detikNews
Senin 11 Maret 2019, 16:44 WIB

Aspri Imam Nahrawi Disebut Arahkan Sekjen KONI untuk Suap Kemenpora

Zunita Putri - detikNews
Aspri Imam Nahrawi Disebut Arahkan Sekjen KONI untuk Suap Kemenpora Aspri Menpora Miftahul Ulum setelah diperiksa KPK. (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta - Nama Miftahul Ulum sebagai asisten pribadi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi disebut dalam persidangan kasus suap terkait dana hibah untuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Miftahul disebut memberikan arahan kepada pejabat KONI untuk memberi suap kepada pejabat Kemenpora demi lancarnya anggaran hibah itu.

Hal itu terungkap dalam persidangan dengan terdakwa Ending Fuad Hamidy selaku Sekjen KONI dan Johny E Awuy selaku Bendahara KONI. Ending dan Johny didakwa memberikan suap kepada Deputi IV Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Mulyana dan dua staf Kemenpora bernama Adhi Purnomo dan Eko Triyanta.




Duit suap itu diberikan agar Mulyana, Adhi, dan Eko membantu mempercepat proses persetujuan dan pencairan bantuan dana hibah yang diajukan KONI ke Kemenpora. Namun rupanya ada main mata yang melibatkan Miftahul.

"Bahwa untuk memperlancar proses persetujuan dan pencairan dana bantuan tersebut, telah ada kesepakatan mengenai pemberian commitment fee dari KONI pusat kepada pihak Kemenpora sesuai arahan dari Miftahul Ulum selaku asisten pribadi Imam Nahrawi selaku Menpora kepada terdakwa dan Johny E Awuy," ujar jaksa KPK saat membacakan surat dakwaan dalam persidangan dengan terdakwa Ending di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (11/3/2019).

Hibah yang diajukan KONI adalah dalam rangka pengawasan dan pendampingan program peningkatan prestasi olahraga nasional pada multi-event Asian Games 2018 dan Asian Para Games 2018 serta dalam rangka pengawasan dan pendampingan seleksi calon atlet dan pelatih atlet berprestasi tahun kegiatan 2018. Untuk memudahkan, secara urutan akan disebut proposal pertama dan proposal kedua.

Proposal pertama diajukan dengan nilai hibah sebesar Rp 51.529.854.500, sedangkan proposal kedua sebesar Rp 27.506.610.000. Namun realisasinya untuk proposal pertama sebesar Rp 30 miliar.

"Setelah terdakwa berkoordinasi dengan Miftahul Ulum, disepakati besaran commitment fee untuk pihak Kemenpora kurang-lebih 15-19 persen dari total nilai bantuan dana hibah yang diterima KONI Pusat," sebut jaksa.

Awalnya pencairan hibah dilakukan dalam dua tahap, yaitu sebesar Rp 21 miliar atau 70 persen dari total Rp 30 miliar. Baru kemudian Ending dan Johny menyuap Mulyana sebesar Rp 300 juta. Setelahnya, sisa hibah Rp 9 miliar baru dicairkan.

Sedangkan untuk proposal kedua, realisasinya Rp 18 miliar. Seperti sebelumnya, Ending berkoordinasi dengan Miftahul mengenai besaran commitment fee demi mulusnya pencairan hibah.




Dari masing-masing proposal yang diajukan itu, Imam Nahrawi selaku Menpora turut disebut jaksa mendisposisikannya kepada Mulyana. Selanjutnya proposal itu diverifikasi.

Dalam kasus ini, Johny juga didakwa, tetapi persidangannya digelar terpisah dari Ending. Besaran suap untuk Mulyana, Adhi, dan Eko berbeda-beda.

Untuk total pemberian suap, jaksa menyebut Mulyana diberi suap berupa 1 unit mobil Fortuner, uang tunai Rp 300 juta, ATM berisi Rp 100 juta, dan 1 telepon seluler (ponsel) Samsung Galaxy Note 9. Sedangkan Adhi dan Eko mendapatkan Rp 215 juta.


Simak Juga 'Kemenpora Harap PSSI Tak Alergi pada Satgas Antimafia Bola':

[Gambas:Video 20detik]


(dhn/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed