DetikNews
Rabu 20 Februari 2019, 22:36 WIB

Gocekan Satgas Antimafia Bola Hadapi Pertahanan Jokdri dkk

Dwi Andayani, Jefrie Nandy Satria - detikNews
Gocekan Satgas Antimafia Bola Hadapi Pertahanan Jokdri dkk Tim Satgas Antimafia Bola menggeledah kantor PSSI di gedung FX Office Tower Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (30/1/2019). (Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta - Satgas Antimafia Bola masih menyidik kasus pengaturan skor. Perkembangan terbaru, satgas yang dibentuk Polri ini menetapkan Plt Ketua Umum PSSI Joko Driyono sebagai tersangka kasus perusakan barang bukti terkait pengaturan skor.

Satgas Antimafia Bola menyita puluhan barang bukti dari apartemen Joko yang berada di Apartemen Taman Rasuna Tower 9 lantai 18 di Setiabudi, Jakarta Selatan. Barang Bukti tersebut disita saat menggeledah apartemen tersebut pada Kamis (14/2/2019).

"Bukti-bukti yang terkait menyangkut masalah pengaturan skor, yang saat ini sudah ada di satgas juga sedang diaudit. Kurang-lebih ada 75 item itu diaudit, dan nanti di-cluster-kan atau diklasifikasikan, bukti ini masuk ke match fixing di Liga 3 yang mana saja, kemudian match fixing yang ada di Liga 2 yang mana, yang di Liga 1 mungkin kalau semisal ada mana. Di-cluster-kan semuanya," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (20/2/2019).


Menurut Dedi, ada sejumlah barang bukti berupa transaksi keuangan yang disita dari apartemen Joko. Barang bukti tersebut yang nantinya akan dianalisis oleh PPATK.

"Itu semua nanti akan dievaluasi dan diasesmen oleh PPATK, dari mana sumber keuangan, mengalirnya ke mana saja, dan digunakan apa saja. Apabila nanti ada hal-hal transaksi yang mencurigakan, baru nanti dari PPATK merekomendasi kepada Satgas. Apabila nanti memungkinkan, dikenakan Undang-Undang 8 Tahun 2010 tentang TPPU, itu nanti juga menjadi sasaran dari Satgas untuk melakukan pendalaman," jelasnya.

Satgas Antimafia Bola juga menyatakan masih mendalami keterlibatan Joko dalam kasus lain, bukan hanya terkait perusakan barang bukti. Untuk mendalami kasus perusakan barang bukti dan pengaturan skor, mereka menggandeng Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

"Ya masih didalami dalam pemeriksaan lanjutan, kan belum selesai," ujar Dedi saat dihubungi detikcom, Selasa (19/2).


Polisi sempat menyita uang Rp 300 juta dari apartemen Joko. Dari jumlah tersebut, Rp 160 juta disebut polisi diduga terkait kasus suap pengaturan skor. Namun dia tak menjelaskan detail uang yang diduga suap dan disita dari apartemen Joko itu berasal pihak mana.

Joko sendiri akan menjalani pemeriksaan lanjutan pada Kamis (21/2). Pemeriksaan akan digelar di Mapolda Metro Jaya pukul 10.00 WIB.

Joko diduga melakukan tindak pidana pencurian dengan pemberatan dan/atau memasuki dengan cara membongkar, merusak, atau menghancurkan barang bukti yang telah dipasangi garis polisi oleh penguasa umum. Lokasi yang telah dipasangi police line yang dimaksud adalah kantor Komisi Disiplin (Komdis) PSSI.

Joko terancam Pasal 363 KUHP dan/atau Pasal 265 KUHP dan/atau Pasal 233 KUHP dengan ancaman penjara 2 tahun 8 bulan dan 4 tahun.

Ia diduga sebagai aktor intelektual perusakan barang bukti. Kepada polisi, Joko mengakui memerintahkan anak buahnya mengambil dan merusak barang bukti.
(zak/gbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed
>