DetikNews
Senin 18 Februari 2019, 21:40 WIB

Herannya Jokowi Serangan di Debat Berujung Laporan

Tim detikcom - detikNews
Herannya Jokowi Serangan di Debat Berujung Laporan Joko Widodo (Foto: dok. Twitter KSP)
Jakarta - Pernyataan capres Joko Widodo (Jokowi) mengenai lahan Prabowo Subianto di Aceh dan Kalimantan Timur saat debat dianggap sebagai upaya menyerang secara personal. Pernyataan Jokowi itu dianggap kubu Prabowo tak ada kaitannya dengan substansi debat.

"Mengapa dalam debat yang tidak ada urusan dengan itu kemudian dikemukakan. Jadi ini etika seorang pemimpin dan saya kira masyarakat pahamlah yang begini-begini tuh nggak laku lagi," kata Direktur Materi dan Debat BPN Prabowo-Sandi, Sudirman Said.


Awalnya Jokowi menyinggung bagi-bagi sertifikat tanah kepada rakyat. Prabowo menanggapi pernyataan Jokowi dengan menyebut bagi-bagi sertifikat tidak relevan pada saat jumlah penduduk terus bertambah, sedangkan tanah luasnya tetap.

Kemudian Jokowi menyampaikan, sertifikat yang dibagikannya bukan pada lahan-lahan yang besar. Sebab, sebelumnya Prabowo menyindir apa yang dilakukan Jokowi berdampak pada tiadanya lahan bagi anak-cucu kelak.

"Kita tidak memberikan kepada yang gede-gede," ucap Jokowi.


"Saya tahu Pak Prabowo memiliki lahan yang sangat luas di Kalimantan Timur sebesar 220 ribu hektare, juga di Aceh Tengah 120 ribu hektare. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa pembagian-pembagian seperti ini tidak dilakukan masa pemerintahan saya," imbuhnya.

Tak terima ucapan Jokowi tersebut, Tim Advokasi Indonesia Bergerak kemudian melaporkannya ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Jokowi dianggap menyebarkan fitnah.

"Kami melaporkan, satu, dalam hal ini Pak Jokowi, terkait dengan apa yang telah beliau sampaikan semalam pada saat debat capres kedua di Hotel Sultan Jakarta, bahwa yang beliau sampaikan itu lebih pada menyerang pribadi, pada fitnah," ujar anggota Tim Advokasi Indonesia Bergerak, Djamaluddin Koedoeboen, yang juga merupakan pendukung Prabowo, di kantor Bawaslu, Senin (18/2).


Dalam laporannya itu, Djamal melampirkan sejumlah barang bukti berupa print out berita media online dan rekaman pada saat debat berlangsung. Menurutnya, pernyataan Jokowi itu menyerang personal Prabowo.

"Intinya adalah bahwa dugaan fitnah atau kebohongan capres 01 ini lebih pada menyampaikan bahwa Pak Prabowo Subianto mempunyai atau punya lahan atau kepemilikan tanah seluas 220 ribu hektare di Kalimantan Timur dan 120 ribu hektare lagi di Aceh Tengah. Itu adalah sebuah statement yang menyerang personal secara pribadi," kata Djamal.

Herannya Jokowi Serangan di Debat Berujung LaporanPendukung Prabowo melaporkan Jokowi ke Bawaslu. (Dwi Andayani/detikcom)
Terkait pelaporan tersebut, Jokowi menanggapi santai. Dia menyatakan tidak usah ada debat saja apabila sampai dilapor-laporkan.

"Debat yang lalu saya dilaporkan. Kalau debat dilapor-laporin, nggak usah debat saja, ha-ha-ha.... Debat kok dilaporkan, gimana?" ujar Jokowi di Tangerang, Banten, Senin (18/2).


Bawaslu menyebut undang-undang tidak mengatur larangan capres-cawapres melakukan penyerangan pribadi pada saat debat. Namun Bawaslu menyatakan hal ini diatur dalam peraturan atau tata tertib debat.

"Aturan debat itu kan ada, bukan di undang-undang. Untuk menyerang pribadi misalnya itu kan ada di dalam aturan debat yang dibuat oleh KPU," ujar anggota Bawaslu, Fitz Edward Siregar, di kantor Bawaslu, Senin (18/2).


Menurut Fritz, tidak ada sanksi yang dapat diberikan bila paslon melanggar aturan. Namun Fritz mengatakan hal ini dapat menjadi perhatian KPU untuk memperhatikan aturan dalam debat ketiga.

"Itu sanksinya bukan sanksi hukum sih, cuma sanksi etika. Atau mungkin bisa apa ya nanti bisa menjadi menjadi concern KPU, dasar kita persiapkan untuk di debat ketiga," tuturnya.

Fritz mengatakan Undang-Undang Pemilu melarang peserta pemilu menyebarkan ujaran kebencian serta penghinaan dalam kampanye. Hal ini tercantum pada Undang-Undang No 7 Tahun 2017 Pasal 280 tentang Pemilu.
(rna/nvl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed