DetikNews
Sabtu 16 Februari 2019, 12:55 WIB

BPN Prabowo: Track Record Indomatrik Bagus, Hasil Surveinya Akurat

Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
BPN Prabowo: Track Record Indomatrik Bagus, Hasil Surveinya Akurat Foto: Habiburokhman (Dok. Pribadi).
Jakarta - Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin menuding hasil survei Indomatrik merupakan suruhan dari kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga memberi pembelaan untuk lembaga riset yang dipimpin Husin Yazid itu.

"Saya merasa heran melihat respons negatif kubu TKN yang meragukan survei Indomatrik, mereka harus belajar bersikap objektif jangan sampai buruk muka cermin dibelah," ungkap juru bicara BPN Prabowo-Sandiaga, Habiburokhman kepada wartawan, Sabtu (16/2/2019).

Menurut Habiburokhman, Indomatrik merupakan lembaga survei yang memiliki rekam jejak bagus. Dia lalu mengungkit survei Indomatrik soal Pilgub DKI 2017 yang disebut hasilnya sesuai.

"Setahu saya Indomatrik bukan lembaga survei kemarin sore, mereka punya track record cukup bagus. Hasil penelusuran kami menunjukkan pada Pilgub DKI 2017 terbukti survei mereka soal siapa yang lebih unggul antara Ahok-Djarot dan Anies Sandi. Lebih akurat dibandingkan Charta Politika," ujar Habiburokhman.


Politikus Gerindra ini menyebut, Indomatrik merilis survei Anies-Sandiaga unggul dibanding Basuki T Purnama alias Ahok-Djarot Saiful Hidayat. Habiburokhman mengatakan, survei Indomatrik terbukti akurat.

"Saat itu Indomatrix mempresentasikan data jika Anies -Sandi unggul, sementara Charta Politica sebaliknya. Padahal survei Charta dilakukan lebih dekat dengan masa pencoblosan 19 April 2017 yaitu pada 7-12 April 2017 dibandingkan dengan survey Indomatrix yang dilaksankan pada 1-8 April 2017. Faktanya saat pencoblosan Anies-Sadi lebih unggul. Survei Indomatrik terbukti akurat," tuturnya.

Survei Indomatrik menyebut elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sebesar 47,97% dan Prabowo-Sandiaga 44,04%. Survei dilakukan pada 21-26 Januari 2019, dengan jumlah sampel 1.800 responden dan margin of error +/- 2,8% pada tingkat kepercayaan 95%. Responden yang terpilih diwawancarai lewat wawancara tatap muka.

Habiburokhman mengatakan hasil survei Indomatrik menjadi pemicu bagi pihaknya untuk bekerja lebih keras lagi memenangkan Prabowo-Sandiaga. Ia meyakini Prabowo-Sandiaga akan memenangkan Pilpres 2019.

"Selisih antara Prabowo dan Jokowi yang sudah sangat tipis tentu akan kami jadikan pemicu untuk lebih keras lagi bekerja di Grass Root. Kami yakin bahwa mayoritas rakyat Indonesia benar-benar menginginkan perubahan. Sepanjang kami terus bekerja keras dan kecurangan tidak terjadi, Insyallah Prabowo Presiden baru," ucap Habiburokhman.

Seperti diketahui, survei Indomatrik menjadi sorotan karena mengungkap selisih Jokowi-Ma'ruf dengan Prabowo-Sandiaga tipis, yakni hanya 3,93%. TKN Jokowi-Ma'ruf menduga Indomatrik merupakan survei pesanan untuk menguntungkan Prabowo-Sandiaga, apalagi survei Indomatrik berbeda dengan hasil survei-survei lembaga lainnya.

Lembaga survei ini juga menjadi sorotan lantaran sang Direktur Risetnya, Husin Yazid pernah bermasalah saat Pilpres 2014. Ketika itu, Yazid merupakan Direktur Eksekutif Pusat Studi Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), lembaga survei yang dituding melakukan manipulasi dan pembohongan publik.


Puskaptis merupakan satu dari 4 lembaga survei yang dipermasalahkan saat Pilpres 2014 karena diduga memanipulasi hasil quick count. Puskaptis dan tiga lembaga riset lainnya, yakni Lembaga Survei Nasional (LSN), Indonesia Research Center (IRC), dan Jaringan Suara Indonesia (JSI), memenangkan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa padahal lembaga survei lainnya merilis hasil Jokowi-Jusuf Kalla yang menang, dengan selisih angka tidak jauh dari real count KPU.

Akibatnya, Puskaptis dikeluarkan dari Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) dan dilaporkan ke polisi. Lama tak didengar, kini Yazid kembali muncul jelang Pilpres 2019.

"Tidak, tidak terdaftar. Itu yang punyanya si Yazid yang dikeluarkan dari Persepi tahun 2014. Husin Yazid dengan Puskaptis di 2014, dia kan tidak mau diaudit, diundang (untuk presentasi proses riset) juga tidak mau datang. Terus terbukti melakukan pelanggaran, kami keluarkan," ungkap anggota Dewan Etik Persepi, Hamdi Muluk, Sabtu (16/2).


Ikuti perkembangan Pemilu 2019 hanya di sini.
(elz/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed