DetikNews
Sabtu 16 Februari 2019, 11:15 WIB

Direktur Riset Indomatrik dulu Direktur Puskaptis

Audrey Santoso, Elza Astari Retaduari - detikNews
Direktur Riset Indomatrik dulu Direktur Puskaptis Husin Yazid (Foto: Istimewa)
Jakarta - Lembaga survei Indomatrik menuai kontroversi karena merilis survei elektabilitas pasangan calon di Pilpres 2019 yang hasilnya tipis antara Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Direktur Riset Indromatik Husin Yazid diketahui merupakan eks Direktur Eksekutif Pusat Studi Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), lembaga survei yang sempat bermasalah pada Pilpres 2014.

"Husin Yazid dengan Puskaptis di 2014, dia kan tidak mau diaudit, diundang (untuk presentasi proses riset) juga tidak mau datang. Terus terbukti melakukan pelanggaran, kami keluarkan," ungkap anggota Dewan Etik Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi), Hamdi Muluk, saat dimintai konfirmasi detikcom, Sabtu (16/2/2019).

Indomatrik sendiri merupakan lembaga survei yang tidak terdaftar di Persepi. Hamdi menyebut Yazid sudah dikeluarkan dari Persepi sejak ia bermasalah terkait survei yang dikeluarkan Puskaptis di 2014.


"Tidak, tidak terdaftar. Itu yang punyanya si Yazid yang dikeluarkan dari Persepi tahun 2014," tuturnya.

Puskaptis merupakan satu dari 4 lembaga survei yang dipermasalahkan saat Pilpres 2014 karena diduga memanipulasi hasil quick count. Pukaptis dan tiga lembaga riset lainnya, yakni Lembaga Survei Nasional (LSN), Indonesia Research Center (IRC), dan Jaringan Suara Indonesia (JSI), memenangkan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa padahal lembaga survei lainnya merilis hasil Jokowi-Jusuf Kalla yang menang, dengan selisih angka tidak jauh dari real count KPU.

Hasil prediksi 4 lembaga itu sangat melenceng jauh dari real count KPU di mana pasangan Jokowi-JK mendapat perolehan 53,15% sementara Prabowo-Hatta 46,65%. Dari 4 lembaga survei yang diduga melakukan manipulatif, Puskaptis dan IRC yang prediksinya paling melenceng.

Puskaptis memiliki perbedaan angka sebesar 5,20%, sementara IRC selisihnya 4,26%. Padahal mereka sama-sama mematok margin error +-1%. Artinya, dalam prediksi mereka, kemungkinan perbedaan data dengan real count tidak akan lebih dari 1 persen. Namun kenyataannya sangat jauh.


Terkait perihal ini, Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (PBHI) melaporkan empat lembaga survei tersebut ke polisi atas tuduhan manipulatif dalam hasil quick count 2014 dan pembohongan publik. Saat itu, Puskaptis mengaku menghabiskan dana Rp 1-1,2 M untuk melakukan riset quick count yang publikasinya dibantu oleh TvOne.

Yazid sendiri santai ketika dilaporkan ke polisi oleh PBHI. Pelaporan diregister ke Bareskrim Polri.

"Jangankan Bareskrim, mau dilaporin ke Tuhan juga gue ngadep. Nggak apa-apa, kita kan warga negara yang baik," kata Husin kepada detikcom pada 17 Juli 2014.

Nama Yazid kembali disorot setelah lembaga survei yang ia pimpin kini, Indomatrik, mengeluarkan hasil survei yang menunjukkan elektabilitas capres-cawapres di Pilpres 2019 terpaut tipis. Menurut Indomatrik, survei elektabilitas Jokowi-Ma'ruf dengan Prabowo-Sandiaga hingga akhir Januari 2019 hanya beda 3,93%. Hasil survei ini berbeda dengan lembaga-lembaga riset lainnya.


Survei Indomatrik menyebut elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sebesar 47,97% dan Prabowo-Sandiaga 44,04%. Survei dilakukan pada 21-26 Januari 2019, dengan jumlah sampel 1.800 responden dan margin of error +/- 2,8% pada tingkat kepercayaan 95%. Responden yang terpilih diwawancarai lewat wawancara tatap muka.

Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf ragu akan hasil survei Indomratik. Timses pasangan nomor urut 01 di Pilpres 2019 ini menduga Indomatrik merupakan suruhan untuk mem-framing Prabowo-Sandiaga.

"Oleh karena itu, saya kira, saya menduga kuat bahwa Indomatrik ini adalah bekerja berdasarkan drive atau disuruh atau ditugaskan atau diminta oleh kelompok politik yang berbeda dengan 01. Tujuannya adalah menciptakan framing dan opini di publik bahwa Pak Prabowo itu layak didukung karena semakin bagus trennya. Padahal sesungguhnya, faktanya, saya kira tidak demikian. Kami punya data sendiri tentang angka-angka yang soal pilpres ini," ungkap Waki Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf, Abdul Kadir Karding, Jumat (15/2).


Saksikan juga video 'Survei Indomatrik: Elektabilitas Prabowo Mulai Kejar Jokowi':

[Gambas:Video 20detik]



Ikuti perkembangan Pemilu 2019 hanya di sini.
(elz/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed