detikNews
Rabu 06 Maret 2019, 17:48 WIB

Poyuono Serang Jokowi Lagi, Kini Bandingkan dengan Duterte dan Xi Jinping

Elza Astari Retaduari - detikNews
Poyuono Serang Jokowi Lagi, Kini Bandingkan dengan Duterte dan Xi Jinping Foto: dok. Pribadi Arief Poyuono
Jakarta - Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin mempertanyakan pernyataan Waketum Gerindra Arief Poyuono soal jumlah kasus narkoba yang makin banyak sejak Jokowi menjadi presiden. Poyuono memberikan data pernyataan dari eks pejabat BNN, Benny Mamoto, yang sebelumnya menyatakan data rujukannya merupakan data 2011.

"Ini datanya biar pada planga-plongo mereka kalau pengguna narkoba sepanjang 4 tahun terakhir pengguna narkoba model Andi Arief makin meningkat," ujar Poyuono kepada detikcom, Rabu (6/3/2019).

Poyuono mengirimkan tautan berita BBC Indonesia berjudul 'Mengapa 'banjir' narkoba di Indonesia terus meningkat?', yang dipublikasi pada 27 Februari 2018. Benny Jozua Mamoto menjadi salah satu narasumber dalam berita tersebut dalam kapasitas sebagai mantan Direktur Penindakan BNN.


Dalam berita itu, Benny mengomentari soal keberhasilan aparat membongkar kasus narkoba, termasuk penggagalan penyelundupan satu ton narkoba dari China di perairan Batam. Menurut Benny, penyelundupan narkoba yang lolos jauh lebih banyak. Ia juga mengungkap, berdasarkan survei BNN, keberhasilan aparat penegak hukum mengungkap penyelundupan narkoba baru sekitar 10%.

Dari kenyataan itu, Benny menyebut Indonesia masih merupakan wilayah sasaran penyelundupan jaringan narkoba internasional karena permintaan konsumsi narkoba yang tetap tinggi. Poyuono pun menjadikan pernyataan Benny itu sebagai rujukan alasannya menyebut pemerintahan Jokowi gagal memerangi pemberantasan narkoba sehingga akhirnya Andi Arief jadi korban.

"Jadi kalau saya bicara selalu pakai data, data dari institusi pemerintah yang punya tugas berantas narkoba," kata Poyuono.

Dia juga membantah pernyataan anggota TKN Jokowi-Ma'ruf, Inas Nasrullah Zubir, yang mempertanyakan apakah Poyuono hendak melemparkan kesalahan kepada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ini lantaran Benny Mamoto menyatakan data BNN yang dikutip Poyuono merupakan hasil kerja sama dengan Pusat Penelitian Kesehatan UI tahun 2011. Karena saat itu Jokowi belum menjabat, TKN menilai Poyuono menuding Presiden RI ke-6 tersebut, yang menjabat dua periode, 2004-2009 dan 2009-2014.

Poyuono Serang Jokowi Lagi, Kini Bandingkan dengan Duterte dan Xi JinpingBenny Mamoto


"Ngawur dan kurang cerdas pernyataannya. Kurang update data," tukasnya.

Poyuono juga mencibir soal pernyataan TKN Jokowi-Ma'ruf yang membanggakan ketegasan Jokowi kepada bandar narkoba. Hukuman mati kepada gembong narkoba disebut memang sudah seharusnya dilakukan.

"Kalau cuma eksekusi nembak mati pengedar dan bandar narkoba karena putusan pengadilan yang sudah dilakukan oleh pemerintah itu sudah sewajarnya karena memang wajib dijalankan secara hukum," tutur Arief Poyuono.

Dia pun membandingkan Jokowi dengan Presiden Filipina Rodrigo Duterte, yang sangat tegas terhadap pelaku penyebaran narkoba. Poyuono mengirimkan tautan berita soal Duterte yang menawarkan uang untuk menembak polisi yang diketahui menjual narkoba.

"Ini presiden berhasil tidak gagal dalam pemberantasan narkoba di negaranya," ucapnya.


Poyuono kembali menyebut pemerintahan Jokowi gagal dalam memberantas narkoba. Selain dengan Duterte, ia membandingkan Jokowi dengan Presiden China Xi Jinping.

"Maaf saja, data-data nggak bisa dibohongi, kalau akibat perang yang dikobarkan oleh Presiden Duterte dan Xin Jinping, RRC, terhadap narkoba, maka Indonesia kebanjiran narkoba dan terus meningkat akibat Kangmas Joko Widodo gagal dalam memberantas dan mencegah masuknya narkoba selama ini," ungkap Poyuono.

Seperti diketahui, Poyuono menyalahkan Jokowi yang gagal dalam memberantas narkoba terkait tertangkapnya Andi Arief. Ia mengaku mengutip pernyataan Benny Mamoto.


Benny Mamoto Beri Penjelasan soal Data yang Dikutip Poyuono

Benny Mamoto sebelumnya sudah angkat bicara soal pernyataan Poyuono yang mengutip statement-nya. Ia mengirimkan file hasil penelitian yang dijadikan rujukannya saat mengeluarkan statement. Judulnya adalah 'Hasil Penelitian Narkoba yang Beredar dan Disita 2011'. Sumber dari penelitian dalam file itu adalah Pusat Penelitian Kesehatan UI. Perlu dicatat, pada 2011, Jokowi belum menjabat presiden.

"Jadi bukan hanya sekarang, dari era pemerintahan sebelumnya memang begitu," jelas Benny dalam pesan singkat kepada detikcom, Selasa (5/3/2019).

"Kalau setiap keluarga mampu membina anak-anaknya agar kebal terhadap pengaruh narkoba, maka kontribusinya sangat signifikan dalam menekan pasar narkoba. Kita perlu menjaga dan melindungi anak-anak kita yang sering kali dijebak, diperdaya, ditipu, dipaksa oleh pengedar narkoba sehingga mereka jadi korban," sambungnya.

Benny juga membantah pernyataan Poyuono bahwa Andi Arief adalah korban peredaran narkoba. Korban narkoba, menurutnya, adalah anak-anak, bukan orang dewasa.

"Istilah 'korban' lebih tepat disematkan pada anak-anak seperti ini. Kalau orang dewasa dengan pengetahuannya, penalarannya, sudah tahu tentang dampak narkoba, maka semua kembali pilihannya ada pada dia. Di sinilah kuncinya, yaitu ukuran etika dan moralnya. Mau pilih rusak karena narkoba atau tidak. Mau mengorbankan keluarganya atau tidak. Jadi tidak perlu menyalahkan pihak lain karena itu pilihan dia," terang Benny.
(elz/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com