DetikNews
Selasa 12 Maret 2019, 15:07 WIB

Idrus Marham Berdalih Minta USD 2,5 Juta untuk Ajari Eni Saragih

Ahmad Bil Wahid - detikNews
Idrus Marham Berdalih Minta USD 2,5 Juta untuk Ajari Eni Saragih Idrus Marham (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Jaksa KPK memutarkan rekaman pembicaraan antara mantan Menteri Sosial (Mensos) Idrus Marham dengan mantan anggota DPR Eni Maulani Saragih. Dalam rekaman hasil sadapan itu Idrus berbicara soal permintaan USD 2,5 juta, tetapi Idrus menyebut ucapannya itu hanyalah caranya mengajari Eni untuk tidak menggampangkan sesuatu.

Awalnya Idrus menyebut adanya pergolakan di tubuh Partai Golkar karena posisi ketua umum yang diemban Setya Novanto goyang karena kasus korupsi proyek e-KTP. Idrus mengaku didorong menjadi Ketua Umum Partai Golkar.

"Eni dkk banyak sekali mereka berpandangan bahwa Bang Idrus ini sudah berpengalaman mengatasi konflik Golkar dan karena itu dorong saya," ucap Idrus ketika menjalani pemeriksaan sebagai terdakwa dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Selasa (12/3/2019).

Sedari awal Idrus mengaku bersedia mengemban amanah sebagai Ketua Umum Partai Golkar tetapi enggan tersandera apa pun. Di sisi lain menurut Idrus, Eni bersikeras mendorongnya maju menjadi pimpinan partai berlambang pohon beringin itu hingga pada suatu saat Idrus mengaku berkomunikasi dengan Eni tentang uang, tetapi tanpa ikatan apa pun sehingga tidak tersandera.

"Saya ada telepon dengan Eni, cerita saya tagih saya 'En, lu kan katanya ada uang tanpa syarat ke mana itu?' Gitu dari mulai 200 miliar sampai Eni mengatakan (USD) 1 (juta) ya. (Saya bilang) 'Jangan 1-lah, 2-lah, 3-lah, (USD) 2,5 (juta) ambil saja atas nama saya," kata Idrus yang menurutnya hanyalah candaan.

"Ini saya lakukan dengan kelakar, dengan candaan sekaligus memberikan pembelajaran buat Eni karena Eni menggampangkan sesuatu. Sebagai bukti ini semua, di akhir percakapan itu saya katakan 'En lu aja deh yang jadi ketum, jangan saya deh'. Itu bisa dilihat di dalam percakapan itu," imbuh Idrus.




Setelahnya jaksa memutarkan rekaman percakapan antara Idrus dengan Eni. Berikut penggalannya:

Idrus: Bilang aja Bang Idrus itu, karena dia lagi ini. Dia minta sendiri dua setengah gitu
Eni: He eh
Idrus: Bilang aja langsung
Eni: Ya, ya ya oke. Nanti saya ngomong
Idrus: He eh. He eh
Eni: Saya ngomong. Saya ngomong Bang
Idrus: Karena dia minta dua setengah sendiri karena dia ini untuk operasional ini
Eni: Iya oke

Ucapannya itu disebut Idrus ditujukan agar Eni meminta uang ke pengusaha bernama Johanes Budisutrisno Kotjo. Pengusaha itu memang saat itu sedang berhubungan dengan Eni untuk mendapatkan proyek di PLN.

"Eni nanggapi dia minta 2,5 juga untuk operasional?" tanya jaksa.

"Untuk jadi ketum. Kan Eni nantangin berapa pun bisa tanpa ikatan, ya sudah jangan 1 dong 2,5 sekalian," jawab Idrus.

Dalam perkara ini, Idrus didakwa menerima suap Rp 2,25 miliar dari pengusaha Johanes Budisutrisno Kotjo. Duit itu disebut jaksa diterima Idrus untuk bersama-sama mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih membantu Kotjo mendapatkan proyek di PLN.

Proyek itu sedianya ditangani PT Pembangkitan Jawa Bali Investasi (PJBI) dengan Blackgold Natural Resources Ltd (BNR) dan China Huadian Engineering Company Limited (CHEC Ltd). Kotjo merupakan pemilik BNR, yang mengajak perusahaan asal China, yaitu CHEC Ltd, menggarap proyek itu.

Sekjen Golkar itu ingin menggantikan Novanto sebagai Ketua Umum Partai Golkar. Idrus pun disebut jaksa mengarahkan pemberian suap untuk kepentingan Musyawarah Nasional Luas Biasa (Munaslub) Partai Golkar. Ketika itu, Novanto terjerat perkara korupsi proyek e-KTP, sehingga posisi Ketua Umum Partai Golkar pun goyang.
(dhn/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed