikan, juga kepada para pembaca sekalian. Mekanisme internal sedang dilakukan untuk memperbaiki dan menindaklanjuti kesalahan fatal ini.

======

Tirto bekerja sama dengan Narasi TV dalam melakukan live fact-checking Debat Pilpres 2019, termasuk dalam debat cawapres tadi malam. Namun seluruh produksi visual berupa meme, kutipan maupun periksa data sepenuhnya merupakan tanggung jawab Tirto.
(nvl/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed