DetikNews
Sabtu 16 Maret 2019, 08:30 WIB

Prihatin Penembakan di New Zealand, BPN Ingatkan Deradikalisasi Teroris

Indra Komara - detikNews
Prihatin Penembakan di New Zealand, BPN Ingatkan Deradikalisasi Teroris Dahnil Anzar (Foto: Indra/detikcom)
Jakarta - Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno prihati atas penembakan brutal di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru. Timses kubu 02 menilai salah satu radikalisme muncul karena kebencian dan dendam.

"Kami berduka cita terhadap penyerangan teroris di Masjid Christchurch, Selandia Baru dan ini membuktikan bahwa terorisme nggak kenal agama, memang yang namanya dendam dan kebencian berbahaya sekali. Apa yang dilakukan pelaku teroris ini, yang jelas dia memupuk benci dan dendam yang berlebihan," kata Dahnil di Media Center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, Jumat (15/3/2019).



Dahnil kemudian menyinggung soal visi misi Prabowo-Sandi dalam mencegah paham radikalisme. Penanganan teroris di RI menurutnya masih belum tepat sasaran.

"Misalnya satu teroris kemudian banyak yang ditembak mati tapi penegakkan hukumnnya nggak jelas, bahkan kadang-kadang alasan penembakannya itu tak bisa dijelaskan," kata Dahnil.

Mantan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah itu mengambil contoh dalam kasus tewasnya Siyono usai ditangkap Tim Densus 88 Antiteror Polri pada tahun 2016 silam. Dalam perjalanan kasusnya, kata Dahnil, ada kesalahan dalam penanganan Siyono.



Sehingga dia mengatakan, penanganan terorisme di RI juga perlu perbaikan.

"Ternyata Siyono ada kesalahan dalam penanganannya sehingga dia mati. Tapi kan polisi waktu itu tak mengakui sampai kami buktikan melalui autopsi melalui Muhammadiyah, Komnas HAM, terbukti Siyono tak melakukan perlawanan, Siyono meninggal karena di jantung, tertusuk di tulang rusuknya, akhirnya kan karena tidak ada penegakkan hukum yang tak adil muncul dendam," paparnya.

Menurutnya pembenahan dalam deradikalisasi ini yakni mencegah muncul dendam dan kebencian. Menurutnya, pemerintah harus hadir untuk penanganan terorisme yang lebih humanis.

"Contoh peledakan di Samarinda itu kan ketika keluar dari Nusakambangan pulang ke kampungnya di Jabar dia ditolak oleh masyarakat karena mantan napiter (napi teroris), kemudian termasuk oleh keluarganya. Akhirnya dia merasa masyarakat unwelcoming sama dia, akhirnya dia merasa masyarakat jadi musuh, negara jadi musuh, akhirnya muncul dendam, muncul benci," kata Dahnil.

"Yang harus dilakukan kita lakukan adalah seluruh kelompok masyarakat negara harus terlibat melakukan deredakilisasi," sambungnya.

Timses Prabowo-Sandiaga ini mengatakan di era Jokowi, upaya deradikalisasi belum maksimal. Bahkan dia menilai, pemerintahan Jokowi cenderung memecah belah.

"Menurut saya apa yang dilakukan pemerintah selama ini, Pak Jokowi justru memecah belah itu, justru ada yang kelompok anti pemerintah disebut radikal, disebut pro teroris, itu bahaya yang justru muncul perpecahan. Malah justru kalau dia punya potensi radikal, itu harus dirangkul didekati supaya terjadi deradikalisasi, bukan kemudian dilabel. Akhirnya dia marah. Ini yang harusnya dirubah," tuturnya.


Saksikan juga video 'Erdogan: Teror di Selandia Baru Bangkitkan Islamofobia':

[Gambas:Video 20detik]


(idn/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed