detikNews
Sabtu 23 Februari 2019, 11:49 WIB

PBNU soal Puisi Neno Warisman: Pengandaian Pilpres sebagai Perang Keliru

Nur Azizah Rizki Astuti, Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
PBNU soal Puisi Neno Warisman: Pengandaian Pilpres sebagai Perang Keliru Robikin Emhas (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menanggapi potongan puisi Neno Warisman yang seolah 'mengancam Tuhan' saat Munajat 212 viral di media sosial. PBNU mengingatkan Tuhan yang yang seharusnya disembah adalah Allah SWT, bukan pilpres.

"Ingat, Tuhan yang kita sembah adalah Allah SWT. Bukan Pilpres. Bahkan bukan agama itu sendiri," kata Ketua PBNU, Robikin Emhas, kepada wartawan, Sabtu (23/2/2019).



Robikin mengatakan tidak seharusnya pilpres disamakan dengan Perang Badar. Bagi Robikin, pilpres merupakan pesta demokrasi biasa.

"Pengandaian Pilpres sebagai perang adalah kekeliruan. Pilpres hanya kontestasi lima tahunan. Proses demokrasi biasa. Tentu akan ada yang dinyatakan terpilih dan tidak terpilih. Itulah mengapa konstitusi maupun regulasi lain tidak menggunakan istilah 'menang' dan 'kalah'," ujar dia.



Dia kemudian menyinggung soal keislaman dari kedua paslon di Pilpres 2019. Menurut dia, tak perlu ada kekhawatiran jika salah satu paslon kalah dalam kontestasi politik tersebut.

"Jokowi Islam, Kiai Ma'ruf Amin Islam, Prabowo Islam, Sandiaga Uno Islam. Pasangan Capres-Cawapres semuanya beragama Islam. Lalu atas dasar apa kekuatiran Tuhan tidak ada yang menyembah kalau capres-cawapres yang didukung kalah? Apa selain capres-cawapres yang didukung bukan menyembah Tuhan, Allah SWT?" ujarnya.

"Tak usah berusaha mengukur kadar keimanan orang. Apalagi masih terbiasa ukur baju orang lain dengan yang dikenakan sendiri," sambungnya.

Tanggapan terhadap puisi Neno Warisman juga muncul dari tokoh muda NU Taufik Damas. Dia menilai orang yang bicara seperti Nitu tidak pernah belajar tauhid dengan benar.

"Mengancam Tuhan, itu karena dia nggak pernah belajar tauhid dengan baik dan benar. Kalau orang belajar tauhid dengan benar, dia nggak mungkin," kata Taufik di Hotel Alila, Pecenongan, Jakarta Pusat.

"Bagaimana mungkin kita yang lemah ini mengancam Tuhan? Tuhan itu tidak disembah oleh seluruh umat manusia pun tidak rugi. Tuhan itu disembah oleh seluruh umat manusia pun tidak menambah kekuasannya," imbuhnya.

Taufik menilai aneh jika seseorang mengancam Tuhan. Menurutnya, hal itu menunjukkan jika seseorang tidak berpikir berdasarkan ilmu agama.

"Emang orang-orang ini kadang-kadang aneh, karena tidak belajar tauhid yang baik dan benar. Sehingga kadang-kadang bela Tuhan hari ini, besok dia mengancam Tuhan. Itu karena cara berpikirnya itu tidak berdasarkan ilmu agama yang baik dan benar," ujar Taufik.

Sebelumnya, Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Neno Warisman, membacakan 'Puisi Munajat 212'. Potongan video saat Neno membacakan puisi itu ramai dibagikan di media sosial.

Berikut ini isi potongan puisi dari video yang beredar:

jangan, jangan Engkau tinggalkan kami
dan menangkan kami
Karena jika Engkau tidak menangkan
Kami khawatir ya Allah
Kami khawatir ya Allah
Tak ada lagi yang menyembah-Mu

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, yang juga hadir di acara itu, menyebutnya sebagai potongan doa. Menurut Fahri, doa itu tidak menyebutkan siapa pihak yang didoakan untuk menang. Fahri juga mengaku tidak tahu siapa yang dimaksud pihak yang didoakan menang di puisi Neno itu karena doa bersifat rahasia.

"Itu potongan doa, jangan diralat," kata Fahri, saat dihubungi, Jumat (22/2).

detikcom telah menghubungi Neno lewat telepon tapi belum mendapat jawaban hingga hari Sabtu (23/2). Pesan singkat kepada Neno juga belum dibalas.


(knv/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com